Berita > Berita

Berburu Poin Paralimpiade Tokyo 2020, Di Tengah Hiruk Pikuk Olimpiade Tokyo 2020

Selasa, 14 Mei 2019 10:27:08
1121 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa ada dua tim bulutangkis Indonesia yang saat ini sedang menyiapkan diri untuk berlaga di ajang terbesar dunia empat tahunan yang akan diadakan di kota dan tahun yang sama, yaitu Olimpiade ke-32 pada tanggal 24 Juli - 9 Agustus 2020 dan Paralimpiade ke-16 yang diadakan sesudahnya, yaitu tanggal 25 Agustus - 6 September 2020, keduanya diselenggarakan di Tokyo. 

Baik di olimpiade maupun paralimpiade, ajang bulutangkis mensyaratkan adanya poin yang harus diburu oleh peserta. Saat ini, tim bulutangkis olimpiade di bawah naungan PBSI dan tim bulutangkis paralimpik di bawah naungan National Paralympic Committee (NPC) sudah mulai melakukan perburuan poin agar dapat tampil di dua ajang akbar empat tahunan tersebut. Tim bulutangkis untuk olimpiade memulai perburuan poin di bulan April ini, yaitu dimulai pada turnamen Selandia Baru Terbuka 2019 hingga 26 April 2020. Pada saat yang sama, Tim Para-Bulutangkis juga mulai mencari poin, yang dimulai sejak 26 maret 2019 hingga 13 Februari 2020. 

Kabar baiknya, tim bulutangkis untuk Olimpiade Tokyo memberikan hasil yang baik dengan merebut 2 gelar dan 1 runner up. Tim bulutangkis untuk Paralimpiade Tokyo lebih menjanjikan lagi. Dari 3 turnamen yang sudah digelar, yaitu di Antalya-Turki (25-30 Maret 2019), Dubai-UAE (2-7 April), dan Ottawa-Kanada (7-12 Mei 2019), Indonesia mampu memborong gelar dan final, terutama untuk nomor-nomor andalan, yaitu sebanyak 15 gelar dan 3 runner up, masing-masing sebanyak 5 gelar dan 1 runner up untuk tiap turnamen. Jumlah tersebut belum dapat disaingi oleh negara lain, termasuk China yang menguntit di posisi kedua dengan 13 gelar dan India dengan 10 gelar. Hanya saja, ke-13 gelar China tersebut diperoleh hanya dari dua turnamen, karena pada turnamen di Ottawa-Kanada, China tidak hadir. 

Nomor-nomor andalan Indonesia adalah kelas SL3-SL4 (kelas untuk peserta yang bertanding dengan berdiri yang memiliki gangguan keseimbangan di bagian atas maupun bawah) serta SU5 (kelas untuk peserta yang bertanding dengan berdiri yang memiliki gangguan pada bagian anggota tubuh yang ringan seperti jempol yang hilang atau lengan tanpa fungsi), sementara China unggul di kelas kursi roda, sementara India unggul di kelas SS6 (pemain berperawakan pendek). 

Raihan 15 gelar tadi dipersembahkan ‘’hanya’’ oleh delapan pemain - yang juga meraih emas Asian Para Games tahun lalu, yaitu Harry Susanto (SU5), Leani Ratri Oktila (SL4), Khalimatus Sadiyah (SL 4), Dheva Arimusti (SU5), Dwiyoko(SL3), Fredi Setiawan(SL4), Ukun Rukaendi (SL3). Luar biasanya, Leani mendominasi raihan gelar, yaitu sebanyak 7 gelar (2 WS, 2 WD dan 3 XD) diikuti Dwiyoko (5 gelar, 3 MS dan 2 MD) serta Harry Susanto (3 gelar dari XD, semua berpasangan dengan Leani). 

Melihat raihan hasil dan gelar dari ketiga turnamen tersebut, tidak salah bila harapan meraih emas Paralimpiade pertama kalinya cukup besar, setelah bulutangkis mulai dipertandingan di Tokyo (dan direncanakan juga dipertandingan di Paralimpiade Paris 2024). 5 medali emas, cukub banyak bila dibandingkan prestasi Indonesia selama ini yang mentok di medali perunggu (David Jacob-Tenis Meja, dan Ni Nengah W-angkat besi). Oleh karena itu, alangkah baiknya jika dukungan diberikan kepada mereka, baik pemerintah (pengambil kebijakan dan penanggung dana), media, serta tak lupa Badminton Lovers, yang selama ini nyaris terfokus pada bulutangkis kategori normal yang memang memiliki sejarah panjang prestasi buat Indonesia. 

Pemerintah sudah mengambil langkah bagus dengan mendukung penuh atlet-etlet paralimpik, dengan kondisi mereka yang memiliki kekurangan, baik dengan dukungan dana selama persiapan kejuaraan, serta apresiasi yang setara dengan atlet kategori normal. Hasilnya, Indonesia berhasil meraih juara umum ASEAN Para Games 2017 di Malaysia (meski di Sea Games Indonesia tidak mampu berbuat banyak) serta Asian Para Games 2018 di posisi 5, dengan raihan emas banyak disumbangkan bulutangkis. 

Tinggal dukungan dari media dan para pecinta bulutangkis untuk mereka sehingga mereka makin semangat meraih poin dengan puncaknya, emas Paralimpiade Tokyo. Kerja sama PBSI dan NPC bisa juga dilakukan agar persiapan atletnya lebih optimal, tentu saja dengan melihat kondisi atletnya. 

Semoga para atlet berjaya baik di Olimpiade Tokyo 2020 maupun Paralimpiade Tokyo 2020. (arifzai)

Berita Berita Lainnya