Berita > Berita

Richard Nilai Taktik dan Strategi Duo Adcock Kurang Sportif

Minggu, 19 Mei 2019 19:26:15
1522 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Satu kekalahan Indonesia hari ini (Minggu, 19/5) di Nanning, China, saat melawan Inggris di laga penyisihan grup B Piala Sudirman 2019, dialami di partai kelima di sektor ganda campuran. Duet Praveen Jordan/ Melati Daeva Oktavianti yang diturunkan bertanding melawan pasangan Chris Adcock/ Gabrielle Adcock, tak berhasil memetik kemenangan.

Duet Praveen/Melati dikalahkan pasutri Chris Adcock/ Gabrielle Adcock dengan skor 17-21 san 18-21 dalam pertandingan selama 43 menit.

Walau tak berhasil menyumbangkan poin kemenangan bagi timnya, penampilan Praveen/Melati yang menempati peringkat tujuh dunia ini dinilai Susy Susanti cukup baik.

''Saya rasa penampilan mereka cukup baik, di ganda putri tadi ramai juga. Untuk ganda putra, tadi di game pertama menekan, game kedua ramai. Tapi lawan kan nggak jelek juga, lumayan penampilannya,'' ungkap Susy dalam wawancara kepada jurnalis Badmintonindonesia.org di Nanning.

Di kesempatan terpisah, Richard Mainaky, Kepala Pelatih Ganda Campura PBSI, memberikan penilaiannya atas kekalahan Praveen/Melati dari pasangan Inggris yang berada di peringkat delapan dunia ini.

Melihat peringkat kedua pasangan, mereka di peringkat yang berimbang. Begitu juga dengan rekor pertemuan kedua pasangan, saling merebut kemenangan dengan skor imbang 2-2. Duo Adcock mencatak kemenangan dalam dua pertemuan pertama di Malaysia Open 2018 dan Thailand Open 2018 dengan skor rubber game 21-18, 18-21, 21-18 dan 14-21, 21-17, 21-18. Namun pada dua pertemuan terakhir di Japan Open 2018 dan Fuzhou China Open 2018, Praveen/Melati menang straight game dengan skor 23-21 21-18 dan 21-6, 21-16.

"Kalau lihat rekor pertemuan kan imbang, memang dari awal tidak bisa diperkirakan siapa yang menang. Di game pertama Praveen/Melati unggul tapi mereka tidak bisa mengatasi masalah non-teknis yang datang dari lawan," ungkap Richard.

Beberapa kali pasangan Inggris meminta servis diulang dengan alasan belum siap menerima servis dan mereka sudah mengisyaratkan dengan mengangkat tangan. Richard juga menilai Duo Adcock sering mengulur waktu dengan meminta break dan mengganggu konsentrasi saat pasangan Indonesia hendak servis.

"Saya merasa pasangan Inggris bermain dengan taktik dan strategi yang kurang sportif dan merugikan kami. Mungkin Praveen/Melati yang terlalu polos atau bagaimana, mereka tidak pernah protes kepada wasit. Praveen mau servis dibreak terus, banyak cara-cara yang tidak fair, seharusnya ini menjadi perhatian wasit juga," beber Richard.

"Kekalahan ini memang tidak bisa jadi alasan, tapi tetap saja saya bilang bahwa pasangan Inggris pakai strategi yang tidak fair dan saya dengar ini terjadi juga dengan pemain lain di tim kami. Susy juga tadi sudah sampaikan bahwa Praveen/Melati jangan terlalu polos, kalau merasa lawan tidak sportif ya harus protes ke wasit," jelas Richard.

Terlepas dari hal non teknis ini, Richard juga mengatakan bahwa Praveen/Melati sempat lengah saat sudah memimpin perolehan skor di game pertama. Di game kedua pun Praveen/Melati unggul jauh 14-10.

"Soal ketidaksiapan antisipasi servis lawan, itu memang terjadi di game pertama. Praveen/Melati sudah coba atasi di game kedua, sudah mereka tungguin flick service lawan. Tapi lagi-lagi di poin kritis, lawan menerapkan taktik yang tidak fair menurut saya, dan ini merugikan kami," pungkas Richard.

Richard juga merasa bahwa pada pertandingan ini, Praveen/Melati tidak kalah secara teknik permainan, namun kalah dalam mengatasi strategi non-teknis yang diterapkan lawan. (*)

Berita Berita Lainnya