Berita > Artikel

Merebut Piala Sudirman 1989

Sabtu, 25 Mei 2019 10:24:08
1922 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • ©BWFBadminton.com

  • Sejarah Bulutangkis Indonesia ©PBSI, 2004

  • Current
Suasana duka melanda Keluarga Besar PBSI dan seluruh pencinta bulutangkis di Tanah Air turut berkabung ketika ''Bapak Bulutangkis Indonesia'' Drs Sudirman menghembuskan nafas terakhir pada hari Selasa tanggal 10 Juni 1986 pukul 22.00 di R.S. Pelni Jakarta. Jenazah dikebumikan di tempat peristirahatan terakhir di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, dengan mendapat perhatian besar dari kalangan olahraga, keluarga besar PBSI, dan handai taulan setta kerabat keluarga almarhum. Semuanya hanyut dalam suasana sedih dan duka yang mendalam. Seorang yang sangat dicintai, seorang yang banyak jasanya terhadap Nusa dan Bangsa telah pergi untuk selamanya menghadap Maha Pencipta. Almarhum dalam beberapa bulan terakhir mengalami gangguan tekanan darah tinggi ditambah kedua ginjalnya tidak berfungsi.

Semasa hidupnya pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, tanggal 29 April 1922 ini sudah gemar berolahraga, terutama bulutangkis. Olahraga ini ditekuninya sejak kecil tanpa melupakan pendidikan di sekolah yang dirintisnya mulai dari HIS (SD) sampai AMS (SMU) di Yogyakarta. Sudirman berlatih bulutangkis dengan sungguh-sungguh, teratur, dan penuh disiplin, hasilnya terbukti dengan meraih juara antar sekolah, kemudian pada zaman pendudukan Jepang tahun 1943 di Jakarta menjadi juara Meiji Setsu dan sampai tahun 1948 berulang kali menjadi juara di Jalarta.

Kepemimpinan dan kepiawaian Sudirman dalam menjalankan roda organisasi tidak diragukan lagi, sehingga pantas dia disebut Bapak Bulutangkis Indonesia. Berbagai karya besar yang spetakuler dan fenomenal telah lahir pada masanya guna mengangkat pamor Indonesia di dunia internasional. Diawali dengan mendirikan klub bulutangkis P.B. Bakti yang berlokasi di Cideng Timur tempat tinggalnya, bersama dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam organisasi PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) bagian bulutangkis dia melahirkan organisasi Perbad Jakarta yang dibentuk pada tanggal 15 Juli 1950. Melalui organisasi itulah Sudirman meniti karir sebagai ketua, yang merupakan anak tangga pertama sebelum diproklamirkan PBSI pada tanggal Mei 1951.

PBSI di bawah Sudirman telah bertaburan bintang-bintang yang menghiasi cakrawala Indonesia, antara lain tujuh kali direbutnya Piala Thomas dari 8 kali kejuaraan, 12 kali juara tunggal putra All England (8 kali di antaranya direbut oleh Rudy Hartono), 9 kali juara ganda putra. Juga juara-juara di berbagai turnamen lainnya.

Di kalangan bulutangkis internasional dia akrab dipanggil ''Dick'' dan bersama Suharsono Suhandinata dikenal sebagai ''Sang Pemersatu'', yaitu mempersatukan organisasi bulutangkis World Badminton Federation (WBF) dengan International Badminton Federation (IBF) yang terlaksana bulan Mei 1981, setelah melalui lobi intensif sejak 1979. Atas jasanya itu dia sempat ditawari menjadi ketua IBF tahun 1981. Tawaran itu dia tolak guna meyakinkan orang bahwa keinginannya mempersatukan WBF dan IBF sama sekali bukan untuk dirinya namun demi kepentingan bulutangkis. Secara formal dia hanyalah anggota Dewan IBF (1973 - 1975) dan wakil ketua IBF (1975 - 1983).

Dengan kondisi fisik yang semakin lemah karena gangguan kesehatan pada tanggal 29 April 1986 Sudirman masih sempat menghadiri acara penyerahan Tanda Jasa DSA (Distinguished Services Award) dan bintang emas IBF yang akan diterimanya bertepatan dengan Rapat Tahunan IBF di Hotel Borobudur, Jakarta, juga bersamaan dengan penyelenggaraan Kejuaraan Piala Thomas dan Piala Uber 1986 - sekitar dua setengah bulan menjelang akhir hayatnya.

Perjuangan Piala Sudirman
Jasad Sudirman sudah tiada. Tanah Merah dengan nisan taburan bunga-bunga sudah lama kering. Apakah namanya juga akan tenggelam begitu saja?

Pemikiran tersebut timbul di benak rekan-rekan seperjuangannya. Adalah Suharso Suhandinata, tokoh bulutangkis yang juga menjadi rekan dekat almarhum, termasuk pencetus ide untuk mengabadikan nama Sudirman dalam bentuk piala ini. Gagasan tersebut sebenarnya sudah dilontarkan pada tahun 1981 namun tidak berlanjut. Suharso yang mengirim surat pribadi kepada Ketua dan Anggota Dewan IBF disertai argumentasi yang meyakinkan tentang karya dan darma baktinya Sudirman bagi dunia perbulutangkisan. Usaha yang dilakukan oleh Subarso ini belum mendapat perhatian yang maksimal dari pihak IBF, oleh karena itu pada setiap sidang Dewan IBF untuk memperjuangkan Piala Sudirman lebih ditingkatkan, lebih intensif, sedangkan Suharso waktu itu tidak lagi Anggota Dewan IBF. Namun masih ada dua wakil Indonesia disana yaiti Justian Suhandinata (anak Suharso sendiri) dan Titus K. Kurniadi yang duduk sebagai salah satu ketua komisi, sedangkan Justian anggota Dewan (member council). Kedua orang ditugaskan memperjuangkan Piala Sudirman di meja perundingan IBF ketika organisasi ini mengadakan sidang tahunan di Seoul. Titus dan Justian berhasil dalam perjuangan ini sehingga mayoritas anggota mendukung usul Indonesia tersebut. Namun, keputusan akhir akan dibicarakan lagi dalam sidang Council IBF di Singapura tahun 1988 sebelum kontes Piala Thomas dan Piala Uber di Kuala Lumpur.

Sebenarnya format kejuaraan beregu campuran sudah dilaksanakan di Eropa dan karenanya Eropa tidak berkeberatan untuk melaksanakannya. Masalahnya, mereka akan mengusulkan agar namanya Piala Herbert Scheele. Lobi kelas tinggi pun - antara lain dengan melibatkan Suharso Suhandinata, rekan Sudirman dan rekan banyak tokoh IBF waktu itu - dilakukan sehingga akhirnya nama Scheele terhapus dan nama Sudirman yang masuk.

Di bawah adalah percskapan antara Suharso dan Ian Palmer, Presiden IBF waktu itu, ketika berjumpa di Singapura menjelabg pertemuan Council IBF, seperti tercantum dalam buku Suharso Suhandinata, Diplomat Bulutangkis.

''Ian, sekarang ada Piala Thomas untuk beregu putra dan Piala Uber untuk beregu putri, yang selalu dipertandingkan dengan semangat meluap-luap. Dua piala itu dari Eropa, kan? Jikalau dari Eropa lagi, berarti Eropa mau menguasai piala-piala yang dipertandingkan terus menerus. Akibatnya akan timbul ketidakpuasan dari negara-negara lain, terutama kawasan Asia yang begitu kuat bulutangkisnya. Dan, saya akan sangat kecewa apabila terjadi lagi perpecahan seperti dulu IBF-WBF. Saya ingin bertanya, kalau ada piala lagi, harus dari mana?'' tanya Suharso.

''Harus dari Asia,'' jawab Presiden IBF itu.

''Atas nama siapa?'' Suharso mencecar.

''Sudirman!'' Ian Palmer spontan menjawab atas ''todongan'' Suharso tersebut.

''Ada suara-suara dari anggota IBF Eropa bahwa Eropa akan mengajukan kembali orang bule. Bagaimana ini Ian?'' Suharso ingin mendapat kepastian.

''Hal itu serahkan kepada saya. Sebagai presiden saya berhak menentukan keputusan akhir,'' Ian Palmer memastikan Suharso dan Titus sambil tertawa.

Jadilah kemudian diputuskan nama kejuaraan beregu campuran adalah Piala Sudirman. Penyelenggaraan pertama dilaksanakan bersamaan dengan kejuaraan dunia di Indonesia, jadi Indonesia menjadi tuan rumah dua kejuaraan, beregu campuran dan kejuaraan dunia perseorangan. Ini terjadi tahun 1989.

Pelaksanaan Kejuaraan Piala Sudirman
Setelah IBF menyetujui dipertandingkannya Piala Sudirman, kini timbul masalah kapan diselenggarakannya mengingat perebutan Piala Thomas/Uber dan Kejuaraan Dunia sudah dijadwalkan setiap 2 tahun sekali. Beberapa praktisi IBF berpendapat bahwa kejuaraan dunia yang telah berlangsung itu tidak efektif mengingat jumlahnya semakin bertambah sedangkan pertandingannya berlaku sistem gugur, artinya sekali kalah seorang pemain langsung masuk kotak tinggal menjadi penonton, padahal mereka telah datang setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer jauhnya dengan menghabiskan biaya tidak sedikit.

Berdasarkan pertimbangan itulah banyak anggota IBF menyarankan agar penyelenggaraan Piala Sudirman digabung bersamaan dengan Kejuaraan Dunia Perorangan yaitu dua tahun sekali. Bagi peserta secara ekonomis lebih menguntungkan, mereka datang sekaligus untuk dua kejuaraan. Rapat Dewan IBF tahun itu juga di Singapura merumuskan rancangan peraturan pertandingan tersebut, yang akan diajukan dalam rapat tahunan IBF berikutnya di Kuala Lumpur (1988). Dalam rapat tahunan yang berlangsung di tengah-tengah Kejuaraan Dunia Beregu Campuran akan diadakan 24-28 Mei 1989 sebelum dan bersambungan dengan Kejuaraan Dunia Perorangan. Namanya pun resmi Piala Sudirman dan tawaran PBSI untuk menyumbangkan Piala tersebut kepada IBF diterima dengan aklamasi. Pelaksanaan kejuaraan secara teratur dua tahun sekali, dengan format lima partai, satu tunggal putra, satu tunggal putri, satu ganda putra, satu ganda putri, dan satu ganda campuran.

Dengan pengesahan IBF di Kuala Lumpur tersebut, maka terpancanglah satu tonggak lagi, dalam sejarah bulutangkis Internasional, dan kali ini dengan mengabadikan nama salah seorang putra terbaik Indonesia ''Sudirman''.

Proses Pembuatan Piala
Di Jakarta PBSI segera membentuk Panitia Dewan Juri Sayembara Desain Piala Sudirman berdasarkan SK PB PBSI tanggal 26 Oktober 1988 dengan Titus K. Kurniadi sebagai ketua, merangkap anggota (unsur PBSI), Umar Sanusi menjadi sekretaris, merangkap angoota (unsur PBSI), Drs Wik Djatmiko (anggota, unsur KONI Pusat), Drs Tjuk Sugiarto (anggota, unsur Depdikbud), Hanafi M. Saud (anggota, unsur Menpora), dan Johanes Nayadi (anggota, unsur artis).

Panitia mengumumkan adanya sayembara membuat Piala itu pada jumpa pers pada tanggal 3 September 1988. Peminat sayembara banyak. Tercatat 207 peserta dengan sejumlah 217 desain dari 20 propinsi. Panitia dalam menilai karya-karya peserta sayembara membuat kriteria penilaian yang meliputi unsur-unsur :
a. Tematik, yaitu nilai keselarasan Filosofis.
b. Estetik, yaitu nilai artistik sebagai hasil karya seni rupa.
c. Etik, yaitu nilai kepantasan dan keindahan.
d. Teknik, yaitu nilai pembuatan yang serasi.

Dari 217 desain dan 270 desa, Panitia telah mengadakan babak Prakualifikasi dengan memilih 35 unggulan yang kemudian diserahkan kepada dewan juri untuk memilih 10 terbaik, dan dari unggulan tersebut Dewan Juri menentukan 1 desai terbaik. Pada Sidang Dewan Juri tanggal 2 November 1988 telah menentukan pilihan sebagai desain terbaik jatuh kepada peserta nama Rusnandi, mahasiswa jurusan seni rupa ITB, dengan catatan agar diadakan sedikit modifikasi bentuk. Perubahan ini atas saran dari Dewan Juri.

Pembuatan piala dipercayakan kepada PT Master Sik Bandung dengan biaya Rp. 27 juta yang ditanggulangi oleh Gabungan Pengusaha Farmasi Seluruh Indonesia (GPFSI) sebagai penghargaan kepada Sudirman yang menjadi Bapak Farmasi Indonesia.

Setiap bentuk pada Piala Sudirman mempunyai arti tersendiri, secara garis besar terbagi dalam lima kelompok, yaitu :
1. Bagian Puncak dilambangkan oleh bentuk Candi Borobudur yang berarti karya manusia sangat tinggi.
2. Bagian kedua dimanisfestasikan ke dalam bentuk shuttlecock yang mempunyai arti, bulutangkis berkaitan dengan teknologi yang berkembang.
3. Pegangannya diwujudkan dalam bentuk benang sari, yang berarti bulutangkis, berkaitan dengan faktor alam.
4. Bagian ornamen berbentuk daun sirih yang bermakna perlambang sukacita dan ucapan selamat datang.
5. Bagian dasar berbentuk segi delapan, yang berarti perlambang dari 8 penjuru angin yang mempunyai sumbu kekuatan.

Makna keseluruhan dari Piala Sudirman adalah dalam menciptakan karya manusia yang terbesar dalam olahraga bulutangkis tidak dapat lepas dari perpaduan unsur kekuatan alami dan kemajuan teknis.

Indonesia Juara
Kejuaraan pertama dilangsungkan bersamaan dengan kejuaraan dunia perseorangan, dengan kejuaraan Piala Sudirman dilaksanakan lebih dahulu. Ikut serta 28 megara, dengan enam tim menduduki teratas yang berhak atas Piala itu. Enam negara itu adalah Indonesia, Cina, Korea Selatan, Inggris, Denmark, dan Swedia. Keenam negara ini terbagi atas dua grup. Grup A ditempati Indonesia, Inggris, dan Korsel, sedangkan grup B terdiri dari Denmark, Cina, dan Swedia. Dua tim terbawah akan bertarung untuk menghindarkan degradasi

Indonesia menjadi juara grup A setelah mengalahkan Inggris 5-0 dan Korsel 4-1. Inggris menjadi juru kunci karena kalah 0-5 dari Korsel. Di grup B Cina menjadi juara setelah menghancurkan Denmark 5-0 dan Swedia 4-1. Swedia menjadi juru kunci karena kalah 2-3 dari Denmark. Dalam perebutan posisi untuk tidak menjadi juru kunci, Swedia kalah dan harus degradasi ke divisi II. Dari divisi II yang menjadi juara adalah Jepang, sehingga pada kejuaraan berikutnya masuk ke divisi I.

Di semifinal Indonesia mengalahkan Denmark dengan 5-0, sedangkan Korsel menang tipis 3-2 atas Cina. Indonesia pun bertemu Korsel di final

Final tanggal 29 Mei mendebarkan penonton yang memadati Istora. Indonesia langsung ketinggalan karena dua ganda yang turun pertama, tidak berkutik terhadap sergapan-sergapan pasangan Korsel. Eddy Hartono/Gunawan menyerah 9-15, 15-8, 13-15 dan Verawaty Fajrin/Yanti Kusmiati kalah 12-15, 16-15 dari Hwang Hye-young/Chung Myung-hee. Harapan kini tinggal di pundak Susy Susanti, yang ketika itu sedang menaik prestasinya.

Namun, penonton harus lebih banyak tertegun
Setelah set pertama unggul 10-2, tiba-tiba Susy seperti kehilangan kendali. Lawannya, Lee Young-suk mulai bangun dan satu demi satu angka didapat. Setelah deuce Susy kalah 10-12. Harapan penonton benar-benar sirna ketika pada set kedua, Susy banyak membuat kesalahan dan kemudian tertinggal 1-10. Satu angka lagi, terbanglah piala itu ke Seoul. Ternyata yang dikhawatirkan tidak terjadi. Susy pelan-pelan mulai menemukan bentuk permainan aslinya. Dengan sabar dia meladeni permainan lawan dan satu per satu angka diperoleh. Ditingkah suara pelatih yang keras menghardik dari pinggir lapangan, Young-suk malah makin keteter. Setelah menyamakan 10-10, Susy menang 12-10.

Waktu istirahat lima menit dipergunakan Susy sebaik-baiknya untuk mengevaluasi diri. Di kamar ganti lain, pelatih Korsel malah menghajar Young-suk dengan hardikan dan bahkan tamparan. Akibatnya ketika tampil lagi, dia sudah tidak berdaya dan kalah 0-11. Posisi Indonesia - Korsel kini 1-2.

Eddy Kurniawan kini tampil menghadapi Han Kok-sunh. Tanpa banyak kesulitan, Eddy menang 15-4, 15-3. Penentuan kini pada Eddy Hartono/Verawaty dan Park Joo-bong/Chung Myung-hee. Eddy Hartono/Verawaty ternyara bisa membuat penonton Istora berteriak dan bertepuk tangan gembira. Mereka menang 18-13, 15-13. Verawaty langsung bersujud di pinggir lapangan, bersyukur dirinya menang dan piala itu tidak direbut negara lain. Piala Sudirman pun pada pertama kali diperebutkan ini tidak terbang kemana-mana. Ian Palmer menyerahkan Piala kepada Try Sutrisno. (PBSI)

Sumber:
Sejarah Bulutangkis Indonesia ©PBSI


Berita Artikel Lainnya