Berita > Artikel

Strategi, Strategi dan Strategi (Bagian Kedua)

Senin, 27 Mei 2019 18:05:42
3803 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Sangat menyayangkan strategi yang dibuat tim Indonesia pada semifinal Piala Sudirman 2019 hari Sabtu (2/5) lalu. Sudah sangat jelas tim Indonesia kalah di sektor ganda putri dan tunggal putri dari Jepang, tapi malah menggunakan Order of Play (OOP) yang standard.

Harusnya situasikan agar ganda campuran (XD) main lebih dulu, yaitu Praveen Jordan/ Melati Daeva Oktavianti karena secara head to head (H2H) mereka unggul dari Yuta Watanabe/ Arisa Higashino. Lalu berikutnya, tunggal putra (MS) dan ganda putra (MD), yakin at least kita sudah unggul 2-1 duluan. Syukur-syukur bisa langsung 3-0. Finishing tinggal Gregoria dan ganda putri (WD) bisa Melati/Apriyani Rahayu atau Melati/Greysia Polii. Next, strategi penentuan OOP lebih smart seperti ini perlu diperhatikan.

Dalam pertandingan beregu itu jangan hanya mengandalkān kekuatan tim saja tapi harus ada atur strategi. Itu sudah dicoba benerapa negara dan banyak yang berhasil. Dengan OOP yang kemaren kita hanya berharap miracle dari WS dan WD. Khususnya WD karena H2H-nya ketinggalan jauh dengan WD Jepang.

Kalau tidak merangkapkan Melati/Apri, kan bisa juga merangkapkan Kevin dengan Greysia. Yakin pasti mereka bisa melibas Yuta/ Arisa karena skill dan mental Kevin gak usah diragukan lagi. Dulu, saat di Indonesia Open 2014 pasangan Duo ZZ (Zhang Nan/Zhao Yunlei) saja dihajar Kevin/Greysia. Padahal Kevin/Greysia baru dipasangkan, sedangkan kita tau bagaimana ganasnya Duo ZZ sebagai XD No 1 pada saat itu.

Harusnya belajar dari pengalamanlah dalam atur strategi jangan standard. Lihat bagaimana Inggris melibas Denmark? Bukan karena Inggris lebih hebat atau baik secara materi pemain tapi karena strateginya smart.

Dengan kreativitas strategi maka lawan tidak bisa membaca kekuatan kita. Satu lagi yang sangat disayangkan juga, kenapa hanya membawa 1 pasangan WD saja, sehingga calon lawan sudah sangat faham bagaimana harus menghadapi WD kita. Lihat Jepang yang bawa 3 pasangan WD-nya dan selalu gonta-ganti pasangan di fase beregu sehingga lawan sulit menebak WD yang kita turunkan.

Sometime gamblins is needed in the games.

Diluar catatan strategi di atas, catatan kecil lain buat Gregoria (Jorji), sebenarnya selama ini saya berharap banyak sama dia tapi belakangan justru tren-nya menurun cenderung stagnan. Sepertinya, pelatih perlu sembuhin error-nya. Masa 1 game bisa 9 sampai 11 error-nya. Ibaratnya lawan cuma butuh 10 poin murni yang fight. Selebihnya hasil error-nya Jorji.

Kamu memang masih muda Jorji, tapi segeralah berbena, kalau tidak kamu akan semakin tenggelam. Pesan untuk pelatih selain perhatikan fisik dan sembuhin error, biasakan pemain cepat adaptasi di lapangan. Jangan sampai ketinggalan 5 poin dari lawan karena susah ngejarnya. Menurut pengamatan saya kok jadi hal yang biasa bila pemain kita ketingalan 5 sampe 10 poin di awal-awal game. (Koreksi kalau salah). Pemain berbakat seperti Jorji dan Ginting perlu lebih konsultasi secara mental karena sering banget ketinggalan di game awal. Ujung-ujungnya susah ngejar dan akhirnya 'tewas'. Di game kedua lawan semakin pede, nah kita berusaha bangkit tapi sudah susah. Jadi harus lebih yakin di awal-awal game. Fight jangan kasih kendor. (Ringgo)

Berita Artikel Lainnya