Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Kritik, Kritik dan Kritik

Jumat, 31 Mei 2019 16:17:40
2555 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Kritikan tajam dari Sang Maestro memunculkan berbagai reaksi dari kalangan pelaku dan pecinta bulutangkis. Kerinduan para pelaku dan pecinta bulutangkis akan hadirnya piala-piala lambang supremasi bulutangkis (Thomas, Uber, Sudirman, Suhandinata Cup) sangat terasa.

Bukan kali ini saja, kritikan dan cuitan kecewa dari para pelaku dan pecinta bulutangkis muncul secara serempak bak jamur di musim hujan selepas event beregu (Piala Sudirman) usai dilaksanakan dan Indonesia gagal (lagi) membawa lambang-lambang supremasi tersebut.

Secara bergantian para pelaku bulutangkis yang kini menjadi legenda mengkritisi secara keras dan tajam terhadap performa para punggawa tim Indonesia yang diaminkan oleh para pecinta bulutangkis. Seolah menghadirkan kembali hegemoni kejayaan Indonesia di masa lampau, kenangan pahit dan manis saat berjuang dan merengkuh berbagai lambang supremasi tertinggi bulutangkis. Sebuah nostalgia yang indah bagi anak cucu mereka yang diharapkan akan dapat diteruskan. Tidaklah salah adanya, artinya itu adalah bentuk kepedulian mereka terhadap bulutangkis.

Belakangan ini kritikan keras dan tajam terpaparkan oleh salah satu legenda kita. Menjadi kontroversi karena sudah bukan lagi kritikan yang sifatnya normatif seperti banyak kritikan yang sebelumnya. Kritikan kali ini lebih tajam dan terarah sehingga memicu pro dan kontra bagi banyak kalangan pelaku dan pecinta bulutangkis.

Naik turunnya sebuah prestasi adalah bagian dari dinamika bulutangkis dunia, termasuk Indonesia. Kritikan dan pujian bagaikan dua sisi mata uang yang akan selalu mengiringi perjalanan bulutangkis Indonesia. Lantas, sudah tepatkah kritikan yang dilontarkan? Bagaimana seharusnya Indonesia melangkah untuk menyongsong hari esok?

Semoga tantangan dari Sang Maestro bisa dijawab sesegera mungkin. (Adigung)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya