Berita > Berita

Susy Ungkap Perbaikan Tunggal Putri Masih Akan Makan Waktu Yang Tak Sebentar

Selasa, 25 Juni 2019 06:12:50
5159 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Saat ini sektor tunggal putri menjadi sektor yang belum berhasil menempatkan atlet-atletnya berada di sepuluh besar dunia. Ini bisa dilihat pada peringkat yang dikeluarkan Badminton World Federation (BWF) pada pekan terakhir (18/6), dimana 4 sektor lainnya (tunggal putra, ganda putra, ganda putri dan ganda campuran) ada pebulutangkis Indonesia bercokol di 10 besar dunia.

Namun, tidak demikian dengan sektor tunggal putri Indonesia. Peringkat terbaik tunggal putri andalan Indonesia ditempati Gregoria Mariska Tunjung pada peringkat 13 dunia. Menyusul di bawahnya Fitriani dan Ruselli Hartawan yang berada di peringkat 30 dan 38 dunia.

Kehadiran Rionny Mainaky sebagai kepala pelatih tunggal putri bersama Minarti sebagai asisten, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan prestasi Gregoria dan kawan-kawan.

Capaian sektor tunggal putri ini menjadi pe-er terberat Susy Susanti sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI dibanding empat sektor lainnya di Pelatnas Cipayung. Diungkapkan Susy bahwa hingga saat ini PBSI masih berjuang untuk mengejar ketertinggalan tim tunggal putri.

"Saat ini tunggal putri yang harus ekstra kerja keras, makanya kenapa saya bawel ngomong terus, bukan menganakemaskan tunggal putri, tapi saya mau memacu semangat mereka. Saya bilang 'saya nggak terima, lho. Kita tuh bisa, bukannya nggak bisa, walaupun cuma satu orang, tapi bisa'. Bagaimana caranya menemukan yang satu orang ini," ungkap Susy saat wawancara di Pelatnas Cipayung, Senin (24/6).

"Kami berharap di Gregoria, tapi dia masih on-off begitu, kadang bagus, kadang dia kalah dengan dirinya sendiri. Kurang jaga badan, dia harus disiplin sama diri sendiri. Kalau tidak bisa jaga kondisi dampaknya apa? Latihannya kepotong, sudah naik, turun lagi, bagaimana mau ke atas, kalau sudah mulai naik, sakit, nanti sudah naik lagi, sakit lagi, kan susah," ujar Susy, demikian kami kutip di laman resmi PBSI.

Selain itu, Susy juga mengungkapkan beberapa pemain yang sudah memiliki persiapan begitu bagus di latihan, namun tidak bisa mengeluarkan kemampuannya saat bertanding.

"Sudah, tidak usah memikirkan apa-apa, nekad dulu di lapangan. Sampai saya bercandain, apa perlu dikasih daging macan ya biar galak? Ha ha ha. Jangan kelemer-kelemer, memang kita ini putri Timur, tapi kalau di lapangan kan bukan putri Timur lagi. Di depan kalian itu musuh, lho, harusnya berpikir, dia atau saya yang mati? Harusnya berpikir seperti perang, kalau kita tidak melawan, ya kita yang akan mati. Itu yang kami terapkan, saya sendiri juga gemas," tutur Susy.

Hal-hal yang terlihat sepele, dikatakan Susy adalah hal yang terkadang menentukan karakter pemain. Kebiasaan-kebiasaan pemain yang terlalu pasrah bisa menjadi hambatan di lapangan, membuat si pemain dinilai kurang memiliki daya juang yang lebih.

"Di lapangan itu harus kejar bola ke manapun, mungkin ini sepertinya sepele, tapi kan kebiasaan. Mungkin sudah terbiasa 'ya sudah lah". Nggak bisa kayak gitu kan, makanya mindset-nya harus diubah, sikapnya diubah," ujar peraih medali emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 ini.

Perbaikan di tunggal putri, dituturkan Susy masih akan memakan waktu yang tak sebentar. Dari target seratus persen, kini progress tunggal putri masih ada di tingkat 20-30 persen.

"Ya, masih 20-30 persen, bahkan belum setengahnya. Salah satunya memang kurangnya materi pemain putri, kan bisa dilihat sendiri. Tunggal putri sekarang kalau lagi bagus, lalu sakit, bagus lagi, sakit lagi," ujar Susy.

"Sambil kita cari, kalau yang atas nggak bisa, ya cari di yang bawahnya. Tapi kan nggak bisa instan, butuh proses. Kami berusaha kerja keras, sampai berpikir terus, bagaimana caranya. Cari pemain yang petarung, bukan yang 'ya sudah lah'. Menang kalah nggak ada urusan, itu belakangan. Bagaimana dia berani dulu, ngelawan," pungkas Susy.

Diakui Susy menemukan pemain yang memiliki potensi dan kemauan memang tidaklah mudah. Ada pemain yang memiliki potensi, tapi tidak memiliki kemauan dan sebaliknya. Ia pun mengatakan sudah banyak memberikan masukan, nasihat dan bimbingan ke atlet, namun kembali lagi, si atletlah yang akan menentukan nasibnya sendiri dan menjadi ujung tombak dalam menentukan prestasinya. (*)

Berita Berita Lainnya