Berita > Artikel

Komitmen Yang Tak Pernah Putus, Arahkan Putra-Putri Indonesia Ke Jalan Prestasi

Rabu, 06 November 2019 12:43:17
2040 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Bulutangkis sebagai salah satu olahraga yang sangat digemari masyarakat Indonesia sudah berulangkali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Prestasi gemilang yang diraih olahraga bulutangkis sudah dimulai sejak 1960-an sampai saat ini. Walaupun tidak dapat dipungkiri prestasi yang diraih bulutangkis juga sempat mengalami masa pasang-surut.

Keberhasilan tim bulutangkis Indonesia meraih piala atau gelar juara di berbagai ajang internasional tidak lepas dari adanya usaha yang konsisten dan terarah dalam mempersiapkan talenta-talenta terbaik sejak usia dini. Agar di masa depan, olahraga ini dapat tetap mengukir prestasi dan mengharumkan nama Indonesia di seluruh dunia. Selain memberikan perasaan bangga dengan berbagai gelar juara yang diraih oleh atlet, prestasi yang diraih dapat menjadi simbol nasionalisme bagi masyarakat Indonesia dan juga menimbulkan perasaan cinta terhadap tanah air.

Sejarah bulutangkis di Indonesia sudah tercatat lama. Ada yang memperkirakan, bangsa Indonesia sudah mengenal bulutangkis sejak tahun 1930-an. Saat itu, bulutangkis dinaungi oleh Ikatan Sport Indonesia (ISI). Bulutangkis semakin berkembang pasca-kemerdekaan. Pada 1947, di Jakarta, berdiri persatuan bulutangkis bernama Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI). Lalu pada 5 Mei 1951, terbentuklah Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Era 1960-an hingga 1970-an boleh disebut sebagai era kejayaan bulutangkis Indonesia. Pada zaman itu muncul legenda besar atlet bulutangkis: Rudy Hartono. Namanya tercatat di Guiness Book of World Records sebagai pemegang rekor All-England. Rudy Hartono merebut juara All England sebanyak delapan kali. Tujuh kali berturut-turut, yaitu dari 1967 hingga 1974. Kemudian menang lagi tahun 1976. Saingan terdekatnya, Erland Kops, meraih juara 7 kali. Kesuksesan Rudy Hartono dilanjutkan Liem Swie King, yang menjadi juara tahun 1978, 1979, dan 1981.

Pada 2000-an hingga sekarang, bulutangkis Indonesia dianggap memasuki masa surut. Sejak 2004 sampai dengan sekarang, kontingen Indonesia tak pernah lagi membawa pulang Piala Thomas dan Piala Uber. Di ajang All England, prestasi atlet bulutangkis Indonesia juga meredup. Prestasi yang paling ambruk adalah nomor tunggal, putra maupun putri. Setelah era Taufik Hidayat, Marleve Mainaky, dan Hendrawan, Indonesia nyaris tidak punya lagi unggulan tunggal putra yang mendunia. Apalagi di tunggal putri, bintang terakhirnya adalah Susi Susanti dan Mia Audina.

Mulai bangkit, tahun 2016 lalu, tim bulutangkis Indonesia kembali mengukir prestasi yang sangat membanggakan. Bulutangkis Indonesia berhasil meraih medali emas dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya di kancah internasional. Saat itu para atlet bulutangkis Indonesia berhasil merebut medali emas di nomor ganda campuran pada ajang Olimpiade Rio 2016. Raihan medali emas di Olimpiade Rio 2016 ditorehkan oleh atlet ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Dominasi atlet Indonesia cabang bulutangkis yang saat ini sudah tidak lagi merata di semua nomor menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah dan semua pihak terkait. Baik itu induk organisasi yang menaungi olahraga bulutangkis, pihak swasta yang memiliki perhatian terhadap cabang olahraga bulutangkis, dan tentunya masyarakat Indonesia yang gemar akan cabang olahraga ini.

Dewasa ini banyak persoalan yang harus dihadapi oleh dunia bulutangkis Indonesia. Mulai dari lambatnya proses regenerasi atlet, kepengurusan pusat induk organisasi, sampai dengan bulutangkis yang rupanya tidak lagi menjadi “olahraga rakyat”, yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Saat ini semakin jarang terlihat anak-anak di berbagai pelosok kampung memainkan bulutangkis.

Faktor lain yang dapat menjadi penyebab menurunnya dominasi atlet bulutangkis Indonesia adalah meningkatnya prestasi atlet bulutangkis yang berasal dari negara lain. Selain persaingan ketat dengan negara-negara lain yang memiliki tradisi olahraga bulutangkis yang kuat seperti; China, Malaysia, Denmark, kini negara-negara lain dengan tradisi bulutangkis yang tidak terlalu kental pun mulai menunjukkan peningkatan prestasi di sektor putra dan putri. Negara seperti Thailand, Korea, bahkan India sudah mulai menjadi ancaman bagi negara yang sudah dapat dikatakan mapan dalam prestasi bulutangkis, seperti Indonesia.

Sejarah membesarnya popularitas dan prestasi olahraga bulutangkis di Indonesia sendiri dikenal berawal dari suatu kegiatan rekreasi untuk karyawan setelah meyelesaikan kegiatan bekerja. Bulutangkis pada 1969 menjadi pilihan cabang olahraga untuk dimainkan oleh mayoritas karyawan PT Djarum di Indonesia, sebab dianggap praktis dan relatif murah. Robert Budi Hartono selaku pemilik perusahaan pun menggemari bulutangkis, dan sangat peduli pada talenta yang ditemukan. Bahkan rupanya aktivitas olahraga bulutangkis yang diselenggarakan setiap sore itu sampai menarik perhatian masyarakat sekitar.

Maka, segera muncul ide untuk mendirikan klub bulutangkis. Robert Budi Hartono serta manajemen PT Djarum kemudian berkomitmen untuk mengembangkannya. Inisiatif datang dari Goei Pho Thay (paman Robert Budi Hartono), Bambang Hartono, yang dibantu Margono serta Thomas Budi Santoso. Mereka lantas mendirikan klub, yaitu Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum. Sejak klub ini didirikan, latihan bulutangkis semakin rutin diselenggarakan. Dimulai setelah para karyawan selesai bekerja. Lalu, selesai makan malam, latihan dilanjutkan sampai pukul 11 malam. Budi Hartono sering menyempatkan diri untuk datang dan melihat latihan.

Pada 1970, latihan bulutangkis mulai dibuka untuk umum. Tidak lagi hanya karyawan dan anggota keluarganya yang berlatih di sana, tetapi juga atlet dan peminat dari luar PT Djarum. Saat itu pengelola klub jadi meningkatkan kegiatan. Bila semula ditujukan hanya untuk berolahraga, kegiatan mulai diproyeksikan untuk meraih prestasi.

“Saya pikir kenapa tidak kalau kita bisa menyumbangkan sesuatu untuk Indonesia melalui bulutangkis, kebanggaan nasional, menggalang persatuan,” kata Budi Hartono.

Dalam kiprahnya dalam mengembangkan olahraga bulutangkis, PB Djarum telah melahirkan banyak atlet berprestasi, baik di tingkat nasional maupun skala Internasional. Di antaranya adalah para atlet bulutangkis seperti Liem Swie King, Christian Hadinata, Minarti Timur, Ivana Lie, Ardy B. Wiranata, Hariyanto Arbi, Alan Budikusuma, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, sampai para atlet muda dengan potensi terbaik seperti Kevin Sanjaya dan Mohammad Ahsan.

Komitmen dan kecintaan yang besar dari PB Djarum terhadap bulutangkis terwujud pada totalitas manajemen dalam melakukan kegiatan dan pengelolaan klub agar selalu dapat membawa para atlet bulutangkis hingga mampu bertanding dan menjaga wibawa bangsa Indonesia di kancah internasional. Dengan dukungan infrastruktur hingga metode pelatihan yang terarah dan terukur, perjuangan klub dalam menghasilkan atlet bulutangkis berkualitas sering berbuah manis dengan keberhasilan meraih berbagai gelar juara. PB Djarum menyadari bahwa prestasi bulutangkis nyata menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia.

Upaya mempertahankan kekuatan dan kejayaan bulutangkis, hingga prestasi dan reputasi bangsa Indonesia di mata dunia, dilakukan PB Djarum salah satunya dengan berkomitmen besar dalam proses regenerasi atlet. Sejak 2006, Djarum Foundation rutin mengelar Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Ajang ini digelar untuk merekrut bibit-bibit atlet bulutangkis yang akan dibina PB Djarum. Kegiatan beasiswa bulutangkis yang dilakukan PB Djarum ini sama sekali tidak memberikan keuntungan finansial bagi klub.

“Yang kita cari itu glory. Nilainya jauh di atas keuntungan finansial. Tidak setiap orang bisa dapat glory. Seperti glory yang didapat dari Butet/Owi saat menjadi juara Olimpiade Rio,” Ujar Yoppy Rosimin, Ketua Perkumpulan Bulutangkis Djarum.

Sejak awal digelar sampai saat ini, kegiatan beasiswa bulutangkis yang diselenggarakan selalu mendapat respons positif dari masyarakat. Terlihat dari jumlah peserta yang mencapai ribuan orang setiap kali kegiatan audisi dilaksanakan. Selain menggelar kegiatan beasiswa bulutangkis, komitmen Djarum Foundation bersama klub PB Djarum juga diwujudkan dengan membangun infrastruktur dan menyediakan fasilitas berkualitas internasional untuk mendukung keberlanjutan bulutangkis Indonesia. Pada 2004, PB Djarum membangun GOR Djarum sebagai upaya menyiapkan infrastuktur olahraga yang baik bagi para atlet. GOR yang terletak di daerah Jati, Kudus, ini memiliki 16 lapangan, yang dilengkapi tribune nyaman bagi penonton.

Kunci keberhasilan PB Djarum dalam membina atlet ada pada program latihan. PB Djarum memberikan menu latihan secara benjenjang yang tepat sasaran. Program latihannya, baik teknik, strategi bermain, maupun fisik disesuaikan dengan jenjang usia atlet, yaitu; U-11, U-13, U-15, U-17, dan U-19. Khusus atlet usia dini, atau di bawah 15 tahun, latihan bersifat umum dengan fokus pada teknik dasar bermain bulutangkis yang benar. Sementara bagi atlet U-17 dan U-19, menu latihannya adalah strategi bermain lebih khusus, misalnya bagaimana mengantisipasi pukulan lawan. Dengan program latihan tersebut, PB Djarum menjadi klub bulutangkis Indonesia yang sangat konsisten menyumbangkan anggotanya mewakili Indonesia di ajang internasional.

Konsistensi dan komitmen besar dari PB Djarum dalam menggelar kegiatan audisi beasiswa bulutangkis sejak 2006, menjadi suatu harapan bagi putra-putri Indonesia yang selalu mendekap mimpi serta memiliki bakat dan kemampuan untuk berjuang demi satu nama; Indonesia. #LagiLagiJuara (*)

Berita Artikel Lainnya