Berita > Berita > Klub

Susi Susanti Love All, Pompa Semangat Atlet Muda Bulutangkis

Kamis, 14 November 2019 11:08:52
5061 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Olahraga bulutangkis Indonesia banyak melahirkan pemain berkualitas. Sejak tahun 60-an atlet putra-putri bulutangkis berhasil mencatatkan namanya di panggung internasional. Sebut saja Rudi Hartono, Liem Swie King, Christian Hadinata, Minarti Timur, Ivana Lie, merupakan beberapa nama yang berhasil meraih prestasi tinggi di berbagai kompetisi bulutangkis internasional.

Di era selanjutnya, nama-nama seperti Arby B. Wiranata, Hariyanto Arby, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti, Mia Audina, merupakan nama-nama yang sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia karena prestasi yang diraih melalui olahraga bulutangkis. Prestasi yang diraih oleh atlet Indonesia membuat olahraga bulutangkis selalu memiliki tempat khusus di hati masyarakat Indonesia.

Bagi atlet berprestasi, perubahan status sosial tidak dapat dipungkiri jadi membawa mereka kepada status sosial baru yang popularitasnya menyamai selebritas. Sisi postif dari perubahan status sosial itu adalah menjadikan generasi muda dan atlet muda termotivasi untuk mengikuti jejak senior-senior mereka ini agar dapat juga mengukir prestasi bagi Indonesia melalui olahraga bulutangkis.

Salah satu prestasi fenomenal di ajang bulutangkis adalah yang ditorehkan oleh Susi Susanti sebagai atlet tunggal putri Indonesia. Susi Susanti berhasil meraih medali emas di nomor tunggal putri pada perhelatan Olimpiade Barcelona tahun 1992. Selain medali emas, di ajang Olimpiade Atalanta 1996 Susi Susanti berhasil meraih medali perunggu di nomor yang sama, tunggal putri. Prestasi yang diraih di ajang Olimpiade Barcelona terasa sangat fenomenal karena itu menjadi medali emas Olimpiade pertama yang dimenangkan atlet tunggal putri Indonesia. Keberhasilan itu menjadi sebuah euforia prestasi yang dirasakan seluruh elemen bangsa Indonesia, dan Susi Susanti menjadi ikon yang meningkatkan semangat atlet putri lainnya dalam perjuangan mengejar prestasi tertinggi.

Susi lahir di Tasikmalaya, pada tanggal 11 Februari 1971. Karir Susi Susanti pada cabang bulutangkis memang sangat luar biasa. Ia selalu menunjukan ketenangannya dalam bermain ketika berhadapan dengan lawannya. Susi pun pantang menyerah dalam menghadapi lawan meskipun ketika bermain terkadang ia harus tertinggal poin yang sangat jauh dari lawan.

Susi memulai karirnya di dunia bulutangkis ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia mulai bergabung di klub milik pamannya di Persatuan Bulutangkis (PB) Tunas Tasikmalaya. Ia berlatih selama 7 tahun dan kemudian ia berhasil memenangkan kejuaraan bulutangkis tingkat junior pada tahun 1985 ketika Susi menginjak kelas 2 SMP. Kemudian ia pindah ke Jakarta agar bisa lebih serius menekuni dunia bulutangkis. Di Jakarta, Susi bersekolah dan tinggal di asrama khusus atlet. Selama di asrama Susi menjalankan kegiatan yang sangat padat. Senin sampai Sabtu, ia harus melakukan latihan dari jam 07.00 sampai jam 11.00, kemudian dilanjutkan pada pukul 15.00 hingga 19.00. Berkat kegigihannya dalam olahraga bulutangkis, akhirnya di awal karier Susi berhasil menjadi juara di Indonesia Open tahun 1989. Susi pun menyumbangkan Piala Sudirman bagi tim Indonesia untuk pertama kalinya, dan belum pernah terulang sampai saat ini. Ia juga mulai merajai kompetisi bulutangkis perempuan dunia dengan menjuarai All England sebanyak empat kali, yaitu tahun 1990, 1991, 1993, dan 1994. Puncak karier Susi terjadi ketika ia menjuarai Olimpiade Barcelona pada tahun 1992. Kala itu Susi berhasil meraih medali emas pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade. Ketika itu pula Alan Budikusuma yang menjadi suaminya sekarang ini, menjadi juara di tunggal putra.

Sebagai penghargaan dalam bentuk lain bagi sejarah kehidupan Susi Susanti yang fenomenal dan membanggakan, kisah hidup serta perjuangannya sebagai atlet bulutangkis pun kini diadaptasi menjadi sebuah film drama biopik yang berjudul Susi Susanti: Love All. Tokoh Susi Susanti diperankan oleh aktris Laura Basuki. Film Susi Susanti: Love All mengajak kita melihat bagaimana perjalanan sosok atlet senior legendaris Susi Susanti. Bermula dari mimpi gadis kecil, ketekunan, dan ambisinya memenangkan pertandingan, hingga perjuangannya di tengah masa kekacauan yang terjadi di dalam negeri, semuanya ditumpahkan dalam film ini. Selain itu, semua prestasi dari Susi Susanti tidak terjadi begitu saja. Semuanya terjadi lewat perjuangannya dan latihan yang ketat. Dirinya sudah berlatih sejak muda dengan menu latihan yang sangat berat harus berada dalam kondisi jauh dari keluarga yang sangat tidak mudah untuk dijalani bagi seorang remaja putri.

Tak luput, pertemuan dengan Alan Budikusuma yang kemudian menjadi suaminya turut menghiasi kisah hidup Susi yang diangkat ke layar lebar. Momen-momen kemenangan Susi tak lupa diperlihatkan, salah satunya Olimpiade Barcelona 1992 yang bersejarah.

"Melalui film ini saya berharap penonton tahu bagaimana dulu kami kalau kalah dibully, bagaimana proses menjadi juara, pengorbanan kerja keras, hari-hari di asrama, ada di film itu," kata Susi Susanti.

Untuk meraih prestasi tertinggi di bidang apapun tentu bukan hanya bakat yang diperlukan. Bakat yang tidak disertai dengan perjuangan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan diri tentu hanya akan menjadi bakat yang terbuang sia-sia saja. Melalui film ini, diharapkan para atlet muda dapat menyadari bahwa untuk dapat meraih prestasi tertinggi perlu disertai tekad berjuang dan kerja keras tanpa pernah menyerah.

Peluncuran film Susi Susanti: Love All ini diharapkan dapat juga memompa semangat para atlet muda bulutangkis agar dapat kembali meraih prestasi tertinggi olahraga bulutangkis. Sekaligus untuk menunjukkan bahwa selama ini telah terbukti bahwa bulutangkis selalu berhasil menjadi cara dan momentum pemersatu bangsa Indonesia. (*) #LagiLagiJuara

Berita Klub Lainnya