Berita > Artikel > Wawancara

Ganda Putra Gagal Rebut Juara, Berikut Evaluasi Herry IP

Selasa, 17 Maret 2020 03:40:14
3149 klik
Oleh : admin_2
Kirim ke teman   Versi Cetak



Sukses ganda campuran meraih gelar juara pada ajang All England Open 2020 lewat pasangan Praveen Jordan/ Melati Daeva Oktavianti tak berhasil diikuti pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Fernaldi Gideon pada partai final yang berlangsung hari Minggu (15/3) di Birmingham, Inggris.

Pasangan Kevin/Marcus harus puas di posisi runner up setelah dikalahkan pasangan Jepang, Hiroyuki Endo/ Yuta Watanabe, usai laga tiga game dengan skor 18-21, 21-12 dan 19-21.

Sementara, sang juara bertahan Hendra Setiawan/ Mohammad Ahsan terhenti di babak perempat final usai kekalahan melawan duet Endo/Watanabe. Dua pasangan lainnya, Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto dan Ade Yusuf/ Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira masing-masing terhenti di babak dua dan babak pertama.

Hasil ini pun mendapat penilaian dari Herry Iman Pierngadi, Kepala Pelatih Ganda Putra yang ikut mendampingi para atletnya berlaga di Birmingham. Berikut ini hasil wawancara dengan Herry yang kami kutip dari Badmintonindonesia.org.

Bagaimana tanggapan Anda terkait hasil yang diraih Kevin/Marcus pada All England 2020?

Menurut saya mereka sudah habis-habisan, sudah maksimal kemarin. Cuma ada unsur hokinya juga, kemudian pada poin-poin akhirnya agak kurang sabar, kurang tenang sedikit. Khususnya Kevin yang terlalu buru-buru di depan. Tapi menurut saya selama enam penampilan lawan Jepang (Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe) ini, meski kalah terus, tapi saat final kemarin menurut saya ini yang paling maksimal. Paling mendekati dan memungkinkan untuk memenangkan pertandingan.

Kevin/Marcus harus kehilangan game pertama, kemudian pada game ketiga sudah unggul di poin kritis, namun akhirnya harus kalah. Apa yang sebenarnya terjadi di lapangan?

Di awal Kevin/Gideon selalu bernafsu untuk menyerang keras terus. Padahal lawan kan defendnya kuat. Dan memang di lapangan pertama itu, posisinya jalan bolanya agak pelan. Jadi buat mereka yang defend jauh lebih mudah dibanding yang menyerang. Karena bolanya sedikit agak berhenti. Jadi strategi di game pertama kurang berhasil.

Kalau dilihat kemarin performa Watanabe selama All England memang bagus sekali. Jarang membuat kesalahan sendiri. Kalau mau dapat poin dari mereka itu, persentasenya kita harus lebih banyak membunuh dibanding menunggu mereka mati. Khususnya buat Watanabe. Kalau Endo masih banyak errornya. Jadi benar-benar memang Watanabe kemarin adalah bintangnya. Memang pasangan ini motornya menurut saya ada di Watanabe. Dia bisa cover semua lapangan. Bolanya juga sulit. Diserang juga bola kembaliannya menekan lagi. Memang penampilan mereka di All England ini cukup baik dan cukup bagus, khususnya Watanabe.

Hendra/Ahsan juga kalah dari Endo/Watanabe. Apa Evaluasinya?

Kalau Ahsan/Hendra mungkin kasusnya agak berbeda menurut saya. Karena Ahsan/Hendra dari babak pertama mereka ketemunya Jepang terus, ketat terus dan juga rubber. Sampai pertandingan ketiganya mereka ketemu Endo/Watanabe. Memang kalau ketemu Endo/Watanabe kondisi fisik kita harus benar-benar fresh. Karena seperti yang saya bilang, kalau mau ambil poin dari mereka harus membunuh. Membunuh artinya apa? Ya kita harus menyerang. Nggak bisa kita dapat poin secara gratis, menunggu kesalahan mereka. Jadi benar-benar harus membunuh, makanya tenaga dan fisik harus fresh dan nggak boleh kendor.

Hasil Fajar/Rian harus menurun. Tahun lalu di semifinal, namun tahun ini kalah di babak kedua. Apa evaluasi buat mereka?

Kalau dari hasil tahun lalu memang berbeda. Tahun lalu mereka di semifinal, tahun ini mereka di babak dua. Terlepas dari itu memang pemain Inggris (Marcus Ellis/Chris Langridge) ini cukup baik. Mereka main di kendang sendiri, pertahanannya juga baik, nggak gampang ditembus. Sedangkan kemarin sayang Fajar/Rian tampil di bawah performa terbaiknya. Saat itu, kaki Rian memang sedang bermasalah, jadi kecepatannya sedikit menurun. Ditambah juga kemarin menurut saya, Fajar banyak melakukan kesalahan yang tidak perlu. Secara keseluruhan penampilan mereka bisa dibilang agak turun di All England tahun ini.

Ade/Wahyu sempat tampil meyakinkan dengan merebut satu game dari Li Jun Hui/Liu Yu Chen (China), namun akhirnya kalah cukup jauh di game penentu. Apa kendala mereka di lapangan?

Menurut saya dari segi teknik permainan mereka nggak kalah. Cuma dari mentalnya mereka naik turun. Kadang bisa bagus, kadang bisa drop. Ini yang menjadi PR dan evaluasi buat mereka sendiri. Kesempatan saya rasa cukup banyak dan cukup baik. Saya dan PBSI sudah memberikan kesempatan kepada mereka untuk ikut pertandingan dimana-mana. Cuma hasilnya masih kurang memuaskan. Ini memang terkait faktor individu mereka masing-masing. Kehidupan sehari-hari mereka seperti apa, mereka harus evaluasi diri mereka sendiri. (*)

Berita Wawancara Lainnya