Berita > Artikel

Catatan Ganda Putra Usai Dua Turnamen Thailand Open

Rabu, 27 Januari 2021 05:34:51
1032 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Ganda putra Indonesia berhasil menempatkan satu wakilnya pada ajang BWF World Tour Finals 2020 yang akan mulai berlangsung hari ini (Rabu, 27/01) di Impact Arena, Bangkok, Thailand. Pasangan yang dijuluki The Daddies, Hendra Setiawan/ Mohammad Ahsan akan menjadi harapan Indonesia untuk membawa gelar juara dari turnamen yang seharusnya digelar menutup tahun 2020. Pandemi Covid-19 membuat BWF menggeser jadwal turnamen ke bulan Januari 2021.

Capaian skuad ganda putra pada dua turnamen Thailand Open (Yonex Thailand Open 2021 dan Toyota Thailand Open 2021) di Impact Arena tidaklah menggembirakan. Langkah ganda putra pada dua turnamen seri HSBC BWF World Tour Super 1000 tersebut hanya mencapai babak semifinal. Pada turnamen pertama capaian semifinal justru diraih ganda putra pelapis lewat pasanganLeo Rolly Carnando/ Daniel Marthin yang dihentikan pasangan Malaysia, Goh V Shem/ Tan Wee Kiong dalam laga dua game 19-21 dan 10-21.

Pada turnamen kedua, langkah terbaik ganda putra dicapai pasangan Hendra/Ahsan yang mencapai semifinal. Langkah mereka dihentikan pasangan Taiwan, Lee Yang/Wang Chi Lin usai laga tiga game 21-14, 20-22 dan 12-21.

Langkah skuad ganda putra di kedua turnamen berhadiah total USD 1,000,000 ini pun mendapat catatan khusus dari pelatih Herry Iman Pierngadi. Disebutkan Herry bahwa capaian anak-anak didiknya pada dua Leg Asia kali ini, belum mencapai target. Anak-anak asuhannya yang diharapkan bersinar, terutama Ahsan/Hendra dan Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto, justru gagal.

"Ya memang ganda putra tidak mencapai target. Ahsan/Hendra dan Fajar/Rian memang yang kami harapkan, tapi ternyata tidak berhasil. Mereka gagal. Nanti latihannya akan dievaluasi lagi. Memang banyak penurunan," sebut Herry, mengutip wawancara tim Humas dan Media PP PBSI.

Menurut Herry, cedera betis kiri yang dialami Ahsan pada babak pertama, Rabu (20/1) lalu, memang memengaruhi penampilannya. Namun, dia juga menyebut bahwa hal itu bukanlah alasan utama, melainkan pada faktor stamina dan usia.

"Cederanya Ahsan ada pengaruhnya, tapi lebih besar pengaruh karena stamina, karena usia tidak bisa dibohongi. Kalau memang tadi mau menang, kan seharusnya bisa dua gim. Yang game kedua itu kan sudah setting," jelas Herry.

"Memang pada saat setting itu, ganda kita itu membuat kesalahan. Dua poin itu kan nyangkut sendiri. Memang handicapnya di lapangan, menang angin, kalah angin, atau bolanya juga sedikit berat. Pemain-pemain seusia mereka ada handicap di situ. Saya berharap, nanti di World Tour Final penampilannya bisa lebih baik lagi," tuturnya.

Sementara untuk Fajar/Rian, Herry pun mengakui adanya penurunan kualitas pada keduanya. Lama tidak bertanding, juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hilangnya ritme permainan.

"Fajar/Rian banyak orang bilang menurun, memang betul mereka menurun. Kemarin juga sudah ngobrol. Memang lama tidak ada pertandingan, sepuluh bulan vakum, jadi sedikit kagok buat mereka," kata Herry.

"Ritme, irama, dan suasananya hilang. Sudah lama tidak bertanding, jadi harus beradaptasi lagi. Walaupun memang mereka termasuk pemain yang sudah top 10. Kita memang harus bisa mengatasinya," tambahnya.

Selain turunnya kualitas, Herry menyebut tangan Fajar yang bermasalah ikut menjadi kendala. Untuk selanjutnya, menjadi pekerjaan rumah cukup besar untuk mempersiapkan mereka kembali tampil optimal pada turnamen internasional yang akan digelar pada Maret mendatang.

"Tapi dari semuanya, kendala itu nomor satunya memang Fajar tangannya ada masalah, jadi tidak bisa maksimal sekali. Hanya mengandalkan Rian saja. Memang bukan alasan, itu kenyataan. Di samping itu memang penampilannya menurun, harus diakui," kata Herry. (*)

Berita Artikel Lainnya