Berita > Artikel

Kiat Daddies Di Tengah Kendala Faktor Usia

Sabtu, 30 Januari 2021 18:27:58
6287 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Sukses menembus partai final HSBC BWF World Tour Finals 2020, memberi kesempatan pasangan Daddies, Hendra Setiawan/ Mohammad Ahsan untuk mempertahankan gelar yang mereka sabet di akhir tahun 2019.

Perjalanan menuju final taklah mudah bagi pasangan yang sudah tak muda lagi ini. Hendra yang kelahiran 25 Agustus 1984 dan Ahsan yang lahir 7 September 1987, harus bersaing dengan pebulutangkis-pebulutangkis yang lebih muda.

Tiga turnamen Leg Asia yang digelar di Impact Arena, Bangkok, Thailand, dalam tiga pekan harus mereka lewati. Dua turnamen awal, Yonex Thailand Open 2021 (12-17 Januari) dan Toyota Thailand Open (19-24 Januari) yang keduanya merupakan seri HSBC BWF World Tour Super 1000, Hendra/Ahsan tak menuai hasil sesuai target. Pada Yonex Thailand Open 2021 langkah Daddies hanya mencapai babak perempat final sebelum dikalahkan duet Negeri Ginseng, Choi Sol Gyu/ Seo Seung Jae, dengan skor 21-16 dan 21-17.

Lalu di ajang Toyota Thailand Open 2021, langkah mereka terhenti pada babak semifinal saat menghadapi duet Taiwan, Lee Yang/ Wang Chi Lin, dengan skor 21-14, 20-22 dan 12-21.



Pada ajang HSBC BWF World Tour Finals 2020 yang menjadi ajang pekan ketiga yang mereka lakoni, Daddies sukses mencapai partai final turnamen yang menyediakan total hadiah USD 1,500,000. Di partai semifinal yang berlangsung siang tadi (Sabtu, 30/01) di Impact Arena, Bangkok, Thailand, Daddies menumbangkan ganda Negeri Ginseng, Choi Sol Gyu/ Seo Seung Jae dua game langsung 23-21 dan 21-13.

Menghadapi tiga pertandingan beruntun memang tidak mudah. Apalagi bagi mereka dengan usia yang tergolong tidak muda lagi. Hendra pun mengakui harus banyak mempersiapkan diri, terutama dari sisi tenaga dan fisik.

"Kalau untuk menjaga fokus sih bisa diatasi. Setiap pertandingan, fokus, terus bisa relaks lagi. Sementara yang jadi masalah itu memang faktor usia, tenaga, dan fisik. Dari kemarin sudah kalah, ya kita kembalikan lagi fisiknya. Ada gym-nya sedikit, buat saya itu penting dan berpengaruh," jelas Hendra, mengutip wawancara tim Media dan Humas PBSI usai pertandingan tadi di Impact Arena.

"Kalau saya lebih ke diri sendiri, menyiapkan diri sendiri untuk final besok. Kalau strategi nanti sebelum main akan dibahas dengan Ko Herry. Jadi siapkan mental saja, siap capek," tuturnya.

Ditanya soal cara menjaga fokus dan kondisi anak didiknya, pelatih Herry Iman Pierngadi angkat bicara. Menurutnya, untuk pemain senior seperti The Daddies, Herry lebih banyak memberikan pilihan cara seperti apa yang terbaik bagi mereka masing-masing.

"Justru saya mengikuti mereka. Mereka maunya seperti apa untuk menjaga kondisinya. Mereka yang tahu kondisi badannya seperti apa. Jadi jangan pemain yang ikut pelatih. Apalagi ini pemain senior, jadi saya banyak kasih pilihan ke mereka," jelas Herry, pelatih Ganda Putra.

Kemenangan hari ini, menurut Herry kuncinya memang pada kemenangan gim pertama. Strategi yang sudah dievaluasi dari dua kekalahan sebelumnya pun bisa diterapkan.

"Selama di Thailand sudah dua kali pertemuan (dengan Korea Selatan), dua kali kalah. Jadi selalu dievaluasi cara mainnya bagaimana. Tadi saat diterapkan bisa berhasil," kata Herry.

"Kuncinya memang pada gim pertama, meskipun setting tapi bisa menang, jadi semangatnya lebih bertambah. Sementara yang kalah pasti lebih nge-drop. Di luar itu strateginya cukup berhasil," tambahnya.

Pada babak final, Ahsan/Hendra akan menghadapi Lee Yang/Wang Chi Lin (Chinese Taipei). Sebelumnya, mereka bertemu pada semifinal Toyota Thailand Terbuka, Sabtu (23/1) dengan skor 14-21, 22-20, 21-12 kemenangan untuk wakil Chinese Taipei tersebut.

"Siapapun lawannya, yang harus tetap dijaga itu fokus dan konsentrasi Ahsan/Hendra untuk menghadapi final besok," tutur Herry. (*)

Berita Artikel Lainnya