Berita > Berita

Daddies Hanya Runner Up, Ini Catatan Pelatih

Minggu, 31 Januari 2021 23:40:15
5158 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Langkah The Daddies, julukan Hendra Setiawan/ Mohamad Ahsan, untuk mempertahan gelar juara pada ajang HSBC BWF World Tour Finals 2020 tak berhasil. Mereka harus puas menempati posisi runner up.

Pada partai final yang berlangsung hari ini (Minggu, 31/01) di Impact Arena, Bangkok, Thailand, Hendra/Ahsan takluk saat melawan ganda Taiwan, Lee Yang/ Wang Chi Lin usai laga dua game langsung 17-21 dan 21-23.

Bermain di usia yang tergolong tidak muda, menjadi tantangan tersendiri bagi Ahsan/Hendra. Ahsan tahun ini berusia 33 tahun, sedangkan Hendra 36 tahun, tentunya cukup sulit untuk melawan pemain-pemain yang perbedaan usianya mencapai 10 tahun. Terutama dalam sisi fisik dan tenaga. Sehingga, untuk bisa mencapai final, merupakan pencapaian yang baik bagi sang juara World Tour Finals 2019 ini.

"Kalau melihat permainan tadi sih memang Ahsan/Hendra kalah tenaga, tenaga tangannya. Pertama karena lapangannya juga kalah angin. Harus diakui pemain Chinese Taipei ini selama tiga minggu penampilannya konsisten banget. Penampilan mereka di Thailand Open ini bagus banget. Baik dari fisik, tenaga, konsentrasi, dan fokusnya luar biasa menurut saya," ungkap Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra.

"Memang buat Ahsan/Hendra, pencapaian ini di usia mereka ini sudah bisa sampai final, menurut saya sudah cukup baik di usia mereka di atas 30 tahun ini. Meski belum sempurna untuk menjadi juara," kata Herry, mengutip obrolan dengan tim Media dan Humas PBSI di Impact Arena usai bertanding tadi.

Herry pun menilai, strategi permainan pun sulit untuk diterapkan. Sejak awal kualitas lawan memang lebih unggul. Mereka bermain sangat cepat dan keras.

"Kalau strategi sih sebenarnya tidak terlalu berpengaruh. Memang game pertama itu kita tertekan terus, tidak bisa keluar. Memang kualitas drive-nya pemain Chinese Taipei ini sangat keras, sangat cepat. Jadi kita mau antisipasi atau mengubah cara main juga tidak bisa, karena mereka menyerang dan menekan terus menerus. Kita mau tahan atau rem juga mereka langsung menutup lagi. Ya itu tadi, tenaga tangannya kita kalah," jelas Herry.

"Bolanya kalah cepat karena keras. Kalau kemarin lawan Korea Selatan kan hampir sama sebenarnya mainnya, meski tenaganya (Korea Selatan) kemarin agak turun sedikit. Kalau ini kan (Chinese Taipei) tenaganya masih konsisten. Tidak bisa diakalin sama sekali. Jadi memang yang utamanya adalah kalah di kecepatan dan tenaganya," tambah Herry. (*)

Berita Berita Lainnya