Berita > Artikel > Sosok

Tan Jok Hok Dan Cerita Merebut Piala Thomas Tahun 1958

Senin, 27 Desember 2021 10:26:49
1425 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Sejarah mencatat, Indonesia mulai dikenal sebagai "Negeri Bulutangkis" saat meraih piala Thomas pertama kalinya pada tahun 1958. Satu saksi akan kehebatan bulutangkis Indonesia saat itu adalah Tan Joe Hok, salah satu atlet yang menjadi pahlawan Indonesia di ajang beregu putra tersebut, yang kini masih hidup.

Obrol bulutangkis bersama sosok legenda bulutangkis Indonesia ini tidak akan pernah habisnya. Tak Joe Hok yang memiliki nama lain, Hendra Kartanegara kelahiran, 11 Agustus 1937 memulai dari perjuangannya meraih Piala Thomas pertama kalinya pada tahun 1958 yang tak mudah. Usai merebut Piala Thomas bersama teman-temannya, Tan Jo Hok menjadi atlet bulutangkis Indonesia pertama yang merebut juara pada kejuaraan bulutangkis tertua di dunia, kejuaraan bulutangkis All England.

Di sela-sela acara peluncuran buku “Thomas Cup Sejarah Tentang Kehebatan Indonesia” pada Rabu (22/12) pekan lalu secara virtual itu, Tan Jo Hok bertutur semua itu ia dan temannya saat tidaklah muda merebut Piala Thomas di tahun 1958. Mantan atlet yang kini berusia 85 tahun itupun bercerita, bahwa dulu belum ada Pelatnas dimana atlet yang akan bertanding di satu kejuaraan telah berkumpul.

"Pesertanya Thomas Cup 58, sisanya yang main ya tinggal saya satu. Yang lainnya sudah almarhum. Dari total tim ada enam 6 orang, sisanya cuma saya," Tan Jo Hok membuka cerita di acara virtual yang dihadiri para awak media.

"Kalau dulu kami tidak terarah seperti sekarang yang benar-benar diarahkan dalam meraih prestasi, dulu tidak pokoknya masing-masing daerah main untuk hobi untuk membuktikan diri bahwa saya jago dari Jawa Barat. Suatu ketika dikumpulkan untuk kejuaraan Indonesia. Yang saya tahu, saya gali tidak ada rencana sama sekali Indonesia bisa merebut itu. Kita berhutang budi pada saudara Eddy Yusuf teman seperjuangan saya yang memaksa PBSI harus turut serta. PBSI mengatakan kita belum siap, akhirnya bagaimana bisa jadi ikut Thomas Cup saya tidak tahu," lanjut Tan Jo Hok bercerita.

"Tiba-tiba disuruh tanding dan dipanggil, dikumpulkan dan ada lima orang yang sudah dipilih, ikut babak penyisihan tahun 57, belum pada lahir kan ya di sini. Kami main mengalahkan New Zealand dan Australia, kami kembali lagi ke Jakarta. Dulu kami pulang ya masing-masing, kalau sekarang kan ada pusat latihannya. Saya sekolah lagi, yang lain juga enggak tahu pokoknya masing-masing karena di situ ada istilahnya sudah menunggu pemenang piala Thomas yaitu Malaya (Malaysia). Kami diperintahkan untuk ikut challenge round di Singapura. Ya kami menurut dan terpilih," cerita Tan Jo Hok, yang masih begitu ingat kenangan merebut Piala Thomas di tahun 1958.

Pulang ke tanah air, sambutan masyarakat begitu luar biasa terhadap para bulutangkis perebut Piala Thomas.

"Tidak ada yang menyangka bisa menang karena dulu kami juga pergi naik becak, lapangan terbang di Kemayoran kami ingat ke sana naik becak. Setelah pulang, itu lautan manusia penuh. Di situ kami merasakan sangat terharu dengan sambutan itu," tutur Tan Jo Hok.

Tak hanya bercerita tentang perjalanannya dengan teman-temannya merebut Piala Thomas, Tan Jo Hok juga memberika pesan kepada atlet-atlet muda bulutangkis, khususnya atlet bulutangkis PB Djarum.

“PB Djarum sudah menyediakan semua fasilitas yang sempurna. Sekarang tergantung sama atletnya, mau atau tidak jadi jago? Kuncinya cuma tiga. Harus rajin, hidup sebagai atlet, dan jangan malas-malasan,” ungkap Tan Jo Hok.

“Sekarang PB Djarum sudah sempurna. Kurang apa? Asrama, tidur pakai AC, makanan bergizi, lapangan sudah tersedia, pelatih, raket, dan shuttlecock. Itu beda dengan jaman saya. Kalau ada mesin waktu, saya mau balik lagi,” papar Tan Jo Hok.

“Dan sekarang harus ada keyakinan kalau kita bisa menjadi atlet sukses karena semuanya sudah ada di PB Djarum,” pungkas Tan Jo Hok. (*)

Berita Sosok Lainnya