Berita > Artikel

UU Olahraga, Bahasa Atau Semangatnya

Rabu, 07 September 2005 07:56:32
1333 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh: Ignatius Sunito

Undang-Undang Olahraga, mulai tanggal 9 September 2005 ini bertepatan dengan Haornas, Hari Olahraga Nasional, akan diberlakukan. Setelah jalannya mulus melalui DPR, tanpa perdebatan yang berarti di kalangan para wakil rakyat tersebut. Maklum, rumor yang berkembang, UU yang satu ini jika diperdebatkan tidak ada untungnya? alias tidak ada dokunya.

Maklum saja, mereka yang empunya dalam UU itu sebuah kementerian, baru saja dibentuk dan berumur hampir satu tahun, yang tentu menteri olahraganya saja juga baru.Anggarannya saja juga “belum ada”, terlebih-lebih obyeknya para atlet yang rata-rata sakunya rata. Alias tak berduit. Lain halnya, misalnya UU tentang rekonstruksi kembali Aceh. Kabar yang tersiar di luar semakin santer, banyak para anggota wakil rakyat itu yang menyediakan dirinya sebagai calo proyek Milyar, cing!.

UU Olahraga ini sudah lama sekali ditunggu sampai tiga kali presiden, pasca Soeharto hanya terus teronggok berupa RUU. Maka untuk memuluskannya, Menpora Kabinet Indonesia Bersatu, Adyaksa Dault, seperti melancarkan promosi mengumbar janji. Bahwa mundurnya prestasi olahraga Indonesia, untuk memperbaikinya harus dimulai dari mana, kalau tidak ada landasan UU?

Memang, kalau kita telusuri ke belakang pernyataan-pernyataan Adyaksa seperti angin sorga jika dipandang dari sudut atlet. Dari janji akan memberi uang pensiun terhadap atlet-atlet berprestasi, sampai janji yang baru saja diucapkan pekan lalu. Janji akan membangun 1000 rumah buat atlet. Boleh dan sah-sah saja janji- janji itu. Seperti janji janji SBY dalam kampanye pemilihan presiden lalu. Janji perubahan! Benar- berubah,kan? Paling tidak kurs mata uang rupiah terhadap dollar AS yang menembus batas Rp 10.000.

Jika kita telusuri kembali terbentuknya kabinet pelangi Indonesia Bersatunya SBY, maka tak lepas bahwa diadakannya kementerian olahraga adalah hasil kompromi. Demikian juga dengan persona yang ditunjuk sebagai menteri. Meski kalau secara jujur ketika mengumpulkan pendapat melalui Blora Centre, mayoritas suara mengatakan, yang dibutuhkan dunia olahraga Indonesia bukan institusi baru, kementerian. Tetapi sebuah komitmen.

Hampir satu tahun masyarakat olahraga Indonesia menanti terus, apa gebrakan Adyaksa? Pasti sekarang menpora akan membusungkan dada, nih, UU Olahraga! Mudah-mudahan implementasinya segera bisa dirasakan. Apakah SEA Games 2005 bulan November nanti di Manila sebagai ukuran? Atau Asian Games 2006 di Doha, Qatar? atau Olimpiade Beijing 2008?

Sebelum bercita-cita muluk seperti itu? Tengok saja ke dalam, kehidupan olahraga Indonesia. Benar, kita baru saja tertolong oleh reputasi bulutangkis yang berprestasi dunia di kejuaraan dunia 2005 di Anaheim, AS. Ya, hanya dari satu cabang ini saja, Indonesia masih sanggup mensejajarkan diri dengan dunia internasional. Pasti tidak jauh-jauh pula, tumpuan masih tetap di bulutangkis dalam event-event seperti SEA, Asian, maupun Olimpiade nanti.

Menghadapi SEA Games 2005 saja sudah ada keluhan tentang naiknya kurs rupiah terhadap dollar AS. Dan diperkirakan sampai bulan November nanti dollar masih ogah turun di bawah Rp 10.000. Bayangkan, dollar biasa-biasa saja tanpa naik turun, kita sudah kuwalahan. Coba simak, SBY pasti konsentrasi pada perbaikan ekonomi. Dan terlebih-lebih penggrogotan, alias korupsi tetap tak kunjung henti. Kata Andi Malarangeng, jubir presiden SBY, meski presiden sibuk ke sana kemari, semangat memberantas korupsi tetap tak berhenti. Semoga!

Dengan demikian olahraga akan menjadi prioritas yang kesekian. Namun siapa tahu, adanya UU Olahraga, jangan-jangan pendanaan olahraga akan diambilkan dari dana kompensasi BBM, dana milik orang-orang miskin. Seperti tahun 1997, ketika Indonesia tengah menghadapi Krismon dan saat menjadi tuan rumah SEA Games, ternyata dananya diambilkan dari dana reboisasi hutan. Gali lobang tutup lobang.

Ini baru satu sektor saja tentang pendanaan olahraga. Saya jadi mengkhayal, ketika membaca berita dari negara tetangga Singapura. PM BG Lee sudah menyusun sebuah rencana besar mendirikan institusi yang membuat riset SDM Singapura guna menyiapkan sebuah industri manufaktur. Kelak dari implementasi rencana itu, Singapura akan mendapat dana tambahan U$ 100 milyar per tahun. Khayalan saya, pasti dana keolahragaan Singapura lebih terjamin lagi. Wong, sekarang saja juga sudah terjamin.

Dan keyakinan saya rencana BG Lee itu pasti berhasil. Coba bayangkan, sekarang ini berapa banyak BUMN Indonesia yang sudah jatuh ke tangan modal Singapura. Seperti Indosat misalnya, baru satu tahun di tangan Singapura sudah menghasilkan profit lebih dari dua trilyun rupiah.

Nah, mudah-mudahan dengan keluarnya UU Olahraga buat pemerintah jangan seperti makan buah simalakama. Terutama dalam soal pendanaannya? Adapun kementerian olahraga yang nota bene sebuah institusi baru, jangan sampai menjadi sasaran KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi, yang kini lagi galak-galaknya.

UU olahraga bukan seperti tangan Raja Midas, yang disentuh semuanya jadi emas. Atau jaminan prestasi olahraga Indonesia langsung melejit.

Atau malahan seperti kata teman-teman wartawan, bisa saja melejit seperti buah zakar terhimpit celana dalam. Sakit di ulu hati!

Sumber:www.bolanews.com


Berita Artikel Lainnya