Berita > Artikel > Sosok

Buka Album 2004 - (Bagian II)
Taufik Hidayat, Karier Bulutangkisnya tak Pernah Mulus

Selasa, 02 Januari 2007 13:59:06
6109 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh: Johnny F. Tamaela
Harian ''Pikiran Rakyat''

MESKI kini mengundang pujian dan kekaguman setelah merebut medali emas di Athena, perjalanan karier bulutangkis Taufik Hidayat di tingkat nasional tak pernah mulus. Bahkan tudingan tidak nasionalis pernah menjadi risiko yang siap diterima Taufik dan kedua orang tuanya, H. Aries Haris dan H. Enok Dartilah, pada saat putra mereka tersebut memutuskan keluar dari Pelatnas PB PBSI di Jakarta beberapa tahun lalu.

''Waktu itu Taufik mengadu, tak tahan berada lebih lama di Pelatnas PBSI. Sebagai orang tuanya, saya harus bilang apa, tetapi menarik Taufik akan membuat kami dituduh tidak nasionalis dan sebagainya, tetapi kalau tidak tahan bagaimana lagi?'' ungkap H. Aries.

Sikap Taufik dipicu oleh ke tidaknyamanan kondisi lingkungan di Pelatnas PB PBSI, apalagi saat rekan-rekannya Jeffer Rosobin, Salim dan pemain Jabar, George Rimarchdi dikeluarkan dari Pelatnas yang melakukan promosi/degradasi pemain.

Di Bandung, pelatih sejak kecilnya di PB SGS, Iie Sumirat berupaya mengubah sikap Taufik. ''Waktu itu saya katakan kepada Taufik, kalau PBSI pintar mereka pasti takkan mencoret kamu.''

Tetapi pada saat bersamaan Iie mempersiapkan alternatif, mengirimkan Taufik ke Taiwan. ''Rekan saya Dani Sartika (mantan pebulutangkis nasional -red.) saat itu tengah berada di Taiwan dan membutuhkan seorang pemain putra. Jadi Taufik saya siapkan ke Taiwan jika dia memutuskan tetap keluar dari Pelatnas.''

Untungnya Taufik mengubah keputusan dan bertahan di Pelatnas, namun Taufik kemudian tetap menjadi sorotan karena ia selalu mengutarakan hanya ingin ditangani oleh Mulyo Handoyo, yang kemudian memang ikut mendampinginya saat merebut emas di Athena.

Sedemikian istimewakah Mulyo Handoyo di mata Taufik Hidayat? Uniknya, prestasi Mulyo semasa menjadi pemain tak pernah menonjol. Lagi pula, menurut Iie Sumirat, secara teknik permainan Taufik akan bisa ditangani oleh siapapun yang menjadi pelatihnya.

Namun, karakter yang unik dan sulit dipahami orang di Pelatnas PBSI membuat Taufik tak menjadi pemain favorit di mata pelatih. ''Ini yang tidak mudah dimengerti orang, padahal kemauan dan kecerdasan Taufik untuk mencapai prestasi sangat menonjol,'' kata Lutfi Hamid.

Taufik rupanya lebih membutuhkan sikap seorang teman dalam diri Mulyo Handoyo daripada seorang Mulyo yang murni bersikap sebagai pelatih. Dan untungnya, Mulyo tak pernah berhenti mendiskusikan masalah Taufik dengan Iie Sumirat meski dipisahkan jarak Jakarta-Bandung.

Iie bisa memberi masukan karena mengenal Taufik sejak pertama kali ia dibawa oleh H. Aries Haris dan rekannya, Momo dari Pangalengan ke Bandung tahun 1991. Momo, adalah pasangan Aries setiap kali mereka bermain bulutangkis di desa Pangalengan. ''Pasangan tingkat RT lah, karena sampai saat inipun kami masih rajin bertanding di desa,'' ungkap Aries.

Sejak diterima oleh PB SGS menjadi pemain, Taufik terpaksa harus menjalani latihan minimal 4 kali dalam seminggu. Latihan tersebut tentu saja dilakukannya dengan menempuh jarak Pangalengan-Bandung pp setiap kali. ''Kasihan juga melihat Taufik pulang pergi setiap kali latihan. Setelah berlatih sore hari, mulai pukul 15.00 sampai 19.00 saya mengantarkan Taufik ke Jalan Mohamad Toha menunggu bus ''Elok'' ke Pangalengan yang biasanya ngetem di sana,'' ungkap Iie Sumirat.

Syukur bagi Taufik, pada masa itu ia menerima banyak dukungan. ''Pak Hendra Budiharto dari RHB banyak membantu Taufik dan dekat dengannya pada masa awal karier bulutangkisnya,'' kata Aries Haris.

Sementara Taufik semakin berkembang permainannya di lapangan bulutangkis, ia akhirnya pindah sekolah ke Bandung untuk memudahkannya berlatih. ''Di lapangan Taufik tak pernah macam-macam. Ia biasanya hanya tersenyum meski dicurangi wasit sekalipun. Kesan wajahnya yang selalu tersenyum itulah yang menjadi ciri khas Taufik yang saya ingat,'' kata Hendra Budiharto, yang pada saat itu juga menjadi Ketua Pusdiklat Hadtex Bandung.

Kenangan itu pula yang membuat banyak orang terkejut ketika Taufik seakan-akan tak pernah henti menjadi sorotan media massa dengan berbagai masalah yang dihadapinya. ''Suatu kali saya berbicara dengan Taufik mengenai masalahnya, dan ia mengungkapkan isi hatinya. Sebagai anak Pangalengan yang datang ke kota besar Taufik mengalami kesulitan menghadapi bermacam-macam tipe orang yang seringkali ingin mengaku sebagai temannya. Hal-hal seperti itu tentu secara akumulatif menimbulkan tekanan baginya, yang bisa meledak setiap saat,'' sebut Hendra Budiharto.

Hendra

Taufik kemudian diterima masuk Pusdiklat Hadtex Jabar, terutama setelah ia mencatat prestasi mengesankan menundukkan juara yunior Bimantara, Ignatius Rudy pada sebuah kejuaraan di Jatim. Padahal saat itu Taufik baru berusia 15 tahun, sementara Ignatius sudah berusia 17 tahun.

Tak hanya bermain tunggal, Taufik juga tampil di nomor ganda berpasangan dengan Rizal. Hasilnya pada Piala SGS-Siliwangi di Bandung, Taufik mampu menundukkan pemain senior, Hartawan (Tangkas) meski kemudian kalah pada semifinal di tangan Yong (Djarum). Dan bersama Inoki dan Rizal mereka menjadi tulang punggung PB SGS Bandung.

Wajar kalau semakin banyak mata yang memantau prestasi Taufik, tetapi tak pernah sekalipun pemain asal Pangalengan ini meraih prestasi tertinggi di tingkat yunior. Alasannya sungguh istimewa, ia langsung berubah status menjadi pemain senior, setelah Ketua Bidang Organisasi dan Daerah PB PBSI, Ir. H. Lutfi Hamid, mengusulkan namanya ke Pelatnas tahun 1996.

''Sebetulnya gagasan itu juga datang dari Ketua PB PBSI Pak Suryadi, yang pada suatu kesempatan mengatakan kepada saya, Taufik sebaiknya segera digabungkan dengan pemain di Pelatnas. Hanya saja gagasan Pak Suryadi tersebut tentu harus dijalani Taufik melewati prosedur yang berlaku,'' kata Iie Sumirat.

Taufik Hidayat yang dinilai sangat potensial, kemudian masuk ke Pelatnas, meski peringkat nasionalnya hanya bercokol di urutan ke-9. Padahal saat itu, pemain-pemain yang biasanya masuk adalah peringkat 1, 2 dan 3. ''Pada saat itulah Jabar dituduh melakukan KKN dan sebagainya oleh daerah lain. Tetapi kita tengah membantu karier seorang pemain yang sangat potensial menjadi aset nasional,'' kata Lutfi Hamid.

Tentu bukan Taufik Hidayat kalau masalah tak pernah menjauhinya. Tahun 2001, sesaat setelah kejuaraan dunia di Sevilla, Taufik mulai gerah di Pelatnas, setelah pelatihnya Mulyo Handoyo dipecat dari Pelatnas dan pergi ke Singapura.

Putusan PBSI tersebut datang sangat mendadak setelah sebelumnya Taufik dijatuhi skorsing oleh PB PBSI lewat DKO yang diketuai Karsono. Ia tak boleh ikut dua turnamen di luar negeri. Di Sevilla, Taufik tampil, tetapi kalah di tangan Hendrawan (karena cedera dan tak bisa melanjutkan pertandingan) yang kemudian muncul sebagai juara dunia 2001.

Pada saat Mulyo dipecat, Taufik kemudian mengemukakan keinginannya pindah dan bermain untuk salah satu klub di Singapura. ''Terus terang waktu itu saya tak bisa melakukan apa-apa,'' ujar Aries.

Fakta itu membuat PB SGS dan PB PBSI sempat dihadapkan pada pilihan, melakukan transfer Taufik Hidayat ke Singapura. Ketua PBSI Jabar sekaligus PB SGS Lutfi Hamid pun dan Iie Sumirat dipanggil oleh Ketua Umum PB PBSI, Chaerul Tanjung ke Jakarta. ''Kami menghadap Pak Chaerul di kantor Trans TV,'' sebut Iie Sumirat.

Situasi saat itu tidak menguntungkan bagi Taufik Hidayat karena Indonesia tengah mempersiapkan diri menghadapi Piala Thomas 2002. Tetapi sekali lagi, semuanya berakhir baik ketika keputusan Taufik meninggalkan tanah air tak menjadi kenyataan.

Sebuah anugerah pula, ketika akhirnya Mulyo bersedia memenuhi permintaan Taufik lewat lobi PBSI (Lutfi Hamid dan Rudy Hartono) untuk kembali ke tanah air menangani Taufik Hidayat.

''Berbagai masalah yang dihadapi Taufik membuat kami sekeluarga pusing dan frustrasi. Tetapi kemenangan di Athena menjadikan kami plong. Rasanya semua kesulitan yang pernah kami alami terbayar. Sebagai ayah Taufik saya bangga, senang menyaksikan cita-cita anak kami tercapai. Tetapi di atas segalanya ini memang anugerah Tuhan,'' kata H. Aries Haris.

Sebuah anugerah pula, karena di final Olimpiade Athena Taufik tak perlu berjuang menghadapi Lin Dan dan Bao Chunlai. ''Mereka adalah pemain yang sangat menyulitkan Taufik. Sebaliknya Peter Gade sudah uzur. Sejak awal saya yakin Taufik bisa mengatasinya,'' kata Iie Sumirat.

Bagi Iie Sumirat, pada usia 24 tahun saat ini, karier Taufik Hidayat diharapkan akan mampu mengukir namanya dengan prestasi puncak pada turnamen bergengsi All England dan Kejuaraan Dunia Bulutangkis. ''Ya, kalaupun Taufik ingin segera menikah sebagai pelatih bulutangkis kalau boleh mengusulkan sebaiknya ia menunggu hingga usia 27 tahun. Dalam tiga atau empat tahun mendatang, karier Taufik akan berada di puncak.''

Hal lain yang mengganggu Taufik adalah cedera pada lututnya, yang sejak lama sudah dideritanya. Cedera tersebut, menurut perkiraan Iie Sumirat, diawali pada cedera pinggangnya yang berhubungan dengan urat-urat kakinya. ''Setiap kali berlatih keras, cederanya pasti kambuh, tetapi pemeriksaan lebih teliti tentu perlu dilakukan.''

Secara teknik permainan Taufik sama baiknya dengan pemain top dunia manapun. Hanya setiap kali seorang pemain tampil di lapangan, faktor motivasi, kondisi serta koordinasi fisik dan mental akan memegang peranan.

Di mata Lutfi Hamid, di Athena, Taufik dan Mulyo Handoyo ternyata mampu mengatasi tuntutan itu. Karenanya pada masa mendatang, Taufik diharapkan akan tetap ditangani Mulyo sebagai pelatihnya. Don't change the winning team, jangan pisahkan lagi Taufik dan Mulyo. Di Singapura, Mulyo bisa membuat penampilan Ronald Susilo yang tak istimewa di tanah air menjadi pemain berbahaya, jadi dia bukan pelatih jelek. Apalagi bersama Taufik mereka merebut emas di Athena!. (pikiran-rakyat.com)

Berita Sosok Lainnya