Berita > Artikel

Komik Keluarga Sidek

Rabu, 19 Oktober 2005 15:16:36
7750 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh : Siti Darojah, Wartawan Republika


Para pecinta dan pengamat bulu tangkis di Indonesia tentu masih ingat dengan nama pemain bulu tangkis Malaysia pada tahun 1990-an. Mereka adalah anak-anak dari keluarga Sidek. Misbun Sidek adalah pemain tunggal yang dulu menjadi rival utama Icuk Sugiarto. Rajif dan Jailani Sidek merupakan pemain ganda. Rashid dan Abdurrahman juga menjadi pemain tunggal dan ganda. Tentu sebuah anugerah bagi keluarga yang kelima anak lelakinya terjun di bulutangkis dengan prestasi gemilang. Semuanya naik ke pentas dunia dengan kerap menggondol juara. Adalah kedua orang tuanya, H Sidek dan Hj Kinah, yang mengantar kelima puteranya ke pertandingan tingkat dunia. Selagi Bun (pangilan Misbun) dan Ajip (panggilan Rajif) masih balita, H Sidek sudah berangan-angan memiliki anak yang pandai dan cinta bulutangkis.

Dia membuat lapangan sendiri di halaman rumah. Modelnya amat sederhana. Garis pembatas lapangan dibuat dari selembar buluh bambu. Dari kampung anak-anak Sidek mentas ke pertandingan tingkat dunia. Publik di Malaysia amat bangga pada Sidek bersaudara itu. Dan mereka tak ingin pamor Sidek bersaudara sirna begitu saja. Bagaimanapun, Sidek telah mengharumkan nama Malaysia. Kisah keluarga Sidek pun dibuatkan animasinya. Berbentuk buku komik tipis, perjuangan jago bulutangkis ini diberi judul Anak-anak Sidek, Jaguh Badminton Negara. Tak terlalu istimesa pembuatan animasinya. Dibuat sekitar 25-30 halaman per edisi, cerita anak-anak Sidek dibuat dalam beberapa edisi. Harga per edisinya hanya Rm 2 atau sekitar Rp 5.000.

Dibanding harga komik anak-anak versi impor yang banyak dijual di toko buku, harga itu masih lebih murah. Komikus muda Indonesia yang sekarang membuat dan memasarkan sendiri karyanya bisa membuat gambar serupa itu. Toh, Indonesia punya Rudy Hartono yang delapan kali juara dunia (All England), dan pasangan Susi Susanti serta Alan Budi Kusuma yang pada kesempatan yang sama menggondol emas olimpiade. Mereka juga mengharumkan nama Indonesia di pentas bulutangkis dunia. Tapi di negeri ini, penghargaan pada orang-orang yang berjasa amat jarang. Terhadap Rudy Hartono dan Susi Susanti saja tidak ada sosialisasi sedemikian rupa. Padahal prestasi mereka amat gemilang membawa bendera Indonesia berkibar di pertandingan internasional.

Pemerintah Jepang sampai perlu membuat kartu telepon dan prangko bergambar Susi Susanti. Sedang di sini, nama Susi Susanti tenggelam. Jangankan dalam bentuk komik, prangko atau kartu telpon seri khusus pun belum mengabadikan nama-nama duta bangsa itu. Membuat buku biografi di Indonesia memang sudah mulai umum. Tokoh besar atau tidak, berlomba membuat biografi. Namun, biografi hanya dibaca kalangan tertentu. Anak-anak tentu akan sulit dan kurang berminat membacanya. Pesan yang ingin dismpaikan tentu sulit dicerna. Akan berbeda bila disampaikan dalam bentuk komik. Komik adalah bahasa gambar. Namun, komik menjadi hidup bukan saja karena kualitas gambar, tapi juga dialog yang disampaikan dalam bahasa singkat.

Apalagi banyak diselingi humor dan penggambarkan emosional sedih, gembira yang bisa mengasah empati anak-anak. Dalam kisah-anak-anak Sidek misalnya. Yang bertutur di awal dan tengah cerita adalah lapangan, net, kursi wasit, raket dan bola dari bulu ayam (kok). Merekalah yang bercerita tentang masing-masing karakter anak-anak Sidek mulai dari Misbun dan Rajif kecil. Lapangan badminton, raket, dan kursi wasit adalah saksi bagi perjalanan Sidek bersaudara. Karena itu, amat lazim bila merekalah yang berkisah. Dengan diselingi humor, penyampaian cerita lewat komik tampaknya cukup bisa mengenalkan anak-anak Malaysia akan prestasi yang diraih Sidek bersaudara. Cerita itu bisa memicu anak dan remaja Malaysia untuk ikut berprestasi sebagaimana para jaguh badminton yang sudah mengharumkan nama Malaysia.

Komik anak-anak Sidek juga diselingi dengan pengetahuan umum serta ajaran sosialisasi bagi anak-anak. Misalnya cara bertetangga dan kisah pohon dan hutan tertua dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak-anak. Komik anak-anak yang memberi contoh nyata seperti itu amat langka di Indonesia. Anak-anak di sini memang cukup banyak yang keranjingan komik. Tapi lebih pada komik-komik impor, seperti Dora Emon, Detektif Conan, Sinchan dan sejenisnya yang popularitasnya terbantu karena ada film animasinya di televisi. Berbeda dengan Malaysia yang komik lokal komersialnya masih hidup. Tiap bulan tidak kurang dari dua buku komik baru beredar. Salah satunya adalah APO yang dirintis oleh komikus muda Malaysia. Penyebaran komik asli Malaysia cukup baik. Coba saja kunjungi toko buku besar semacam MPH dan Kinokuniya. Semua menyajikan komik-komik berkala, seperti komik seri Datuk Lat yang memang sudah lebih dulu meroket namanya. Lewat komik, Malaysia memperkenalkan tokoh-tokohnya sendiri demi menghargai para pahlawan yang sudah menorehkan tinta emas bagi bangsanya.
( Siti Darojah Wartawan Republika )

Sumber: www.republika.co.id

Berita Artikel Lainnya