Berita > Artikel

Antara Genetika dan Bakat Olahraga

Rabu, 26 Oktober 2005 11:08:31
3360 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh: Erwin Lobo

BUAH jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini mungkin cocok diberikan kepada Christian Maldini, putra pemain sepakbola internasional Italia, Paolo Maldini. Baru-baru ini, Christian dikontrak klub raksasa AC Milan di mana ayahnya menjadi kapten kesebelasan.

Meskipun sudah diikat kontrak mengingat usianya masih begitu muda, yakni 9 tahun, Christian belum bisa menemani ayahnya tampil di lapangan hijau dan merasakan ketatnya kompetisi liga utama sepakbola Italia yakni Seri A. Ia harus memulainya dengan bermain di klub junior AC Milan.

Bagi Paolo Maldini, acara penandatanganan kontrak untuk anaknya dan klub yang kini dibelanya tersebut mengingatkan kembali proses serupa yang pernah dijalaninya 21 tahun lalu, saat dia baru berusia 16 tahun. Saat itu, Paolo Maldini muda untuk pertama kalinya memperkuat klub berjulukan Rossoneri tersebut. Oleh sebagian kalangan sepakbola, Paolo Maldini dipandang sebagai penerus ayahnya, Cessare Maldini, yang juga menjadi legenda sepakbola di Italia.

Fenomena keturunan olahraga seperti yang terjadi di keluarga Maldini bukanlah yang yang luar biasa karena cukup banyak ditemui di dunia olahraga.

Sebut saja, Jordy Cruyff, yang memperkuat Manchester United di Liga Inggris, yang merupakan anak dari legenda sepakbola Belanda, Johan Cruyff. Atau Laila Ali, yang kini juara dunia tinju wanita dan meneruskan prestasi yang pernah mengharumkan nama ayahnya, Muhammad Ali. Tak ketinggalan pula Kenny Roberts Junior yang meneruskan kiprah ayahnya Kenny Roberts di arena balap bergengsi moto gp.

Faktor Lingkungan

Ahli genetika, Prof Wahyuning Ramelan, berpendapat, banyaknya anak-anak yang mengikuti langkah orang tuanya menjadi olahragawan bukan disebabkan faktor genetik atau faktor keturunan.

Ilmu genetika sampai saat ini belum menemukan adanya hubungan gen yang mengatur soal olahraga. Yang ada paling tentang kegemukan, katanya ketika diminta tanggapan soal sejauh mana hubungan antara genetika dan bakat olahraga, Senin (24/10).

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, langkah Christian Maldini, yang mengikuti jejak ayahnya terjun di dunia sepakbola profesional, bukan karena faktor genetik, tapi lebih pada faktor lingkungan khususnya keluarga. Lingkungan dan keluarga lah menurut saya berpengaruh besar bagi Christian untuk menggeluti sepakbola, tambahnya.

Data yang dihimpun Pembaruan menyebutkan, saat ini penelitian soal hubungan teknologi genetika dan olahraga memang belum banyak. Apakah faktor gen berpengaruh terhadap keinginan dan kemampuan seseorang mengikuti jejak orangtuanya sebagai olahragawan, hinggi kini masih tanda tanya besar yang mesti dipecahkan.

Teknologi genetika yang berhubungan dengan olahraga selama ini baru sebatas meneliti sejauh mana keterkaitan gen seorang atlet dengan jenis olahraga yang ditekuninya.

Awal 2003, ilmuwan Australia dari Institut Olahraga Australia, bekerja sama dengan Universitas Sydney dan Universitas Nasional Australia meneliti 300 atlet nasional negeri Kanguru itu (termasuk 50 atlet olimpiade) dengan uji yang disebut ACTN3 Sport Gene Test.

Saat itu, atlet-atlet yang diteliti diseleksi dari berbagai cabang olahraga, dibagi menjadi dua kategori, yakni berdasarkan kecepatan/kekuatan (sprint/power) dan ketahanan (endurance). Untuk kategori sprint/power, atlet yang diteliti berasal dari olahraga judo, dan renang jarak pendek. Sedangkan untuk kategori endurance, diambil dari dayung, ski es, balap sepeda dan renang jarak jauh.

Hasil penelitian itu menemukan bahwa gen tanpa faktor varian R577X pada plasma ACTN3 berpengaruh signifikan untuk olahraga berkategori sprint/power. Artinya, kandungan protein alpha-actinin-3 yang dihasilkan plasma ACTN3 yang ada dalam gen atlet yang bersangkutan mempercepat kontraksi otot sehingga meningkatkan performa pada olahraga berkategori sprint/power. Atau dengan kata lain, atlet yang gen-nya memproduksi alpha-actinin-3 sangat kompetitif untuk olahraga berkategori sprint/power.

Sebaliknya, atlet yang di gen-nya terdapat varian R577X pada plasma ACTN3 lebih tampil maksimal untuk cabang olahraga ketahanan atau endurance.

Sumber: suarapembaruan.co.id

Berita Artikel Lainnya