Berita > Artikel

UU OLAHRAGA JILID II

Jumat, 28 Oktober 2005 13:09:59
2242 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Ignatius Sunito


Sesudah memberlakukan UUR atau tepatnya UU SKN, Undang Undang Sistem Keolahragaan Nasional bertepatan dengan Haornas, Hari Olahraga Nasional 9 September 2005. Pemerintah langsung mengobral penghargaan kepada 22 orang atlet, pelatih, guru olahraga dan 46 pengusaha. Upacara dilakukan oleh Presiden SBY sendiri.

Penghargaan melalui kementerian olahraga ini, memang masih dipertanyakan kriterianya oleh masyarakat olahraga, kecuali Taufik Hidayat, pebulutangkis yang baru saja merebut gelar juara dunia 2005. Terlebih-lebih kepada 46 orang pengusaha yang katanya dinilai sebagai pendukung prestasi olahraga. Kalau memang benar apa adanya, sungguh, betapa kecewanya para pengusaha itu karena tidak ada satu koran pun yang memuat nama-nama atau perusahaan pengusaha tersebut.

Ketika kami bertanya kepada wartawan, mengapa sampai begitu? para wartawan pun menjawab dengan enteng, kepanjangan memuat nama 46 pengusaha tersebut. Lagi pula kriterianya tidak jelas, apa reputasinya terhadap olahraga. Memang, tidak seluruhnya, tetapi beberapa malahan akan menimbulkan polemik. Biar masyarakat tanya langsung saja kepada menteri olahraga.

Demikian juga hanya selang beberapa hari berlakunya UU SKN itu, Ketua Umum KONI Pusat Agum Gumelar segera berkunjung ke markas besar IOC di Laussane, Swiss. Karena sudah terdengar desas desus bahwa peranan KONI ke dunia internasional segera akan digantikan oleh KOI, Komite Olimpiade Indonesia. Tentu, nota bene orang-orang KOI kelak yang ditunjuk adalah mereka yang dekat dengan menteri olahraga. Dalam salah satu pasal UU SKN secara jelas disebut peran KONI dan KOI.

Patut diketahui ketika Menteri Adyaksa Dault ditunjuk sebagai menpora, ia sudah didekati oleh orang-orang yang menghembuskan eliminasi dari peran KONI Pusat. KONI sebagai induk organisasi-oganisasi olahraga saja atau fungsi pembinaan, sementara hubungan internasional ke IOC adalah KOI. Sebagai NOC, National Olimpic Committee yang dalam aturan IOC, bahwa anggota IOC adalah para NOC-NOC negara.

Dalam sejarah keolahragaan Indonesia, KOI memang ada terlebih dahulu dari pada KONI karena keikutsertaan Indonesia di Olimpiade 1948. Ketika zaman Presiden Soekarno, Menteri Olahraga Maladi membentuk KOGOR, Komando Gerakan Olahraga yang menjadi cikal bakal KONI. Peran KOGOR ini besar dengan prestasi nyata di Asian Games IV/1962 di Jakarta. Indonesia berada di urutan ke-2 Asia setelah Jepang.

Ketika Soeharto menjadi presiden RI ke-2, kementerian olahraga ditiadakan dan bidang olahraga hanya ditangani pejabat direktur jenderal saja di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Fungsi KOGOR diteruskan dengan membentuk KONI yang di komandani oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sekaligus selain sebagai Ketua Umum KONI Pusat juga sebagai Ketua KOI.

Tidak ada dualisme antara KONI dan KOI, karena pembantu-pembantu Sri Sultan adalah profesional di bidangnya. Mengalami kejayaan ketika mempunyai Sekjen KONI Pusat M.F. Siregar dan Sekretaris KOI, almarhum Soeworo. Dua orang ini mempunyai pengalaman mempersiapkan atlet-atlet Indonesia ke Asian Games IV/1962, terutama peran KOI yang mendatangkan pelatih-pelatih luar negeri terutama dari AS.

Peranan pelatih-pelatih luar negeri sangat nyata terhadap prestasi yang dicapai atlet-atlet Indonesia. Program Olimpic Solidarity ini terus ditangani oleh almarhum Soeworo, karena kepercayaan Sri Sultan terhadap figur yang satu ini demikian besar. Sementara MF Siregar menjadi motor pendorong pembinaan olahraga nasional, sehingga ia diberi gelar teknokrat olahraga. Sejajar dengan para teknokrat ekonominya Soeharto, seperti Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Radius Prawiro, Ali Wardhana.

Sayang, Soeworo wafat di tahun 1979, sehingga ibarat putus pula hubungan dengan gerakan Olympic Solidarity. Sementara penggantinya tidak sepiawai almarhum. Sehingga Sri Sultan memutuskan KOI dilebur menjadi satu dengan KONI sebagai NOC, pasti sepengetahuan IOC pula. Nah KONI itu sekaligus juga anggota IOC. Dengan demikian, KOI yang dahulu gerakannya begitu lincah di ajang percaturan internasional, penggeraknya hanya satu orang saja. Sekretaris KOI almarhum Soeworo.

Maka, kalau sekarang KOI dihidupkan lagi sesuai dengan UU SKN, pelajaran sejarah keolahragaan zaman almarhum Soeworo itu harus ditekankan lagi. Kerja profesional, efisien, tidak perlu membentuk institusi a la KONI yang akhirnya hanya memboroskan anggaran negara saja. Apalagi negara kita kini lagi krisis begini.

Dan sangat ironis, di mana UU SKN berlaku justru para pembina utama olahraga banyak yang keleleran. Contoh, guru-guru olahraga Sekolah Atlet Ragunan sudah empat bulan tidak terima gaji. Ini gara-gara struktur baru bahwa mereka kini berada di bawah kementerian olahraga, bukan Depdiknas lagi. Perobahan struktur itu tidak ditindaklanjuti dengan prosedur teknis. Akibatnya periuk nasi guru-guru itu terguling.

Mungkin, nasib guru tidak penting. Pembentukan KOI dulu karena ini menyangkut anggaran yang besar. Sebab para pembisik menpora sudah melihat, bagaimana KONI Pusat yang kadang-kadang bermandikan uang tanpa pertanggunganjawab yang jelas.

Oh, guru-guru olahraga, nasibmu!


Sumber: http://www.bolanews.com/sunito/11194.php

Berita Artikel Lainnya