Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Balasan Bung Erwin Ansori atas surat Bung Rully de rully
Mundur lagi pemain Pelatnas

Selasa, 24 April 2007 22:50:59
825 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

oleh: Erwin Ansori

Kalau mendengar hal ini, saya tidak begitu bersemangat mengijinkan anak-anak saya masuk ke Pelatnas (seandainya terpilih). Saya berkhayal bila anak-anak saya memiliki prestasi yang baik, akan tetap saya pertahankan di klub-nya.

Dan yang lebih ekstrim, kalau memang dia bisa berkiprah di internasional, akan saya jadikan saja anak-anak saya WN Singapura. Yang kehidupan atlit-atlitnya lebih terjamin dan diperhatikan, dibandingkan jadi atlet di Indonesia.

Disisi lain, penghargaan yang diberikan pemerintah diharapkan mampu memberikan motivasi tersendiri bagi atlit-atlit ditanah air untuk berprestasi dan menekuni dunia olahraga.

Banyak atlit di Indonesia yang memandang pesimis masa depannya jika menekuni olahraga tertentu ditanah air ini, sudah banyak pula cerita yang kita dengar bagaimana seorang atlit terkenal dimasa tuanya hidup miskin dan tidak dihargai. Contohnya : Elyas Pical, masa tuanya cuma jadi tukang pukul, trus karena kesulitan ekonomi malah terjerumus ke bisinis narkoba.

Masalah nasionalisme, ya... memang sih jadi pertimbangan. Tapi lihat saja Mia Audina mantan atlit Indonesia, yang jadi WN Belanda dan pernah peringkat 1 dunia, kita bangsa Indonesia masih bangga terhadap prestasinya. Walaupun Mia Audina sendiri jadi takut-takut kalau ikut kejuaraan yang diselenggarakan di Indonesia. Atau Rexy Mainaki yang jadi platih di Malaysia, kita bangga kok punya orang seperti Rexy.

Kapan ya,...negeri kita bisa menghargai atlit-atlitnya.

(badminton-indonesia@yahoogroups.com)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya