Berita > Artikel

GOODBYE, TAUFIK!

Senin, 06 Maret 2006 13:52:41
1356 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh : Lilianto Apriadi

Pernikahan terheboh telah dilakukan pada Sabtu (4/2) bulan lalu. Presiden dan Wapres jadi saksi, sementara AA Gymnastiar tak kalah perannya di sana. Tidak diduga, itu terjadi di lingkungan olahraga.

Taufik Hidayat, yang jadi pelakon mempelai sang pria. Sedangkan pengantin wanita adalah Ami, putri Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar. Tidak diduga kehebohan milik komunitas olahraga, karena merupakan kejadian langka. Biasanya pesta besar seperti ini milik artis yang memang memerlukan populeritas tinggi.

Taufik, si anak Pengalengan Jawa Barat itu memang sudah masuk lingkaran selebritas. Selain punya prestasi yahud, juara Olimpiade dan Dunia bulutangkis, pergaulannya dengan artis juga mengentalkan predikat itu. Kebetulan pula cowok ganteng itu acap gonta-ganti pacar artis, seperti Nola AB Three, Deswita Maharani, dan yang terakhir entah benar atau tidak adalah Linda Rahman. Dengan Linda bahkan sampai meninggalkan kasus utang piutang.

Harapan kita, buat Taufik dan Ami, semoga langgeng sampai maut menjemput. Soal prestasi, kita juga berharap Taufik tetap prima bahkan meningkat, meraih gelar demi gelar lagi.

Untuk yang pertama, kita tidak bisa mendahului Tuhan, karena jodoh, maut, dan rezeki sudah diatur oleh-Nya. Untuk prestasi ke depan, kita bisa menebak-nebak, mampukah Taufik bertahan?

Sepanjang sejarah bulutangkis di Tanah Air, khususnya tunggal putra, tidak ada pebulutangkis yang masih sukses begitu berumahtangga. Memang ada Rudy Hartono, ketika meraih gelar ke-8 All-England saat sudah menikah. Namun, mesti diakui permainannya saat itu sudah jauh menurun.

Begitu pula dengan Liem Swie King, Icuk Sugiarto, dan Alan Budikusumah. Begitu berumahtangga, permainan mereka merosot dan akhirnya mengundurkan diri walau usia belum terlalu tua.

***

Banyak orang menilai Taufik tergolong pemain istimewa. Kalau keinginannya sedang tinggi, gelar apa saja bisa diraih. Padahal kalau dilihat dari latihannya, termasuk kurang disiplin. Bahkan menurut sebuah sumber, terkadang Taufik latihan semaunya.

Bukan soal latihan saja. Dalam pemilihan pelatih, Taufik juga telah diberikan hak istimewa. Ia hanya ingin dilatih oleh Mulyo Handoyo.

Memang selama ini, keitimewaan-keistimewaan itu dibalas oleh hasil yang spektakuler juga. Dialah, gara-gara dilatih oleh Mulyo Handoyo menyumbangkan satu-satunya medali emas Indonesia di Olimpiade 2004 Athena. Taufik juga penyumbang satu dari dua gelar juara dunia bulutangkis tahun 2005.

Namun, prestasi bukan semata diperoleh oleh keistimewaan. Apalagi dalam lingkungan olahraga. Latihan yang keras, disiplin yang tinggi, pemakaian teknologi mutakhir, menjadi ciri khas perkembangan olahraga di dunia masa kini. Itu bukan hanya untuk cabang bulutangkis, namun juga cabang-cabang lain.

Diego Maradona di lapangan sepakbola umpamanya,ia memiliki keistimewaan luar biasa. Ia menyumbangkan gelar juara Piala Dunia 1986 untuk Argentina dan juara Seri A Italia 1990 untuk klubnya, Napoli. Tapi, ia kurang menjaga kondisi supaya tetap prima. Tanpa latihan dan disiplin keras, permainannya acap menurun. Dan akhirnya ia tak punya era panjang di saat-saat usianya memasuki 30 tahun. Bahkan serangan obat-obat terlarang menyiksanya, sehingga ia harus dirawat di pusat rehabilitasi penderita narkotika.

Begitu pula dengan Johan Cruiyff, pemain Belanda dan pernah membesarkan Ajax Amsterdam. Tapi, usia mainnya sangat pendek. Sebabnya, karena ia terbilang pemain kurang disiplin walau ketrampilannya sangat istimewa. Ia gagal membawa Belanda juara Piala Dunia 1974 padahal ketika itu Tim Oranye sangat diunggulkan ketimbang tuan rumah Jerman (Barat) yang akhirnya mengalahkan mereka di final .

Namun, berbeda dengan petenis Andre Agassi. Dua kali berumahtangga, pertama dengan artis Brooke Shields dan yang kedua dengan mantan petenis Stefi Graff, di usianya yang sudah di atas kepala 3 masih berprestasi tinggi. Dia tipe pekerja keras dan disiplin tinggi.

***

Taufik Hidayat berada di mana? Seperti Maradona, Cruyff, atau Agassi?

Dia memang harus memilih. Kalau saja latihannya seperti sekarang, kita harus siap-siap mengucapkan kepada dia ”goodbye”, selamat tinggal! Prestasinya lambat laun akan menurun dan kemudian menghilang.

Apalagi lompatan semangat untuk menggapai sebuah prestasi sudah berkurang. Ketika terjun di Olimpiade Athena, ada rangsangan medali emas yang mau diraihnya. Begitu pula ketika turun di Kejuaraan Dunia 2005, ia inginkan gelar itu.

Kini apa? Piala Thomas? Sudah diraih bersama rekan-rekannya pada tahun 2000 dan 2002. Untuk materi pun, selain dirinya sudah memiliki kekayaan berupa rumah dan mobil mewah, dan sebagainya, juga keadaan sang istri yang anak jendral. Pastilah tak sedikit kekayaannya.

Yang tinggal adalah gelar juara All England dan turnamen-turnamen tingkat Asia, seperti Asian Games dan SEA Games.

Apakah turnamen-turnamen “kecil” ini mampu menjadi dorongan Taufik? Mestinya mampu. Bahkan tanpa ada turnamen-turnamen ini pun mestinya Taufik tetap terdorong untuk berprestasi tinggi, misalnya juara Olimpiade Beijing 2008 dan juara dunia lagi.

Taufik masih berusia muda, 25 tahun. Karirnya masih panjang. Gelar-gelar itu masih bisa ia rengkuh lagi. Bonus-bonus miliaran rupiah masih mungkin ia dapat.

Apalagi kini, ia benar-benar berada di lingkungan olahraga. Di pelatnas Cipayung, ia berkecimpung dengan rekan-rekan atletnya. Di rumah, pastilah sang mertua Agum Gumelar tak lepas dari pemikiran memajukan olahraga, termasuk meningkatkan prestasi menantunya.

Namun, lingkungan positif itu tak ada gunanya jika dari diri sendiri tidak memiliki keinginan kuat untuk mengubah citra selama ini. Lebih disiplin, kerja keras lagi, konsentrasi lebih tinggi lagi.

Mudah-mudahan saja pernikahan hebohnya itu benar-benar memberikan hidayah. Tidak ada lagi Taufik Hidayat yang kita kenal selama ini, meraih prestasi tinggi tapi ada embel-embel yang kurang enak didengar telinga.

Harapan kita, Taufik sekarang adalah benar-benar Taufik yang menerima hidayah. Ia seorang atlet yang penuh disiplin tinggi dalam berlatih. Ia menjadi lelaki yang setia dengan pasangannya.

Sebaliknya, istrinya adalah pendorong utama dalam berkarir. Ia membuktikan mampu juara Olimpiade dan Dunia lagi. Lebih komplet lagi kemudian merebut gelar-gelar SEA Games dan Asian Games. Predikat yang belum pernah diraih oleh pemain Indonesia mana pun

Kalau saja itu terjadi, ia akan menjadi idola luar dalam. Tak percuma Agum Gumelar memilihnya sebagai menantu.

Saya pun tak perlu mengatakan “goodbye” kepadanya. Justru sebaliknya: Luar Biasa, Taufik!

(sumber:bolanews.com)


Berita Artikel Lainnya