Berita > Artikel

Uber Cup, Sejarah Yang Terputus

Rabu, 29 Maret 2006 13:13:11
4476 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh: Ignatius Sunito

Babak kualifikasi Piala Thomas dan Uber untuk zona Asia berakhir di Jaipur, India, pekan lalu. Putra Indonesia lolos ke putaran final di Jepang 28 April- 7 Mei 2006 nanti. Sementara putri Indonesia tersisih dan terpaksa gigit jari dengan pedih. Pertama kalinya terlempar dari percaturan lambang supremasi bulutangkis dunia putri. Indonesia mengikuti 17 kali Piala Uber dari 19 kali sejak pertama kali piala itu dipertandingkan.

Sejak era Minarni, Retno Kustiyah, Cory Kawilarang dkk di tahun 1960-an, dan pernah memegangnya untuk pertama kali tahun 1975, era Theresia Widiastuty dkk, diulang tahun 1994 dan 1996, zaman Susy Susanti dkk. Jadi sejak tahun 1959, putri-putri Indonesia selalu langganan putaran final Piala Uber. Terputus tahun 2006, dengan menjadi penonton dari jarak jauh.

Di bagian putri, hasil Jaipur meloloskan wakil Asia terdiri dari Korea, Taiwan, Singapura, dan Hongkong. Nama Indonesia tak termasuk hitungan lagi di peta perbulutangkisan putri Asia. Sebuah sejarah yang terputus, sekaligus sejarah generasi yang hilang. Dan suka atau tidak suka, dominasi Cina di cabang bulutangkis tidak saja susah digoyang, bahkan semakin kokoh. Ini untuk ukuran prestasi anak-anak putri kita.

Coba kita tengok ke belakang, ketika pertama kalinya Piala Uber kita sabet melalui tangan Theresia Widiastuty, Minarni, Utami Dewi, Taty Sumirah, Regina Masli, Imelda Wiguna di tahun 1975. Sebuah perjuangan dari tahun 1959 yang dipelopori oleh Minarni Cs. Kemudian masuknya Cina langsung menjadi tembok penghalang, dan berhasil didobrak oleh Susy Susanti, Mia Audina, Yuliani Sentosa, Lili Tampi, Finarsih, Eliza Nathanael, dan Zeilin Resiana, di tahuin 1994 dan 1996.

Sejak itu prestasi puteri-puteri kita bukan saja menurun, bahkan untuk mencetak satu orang saja sekaliber Susy, Mia, sampai milenium ketiga lewat, tak satu pun muncul. Publik bulutangkis sendiri begitu asing dengan nama-nama Fransiska Ratnasari, Maria Kristin, Adrianti Firdasari, Wiwis Meilynna, Jo Novita, Greysia Polii, Lita Nurlita, Rani Mundiastuti, dan Natalia Poluakan. Semua squad Jaipur 2006. Mungkin, yang banyak dikenal adalah Lilyana Natsir, karena prestasi dunia di ganda campuran.

Bagaimana tidak asing? Bayangkan di berbagai turnamen internasional 2005 lalu, baik di kandang sendiri, kemudian di kejuaraan-kejuaraan terbuka, apa itu Malaysia, Jepang, Korea, Denmark, maupun All England, puteri-puteri Indonesia hampir tak muncul namanya di tangga-tangga terhormat. Tidak saja itu, namun jauh ke belakang sama saja.
Jangan salahkan, kalau para penggemar putri kita hanya tahu nama Susy Susanti dan Mia Audina saja, meski sekarang menjadi warga kehormatan Belanda.

Lalu, setelah squad Jaipur 2006 yang merupakan pemain inti kita, apakah di pelatnas Cipayung ada pemain pelapis? Wah, kita makin asing lagi kalau disodorkan nama-nama seperti Nitya Krishida, Nadya Melati, Rintan Apriliana, dan Juliana. Dengan catatan, oh, ternyata ada pemain-pemain pelapis.

Lalu, timbul pertanyaan, apakah ada yang salah dengan SDM dan sistem pelatihan sekaligus pelatih-pelatih bulutangkis kita? Apakah pelatih-pelatih putri kita sekarang ini, seperti Hendrawan dan Atik Juhari, sudah ketinggalan mode?

Kita ingat beberapa waktu lalu, ketika Hendrawan ditunjuk sebagai pelatih putri oleh PBSI, ketika Sutiyoso menunjuk Rudy Hartono sebagai Kabid Pembinaan PBSI, Hendrawan telah menyusun program turnamen. Namun, apa mau dikata, karena keterbatasan dana PBSI, banyak program turnamen yang tercoret. Alasannya, pemain-pemain yang sekiranya tak mampu menjadi juara, lebih baik stay saja di Cipayung.

Namun di lain pihak, Sutiyoso, Bang Yos, yang juga gubernur DKI dan sekaligus ketua umum PBSI itu, menghambur-hamburkan uang bonus kemenangan kepada pemain-pemain putra. Selain sibuk sendiri dengan sepakbolanya, di mana uang yang dihambur-hamburkan untuk Persija untuk mencapai gelar juara Liga Indonesia, tak kunjung sampai.

Padahal, dulu ketika terpilih sebagai ketua umum PBSI 2004, menggantikan Khairul Tanjung di tengah jalan, Bang Yos, berjanji sekuat tenaga untuk selain mempertahankan Piala Thomas, juga merebut Piala Uber. Hasilnya Piala Thomas hilang, Piala Uber, makin diuber makin tidak keuber. Dengan Persija uber-uberan. Lagi nasib, Bang Yos!

Maka, jangan heran, jika kini di Cipayung terjadi kegelisahan, terutama di kalangan atlet bulutangkis puteri. Sepertinya mereka ingin exodus ke negeri lain, yang sebenarnya banyak yang sudah bersedia menangkap mereka. Seperti Singapura, yang pemain-pemain bulutangkisnya import dari Cina. Timbul pemikiran mereka, karena tuntutan PBSI untuk berprestasi, tetapi kesempatan bertanding di arena internasional tidak ada.

Kesempatan menguber Piala Uber baru tahun 2008 nanti, persis waktu akhir masa bakti Sutiyoso di PBSI. Padahal tahun 2007, Bang Yos, sudah harus berhenti menjadi gubernur DKI. Lha, pertanyaan sederhana saja, dananya, mana!

Ah, gitu aja, kok, repot!

(sumber: bolanews.com)


Berita Artikel Lainnya