Berita > Artikel

Tren di Perusahaan-perusahaan Bonafide
Olahraga untuk Produktivitas Kerja

Selasa, 04 April 2006 17:58:01
2318 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh: Jeany A Aipassa

Studi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO) pada faktor-faktor risiko menyatakan, gaya hidup duduk terus-menerus dalam bekerja (sedentary) adalah satu dari 10 penyebab kematian dan kecacatan di dunia. Bahkan, lebih dari dua juta kematian setiap tahun, disebabkan oleh kurangnya aktivitas gerak atau fisik.

SEKILAS, hasil studi WHO itu tidak perlu dicemaskan. Soalnya, hampir semua kegiatan manusia, selalu melibatkan gerakan, mulai dari pembatu rumah tangga sampai direktur perusahaan, pasti bergerak saat melakukan aktivitas sehari-hari.

Tapi, bagi Anda yang seharian menghabiskan waktu untuk duduk-duduk saat bekerja, hasil studi WHO tersebut, perlu dicemaskan. Apalagi kalau Anda memiliki kebiasaan buruk, seperti merokok dan pola makan yang tidak sehat.

Pasalnya, gaya hidup dan kebiasaan tersebut, dapat menyebabkan penyakit tidak menular, seperti kelainan jantung, penyempitan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, kencing manis, berat badan lebih (obesitas), osteoporosis (tulang keropos), kanker usus, depresi, dan kecemasan.

Hasil riset WHO pada 1999 menyebutkan, lebih dari 60 persen angka kematian di dunia disebabkan oleh penyakit tidak menular. Selain itu, lebih dari 43 persen gangguan kesehatan diakibatkan oleh penyakit yang ada kaitannya dengan penyakit tidak menular.

Pada 2020, diperkirakan penyakit tidak menular akan menjadi penyebab 73 persen kematian dan 60 persen beban penyakit global. Bahkan di berbagai negara maju dan berkembang, selama lebih dari 25 tahun terakhir, penyakit tidak menular menjadi penyebab kematian nomor satu.

Yang menakutkan dari hasil riset WHO tersebut adalah kenyataan bahwa pada kebanyakan negara di seluruh dunia, sekitar 60 hingga 85 persen orang dewasa tidak cukup beraktivitas fisik dalam kegiatan sehari-hari.

Hal itu terutama dipicu kemajuan dunia teknologi yang memudahkan manusia melakukan aktivitas tanpa perlu banyak bergerak. Misalnya, menyalakan alat elektronik dengan remote control atau menggunakan lift sebagai pengganti tangga.

Kemudahan tersebut, juga merambah lingkungan pekerjaan, sehingga kebanyakan karyawan tanpa sadar menghabiskan banyak waktu untuk duduk terus-menerus saat bekerja dan kurang bergerak.

Inilah yang kemudian terdeteksi sebagai satu dari 10 penyebab kematian dan kecacatan di dunia. Bahkan, lebih dari dua juta kematian setiap tahun disebabkan oleh kurangnya aktivitas bergerak atau fisik.

Terkait dengan itu, WHO lalu menggalakkan program Move For Health atau Bergerak Agar Sehat dan Bugar sebagai tema peringatan 54 tahun Hari Kesehatan se-Dunia, pada 2002.

WHO mengajak seluruh masyarakat di dunia melakukan aktivitas fisik, terutama olahraga sebagai kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dapat meningkatkan kebugaran yang diperlukan dalam melakukan tugas atau pekerjaan, sekaligus mengurangi risiko terhadap penyakit tidak menular.

Agar aktivitas fisik bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran, WHO lalu membuat panduan. Setiap orang disarankan bergerak atau melakukan olahraga minimal 30 menit per hari.

Tujuannya, untuk menjadikan olahraga sebagai kegiatan yang dapat meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja dan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Tak dapat dimungkiri, kegiatan olahraga terbukti memberikan banyak manfaat positif bagi kesehatan fisik maupun mental. Selain memberi kebugaran dan meningkatkan kesehatan, olahraga juga dapat mengurangi stress serta membangun rasa sportivitas dan kebersamaan.

Manfaat tersebut, secara tidak langsung akan meningkatkan produktivitas kerja dan kualitas SDM. Kalau karyawan sehat, baik fisik maupun mental, semangat dan kreativitas kerja akan semakin tinggi. Rasa kebersamaan untuk memajukan perusahaan juga akan terpupuk.

Hal inilah yang menjadi pertimbangan beberapa perusahaan di Indonesia untuk memberikan perhatian kepada karyawannya untuk melakukan kegiatan olahraga. Kebanyakan adalah perusahaan asing atau perusahaan lokal yang bonafide.

Sebut saja PT Fugro Indonesia (Fugro), yang merupakan salah satu perusahaan minyak asing. Selain menyewa sarana olahraga di klub atau tempat khusus, perusahaan yang berbasis di Belanda itu, juga memberikan tunjangan khusus olahraga untuk karyawan.

Sebenarnya, perusahaan sudah menyewa fasilitas olahraga, seperti tenis lapangan dan fitness di salah satu klub yang letaknya tidak jauh dari kantor kami. Tapi sejak Oktober 2005, kami mendapat tunjangan khusus olahraga secara perorangan, kata Brenda, salah satu karyawati PT Fugro, kepada Pembaruan, di Jakarta, Selasa (28/3).

Menurut dia, perusahaan memutuskan memberikan tunjangan khusus olahraga karena mempertimbangkan minat masing-masing karyawan. Dengan tunjangan tersebut, karyawan PT Fugro diizinkan memilih jenis olahraga apa pun yang disukai, asalkan nilainya tidak lebih dari Rp 1,2 juta per tahun.

Brenda menjelaskan, tunjangan olahraga hanya akan diberikan perusahaan,jika karyawan menunjukkan bukti tanda bayar dari kegiatan olahraga yang dilakukan.

Jadi, tunjangannya harus betul-betul digunakan untuk kegiatan olahraga yang sesuai dengan daftar yang disetujui perusahaan, ujarnya.

Dia menambahkan, tunjangan tersebut, diberikan karena disesuaikan dengan Standar HSE (Health, Safety & Environment, Red) yang diterapkan Group Fugro secara internasional. Kegiatan olahraga dinilai sebagai kegiatan yang masuk dalam kategori health (sehat).

Selain kegiatan olahraga, kita juga diwajibkan medical check up setahun sekali. Perusahaan juga menyediakan penggantian biaya perawatan dan obat-obatan bagi karyawan yang sakit, ujarnya.

Hal senada dikatakan Manajer Public & Investor Relation PT Komatsu Indonesia, Petra Ho. Menurutnya, selain mewajibkan karyawan melakukan medical check up setahun sekali, perusahaan alat berat itu, juga memutuskan untuk menyediakan fasilitas olahraga.

Pertimbangannya, kesehatan bisa tercapai dengan rajin berolahraga. Jadi, kami bangun fasilitas olahraga, seperti lapangan voli dan badminton karena karyawan kami kebanyakan laki-laki. Kami juga menyewa lapangan bola dan tenis lapangan di kompleks perumahan yang dekat dengan kantor, kata Petra.

Kepedulian terhadap kesehatan karyawan, lanjutnya, juga diwujudkan dengan menyediakan tenaga dokter di klinik setiap hari kerja dan mendatangkan ahli gizi setiap enam bulan untuk memeriksa menu di kantin perusahaan itu.

(sumber:suarapembaruan.co.id)

Berita Artikel Lainnya