Berita > Artikel

Rudy Hartono,
Setelah Gagal, Apa yang Perlu Dilakukan?

Selasa, 09 Mei 2006 07:50:13
1101 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

“Jelas saya kecewa. Memang target Indonesia sampai semi- final sesuai dengan kemampuan kita. Tapi, melawan Cina di semifinal kali ini kita sebenarnya masih memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan.

Sudahlah kalau Taufik Hidayat memang tidak kita masukkan hitungan. Bagaimana mungkin mau mengalahkan Lin Dan dengan kondisi demikian? Tidak bisa mengejar bola, tidak bisa lompat melakukan smes.

Jadi pertandingan pertama itu diawali dari ganda pertama, Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto. Tidak ada alasan mereka tampil terbebani karena semua juga sudah tahu kita tak bisa mengandalkan Taufik. Di babak pertama, mereka cukuplah, tapi di babak kedua, masak sudah memimpin jauh tapi bisa dikejar Fu Haifeng/Cai Yun?

Itu artinya mereka kehilangan konsentrasi. Kaki susah bergerak, mukul salah terus. Saya tidak mau menyalah-kan satu pemain saja yang kurang siap. Buat saya sama saja.

Sama juga dengan Sony Dwi Kuncoro. Pertama kalah, lalu gim kedua sudah leading, kenapa kehilangan momen untuk bangkit? Berarti dia kehilangan konsentrasinya.

Seandainya Luluk/Alvent menang, kita masih bisa berharap pada Markis Kido/Hendra Setiawan dan Simon Santoso karena Cina menurunkan ganda baru, Xie Zhongbo /Zheng Bo, dan Simon Santoso memiliki peluang mengalahkan Chen Jin.

Kalaupun kalah, tadinya saya berharap skor kalahnya 2-3 dan tidak langsung 0-3, kalah secepat ini. Menurut saya mereka belum berusaha semaksimal mungkin. Masak satu gim pun enggak bisa ambil? Kita lihat sendiri Cina juga tegang, Li Yongbo juga tegang. Itu artinya mereka juga enggak yakin bisa menang.

Saya sedih ya, kecewa ya, tapi lantas mau apa? Masak kita mau meratapi kekalahan seperti ini terus? Evaluasi besar-besaran harus kita lakukan.

Kalau di Pelatnas Cipayung, pelatih yang bertanggung jawab pada anak buahnya. Jangan lagi ada yang mau bertanding lalu tidak latihan, tidak disiplin, cedera tidak ketahuan. Banyak yang harus diperbaiki, bukan hanya teknis, tapi terutama fisik dan mental. Harus diubah total.

Tahun 2008 Piala Thomas dan Uber diselenggarakan di Jakarta, tugas kita bisa lebih berat lagi. Kita akan melalui tahapan Asian Games 2006, Piala Sudirman 2007. Kita tidak bisa lagi mengandalkan tunggal putra satu orang saja. Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, dan para pemain pelapisnya harus kita genjot. Tugas berat sudah menanti.

Dengan kegagalan tim Piala Thomas kali ini, kalau saya diberhentikan oleh ketua umum akan saya terima.”
(Theresia Lahur dan Broto Happy W.)

Sumber:bolanews.com

Berita Artikel Lainnya