Berita > Artikel

Rexy Mainaky,
Setelah Gagal, Apa yang Perlu Dilakukan?

Selasa, 09 Mei 2006 07:51:12
1089 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

“Sebagai bekas pemain saya juga merasa prihatin dengan prestasi Indonesia di Piala Thomas. Masak dulu kita pernah juara, sekarang ke final saja tidak mampu. Saya pun merasa malu kenapa Indonesia kini diremehkan orang. Dengan kegagalan itu, rasanya PBSI harus mulai berbenah. Tentu bagian pembinaan yang paling utama. Jangan lagi pemain terus disimpan dan tidak dikirim ke kejuaraan internasional. Saya melihat regenerasi pemain Indonesia sekarang sangat lambat. Bukannya menyombongkan diri, untuk urusan regenerasi Malaysia kini lebih bagus dibanding Indonesia.

Misalnya di sektor tunggal. Setelah Markus Wijanu, Indonesia dua tahun ke depan mengandalkan siapa? Saya dengar katanya Tommy Sugiarto, namun apa dia tidak trauma karena pernah dikeluarkan dari pelatnas? Begitu juga di ganda, siapa berikutnya setelah Markis Kido/Hendra Setiawan?

Kalau ingin peremajaan PBSI berjalan mulus, pemain muda harus segera dikirim ke banyak turnamen. Jangan disimpan terus, bias-bisa busuk. Pemain muda jangan hanya dikirim ke turnamen satelit atau bintang kecil, namun juga harus ke bintang besar. Ini sekalian untuk menimba pengalaman. Memang hasilnya akan kalah, namun bicara soal pembinaan kan tidak hanya soal kalah-menang. Ada aspek lain yang berbicara.

Dulu saya dan Ricky juga selalu kalah dari ganda-ganda dunia macam Li Yongbo/Tian Bingyi, Park Joo-bong/Kim Moon-soo, atau Razif/Jalani Sidek. Namun, setelah kalah berkali-kali, saya bisa menimba ilmu dan tidak takut lagi bertemu mereka. Akhirnya, saya dan Ricky juga bisa menang atas mereka.

Yang tidak kalah penting, setelah gagal, jangan lagi ada pengurus atau ofisial yang menyalahkan pemain. Kalau kalah, seharusnya pengurus bertanggung jawab. Kekalahan itu bukan semata-mata karena atlet. Sebaliknya, pemain itu perlu diangkat, dibantu mentalnya, dan didukung.

Kritik itu penting, namun bukan untuk menjatuhkan mental atlet. Atlet pun juga harus tahu diri, setelah kalah harus lebih giat berlatih dan disiplin.

Ke depannya, PBSI harus memiliki program yang jelas. Ada planning yang mantap. Pemain mana yang akan dikirim dan dimatangkan harus diprogram sejak awal. Kalau soal dana disebut-sebut sebagai kendala, saya lihat PBSI punya banyak uang. Buktinya selalu mengumbar bonus.

Menurut saya, akan jauh lebih baik PBSI tidak usah mengumbar bonus. Dana yang ada cukup digunakan untuk pembinaan dan pengiriman pemain muda saja.

Kalau soal rencana ada pergantian pelatih, saya tidak mau campur. Itu urusan manajemen PBSI. Cuma, saya melihat pengurus PBSI sekarang kaku dan tegang terus. Saya melihat mereka kurang tulus dan dalam membina tidak dengan hati yang tulus.” (Theresia Lahur dan Broto Happy W).

Sumber:bolanews.com

Berita Artikel Lainnya