Berita > Artikel

Atlet Disanjung Kala Menang, Selanjutnya...

Kamis, 11 Agustus 2005 08:45:43
1790 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Ditangkapnya Ellyas Pical (45) karena kasus pemilikan pil ekstasi pada Rabu (13/7) silam, sontak membuat berbagai media massa menjadikannya topik sorotan. Wacana besarnya adalah nasib suram para mantan atlet. Kehidupan para pejuang nama bangsa di pentas dunia olahraga, yang tidak mendapat banyak perhatian setelah usai masa jayanya, kembali muncul ke permukaan. Profesi mantan pemegang gelar juara kelas bantam junior International Boxing Federation (IBF) di era 80-an itu sebagai tenaga keamanan di diskotek, merupakan salah satu potret nyata minimnya perhatian pemerintah untuk urusan olahraga. Di samping kurangnya dana pembinaan, jaminan kesejahteraan setelah atlet pensiun pun nyaris selalu terabaikan.

BAGI negara-negara maju, olahraga sudah jadi pengganti mesin perang. Mereka berlomba menaikkan pamor dengan mendominasi berbagai cabang olahraga. Tak ayal, para pelakunya pun, yaitu para atlet, bisa langsung menikmati pencapaian usaha keras mereka.

Tidak ragu, para atlet di luar sana untuk terjun secara penuh pada bidang olahraga yang mereka geluti. Potensi yang mereka miliki tidak jadi sia-sia.

Beda halnya di Indonesia. Risiko menjadi atlet di Indonesia sangat besar, nasibnya tidak jelas, kata Alan Budikusuma, Senin (8/8).

Mereka yang mampu mencatatkan prestasi terbaik, punya peluang untuk terjamin di hari tuanya, tapi mereka yang tak mampu akan ditinggalkan. Demikian menurut pencatat hasil fenomenal pada Olimpiade Barcelona 1992, dengan menyandingkan emas di tunggal putra dengan medali emas tunggal putri yang diraih Susi Susanti, yang kemudian menjadi istrinya itu.

Sebelum menjadi pemain bulutangkis, saya banyak belajar dari senior-senior. Bahwa tidak ada jaminan dari pemerintah untuk masa depan setelah pensiun. Jadi, saat kita mendapat kesempatan untuk masuk dalam pelatnas (pelatihan nasional), harus menggunakan waktu sebaik mungkin, ucap Alan.

Tak ada cara lain bagi altet yang sudah sepenuhnya memutuskan terjun ke dunia olahraga, kecuali berusaha keras mendapatkan prestasi terbaik. Saya menganggap bulutangkis bukan lagi sekedar olahraga, tapi pekerjaan. Saat kita masih bermain, gunakan waktu sebaik mungkin. Dengan adanya prestasi, ada pemasukan, katanya.

Tapi jelas, tak mudah untuk memutuskan sepenuhnya menjadi atlet. Teman saya, anaknya sangat berprestasi di bulutangkis. Di usia 14 tahun, dia sudah menunjukkan bakatnya dengan selalu memenangkan kejuaraan. Tapi dia kemudian lebih memilih tidak menjadi atlet, tutur Alan.

Ketiadaan jaminan yang membuat banyak bakat muda yang potensial hilang percuma. Mereka yang berprestasi memang berpeluang besar untuk mendapatkan penghargaan, penghasilan besar. Tapi dalam persaingan, selalu ada risiko kegagalan.

Alan menyebut, tak semudah itu mengatakan bahwa atlet harus membekali dirinya juga dengan ilmu tinggi. Saya sudah mencobanya sendiri, dan ternyata sulit. Ketika saya di pelatnas, bahkan dosennya yang datang ke tempat latihan, kurang apa lagi, tapi tetap saja tidak bisa, katanya.

Untuk mengejar prestasi itu, akhirnya jadi keharusan untuk mencurahkan penuh seluruh konsentrasi. Kalau sudah begitu, pilihannya cuma tinggal berhasil atau gagal, lalu terpuruk.

Mereka yang memiliki peluang kecil untuk menggapai prestasi, kata Alan, sebaiknya berpikir untuk memperdalam pendidikannya. Mempersiapkan diri menjadi pelatih, atau berganti profesi sekalipun.

Setelah pensiun saya menyadari, ternyata sangat mengerikan kondisinya. Beruntung saya mampu membuat prestasi, ujarnya.

Dia menyayangkan, tidak adanya jaminan dari pemerintah. Meski gagal meraih hasil terbaik, tapi kata Alan, diyakini hampir seluruh atlet sudah berupaya sekeras mungkin.

Alan mencontohkan, rencana pengiriman atlet ke pentas internasional belakangan ini. Mengerikan, komentar PBSI ketika memutuskan hanya akan mengirimkan 10 pemain, dari sebelumnya direncanakan 20 orang. Mereka menyebut alasannya, ngapain memberangkatkan orang yang tidak bisa menang, kata dia, menyayangkan komentar itu.

Hal itu tidak akan membangun mental para atlet untuk berusaha lebih keras. Tapi malah memicu kekhawatiran.

Untuk berhasil, mereka sudah menyerahkan sepenuhnya untuk berlatih, hingga bila gagal tak ada lagi yang akan tersisa untuk mereka. Seharusnya, kata Alan, pemerintah memberikan jaminan, apa pun hasil yang bisa diraih seorang atlet. Hingga hal tersebut bisa menambah motivasi atlet itu, karena dia sudah merasa tenang akan masa tuanya, dan dengan mudah mencurahkan konsentrasi penuh pada upayanya mendapatkan prestasi puncak.


Pendapatan Tetap

Hal yang sama juga diungkapkan ujung tombak tim sepakbola nasional, Kurniawan Dwi Yulianto, Jumat (5/8). Dia menyebut, sangat kurangnya perhatian pemerintah terhadap dunia olahraga. Terutama untuk cabang-cabang olahraga yang tidak populer. Untuk sepakbola masih lebih beruntung, karena ada kompetisi reguler, hingga para atlet bisa memiliki pendapatan tetap. Sementara tidak bagi cabang-cabang lain yang belum populer, katanya.

Apalagi sudah jadi pengetahuan umum, dana yang dibagikan pemerintah untuk dunia olahraga sangat kecil. Kekurangan dana harus ditanggung sendiri oleh para pengurusnya.

Tidak ada cara selain pemerintah memberi lebih banyak perhatian, bila mau dunia olahraga Indonesia maju. Bibit baru yang potensial akan mudah didapat, seandainya dunia olahraga bisa menjanjikan masa depan yang lebih baik.

Pembaruan/Berthus Mandey

sumber:www.suarapembaruan.com

Berita Artikel Lainnya