Berita > Artikel

Dhina, Peraih Emas The First Step to Nobel Prize 2005

Rabu, 13 Juli 2005 08:17:09
1440 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

KESEHARIAN Dhina Pramita Susanti (16) tak ubahnya gadis ABG (anak baru gede-Red) lain. Lagu-lagu Britney Spears, Mariah Carey, Christina Aguilera, dan Celine Dion selalu menemani waktu-waktu belajarnya. Siswa kelas XI (kelas II) IPA 3 SMAN 3 Semarang itu juga menyukai lagu-lagu Sheila on 7 dan Ada Band.

Ya, emang gini, nggak beda dengan anak-anak lain. Kadang juga nonton film di bioskop bersama teman-teman atau dengan ibu, ujar dia, saat Suara Merdeka menemuinya di halaman SMAN 3.

Ketika itu, sulung dari pasangan Ir H Sahid Yogasari-Ir Sustanti itu baru saja mengikuti ulangan harian mata pelajaran Kimia. Ia harus menempuh ulangan harian untuk memangkas ketertinggalan dengan teman sekelasnya. Selama beberapa bulan terakhir dia harus izin tidak mengikuti pelajaran karena persiapan ke Katowice, Polandia.

Dalam event bertajuk International Conference of Young Scientists itu, Dhina bersama Chisanty Rebecca Surya (SMA Dian Harapan Tangerang) mempresentasikan The Physics of Badminton yang meraih juara III. Pada saat yang sama, karya tulis Dhina yang berjudul Curved Motion of A Shuttlecock (Gerakan Kurva Shuttlecock dalam Bulu Tangkis) memperoleh medali emas dalam The First Step to Nobel Prize in Physics 2005.

Karya ilmiah itu mengungkapkan model yang paling baik untuk mengatasi hambatan udara dalam permainan bulutangkis.

Ya, cara belajar Dhina sungguh tak ubahnya anak lain. Suara musik selalu mengiringinya saat membuka lembar demi lembar buku-buku mata pelajaran Fisika, Kimia, Matematika dan yang lain sehari-hari.

Saya hanya bisa belajar kalau sambil mendengarkan musik. Kalau nggak musik pop, pasti Kenny G (instrumentalis saksofon-Red). Suasana yang tenang plus alunan musik, membuat belajar terasa lebih mudah, akunya.

Saat belajar, gadis yang duduk di bangku kelas II IPA 3 itu mengaku tidak terusik sama sekali dengan acara televisi yang kebanyakan mempertontonkan sinetron gaya remaja saat ini dan reality show. Saya tidak begitu suka dengan acara di TV. Terlebih, ibu mematikan pesawat TV pada pukul 19.00-21.00, ujar kakak Rhino Romadhanu Susanto itu.

Benar, di rumahnya Jl Plamongan Permai Utara I/274 sejak kecil sang ibu membiasakan Dhina dan adiknya untuk disiplin. Taat aturan dan ingat waktu. Termasuk bisa memilah waktu saat belajar, istirahat siang, nonton televisi, dan sekolah. Kendati demikian, bukan berarti keluarga Dhina anti-TV.

Dhina mengaku masih bisa menyaksikan acara kesayangannya telenovela Korea Sun Shine of Love yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta tiap pukul 17.00-18.00. Tayangan itu acap menjadi objek pembicaraan dia bersama teman-temannya di kantin sekolah. Tapi, sejak telenovela itu digantikan sinema keluarga Full House, gairah untuk menonton televisi berkurang.

Daripada menonton TV, Dhina lebih suka berlama-lama mengutak-atik komputer. Selain bisa menikmati musik kesukaannya lewat MP3, komputer bisa menjadi hiburan tersendiri baginya. Dia bisa bermain Freecell, mengutak-atik fotonya sendiri dengan Photoshop, atau berlama-lama mengedit gambar hasil shooting dari handycam.

Oya, Dhina mengaku belum ingin pacaran, mengikuti tren remaja saat ini. Saya ini tipenya terlalu berpikir untuk masa depan sehingga nggak ingin pacaran dulu. Terlebih, kalau pacaran pasti malam Minggu atau hari Minggu. Padahal itu merupakan saat-saat bisa ketemu dengan papa yang bekerja di Jakarta.

Peringkat Empat

Bagaimana komentar guru pembimbing Dhina? Sutardi SPd, guru pembimbing Dhina di SMAN 3 mengatakan, gadis itu bukan siswa yang terbaik di kelasnya. Masih banyak siswa lain yang secara akademis memiliki prestasi lebih baik kalau hanya mempertimbangkan saat nilai ujian harian atau rapor. Saat kenaikan kelas dia menduduki peringkat empat.

Tapi dia menjadi anak istimewa karena bisa memadukan mata pelajaran Fisika, Matematika, komputer, bahasa Inggris, dan kemampuan sosial yang cukup baik. Pada beberapa lomba sebelumnya, Dhina baru menjadi asisten kakak kelasnya, ujar guru lulusan Pendidikan Fisika Unnes itu.

Ditemui terpisah, Wahyu Hardyanto PhD yang menjadi mentor Dhina dalam hal penyusunan karya ilmiah juga mengungkapkan hal senada. Dosen Fisika Komputasi FMIPA Unnes itu selama beberapa bulan memang terlibat dalam pemolesan karya ilmiah Dhina. Bersama asistennya Sugiyanto SPd, Wahyu membimbing Dhina dkk dari SMAN 3. Wahyu membimbing dalam hal modeling/solusi numerik, Sugiyanto untuk komputasi, dan Sutardi untuk solusi analitik.

Ya, kemampuan Dhina sebetulnya bukan paling top. Tapi dia mampu menunjukkan semangat juang yang lebih. Itu membuktikan rumus, semangat x kemampuan = hasil, seloroh doktor lulusan Technische University (TU) Freiberg Jerman itu.

Kelebihan Dhina, kata dia, terletak pada topiknya yang merupakan persoalan Fisika yang membumi. Selain itu, dia memperoleh dukungan para guru, pembimbing, dan teman sekolahnya.

Dia termasuk mudah bekerja sama dengan teman-temannya. Umumnya, mereka memiliki talenta akademik dan penelitian yang bagus. Jadi, gampangnya, mengajar mereka jauh lebih mudah daripada memberi kuliah pada para mahasiswa. Hahaha. (Widodo Prasetyo, Achiar M Permana-41v)
sumber : www.suaramerdeka.com

Berita Artikel Lainnya