Berita > Artikel > Sportainment

Berceminlah Pada Komentator yang Benar

Senin, 25 September 2006 01:33:26
1890 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Seorang penyiar radio di Singapura, berinisial Jaf, menulis tentang Syamsul Anwar Harahap dalam sebuah website pada tanggal 11 Juni 2006 bertepatan dengan acara Piala Dunia yang lalu.

Dia menulis, Orang-orang sibuk menonton Piala Dunia, saya teringat pada Syamsul Anwar Harahap. Beliau amat saya kagumi bukan karena dia adalah legenda tinju Indonesia yang jalan hidupnya penuh inspirasi, dan patut menjadi pelajaran bagi siapa saja, tetapi karena kemampuan bertuturnya yang membuat dia saya juluki sebagai penyiar yang tak ada bandingnya.

Coba perhatikan uraian komentarnya dalam berbagai siaran sejak dia menjadi komentator tinju tahun 1980-an hingga sekarang ini. Sangat deskriptif. Dia sanggup mendeskripsikan apa yang dia lihat dalam bentuk kata-kata, dan itulah yang menggiring para pemirsa untuk terlibat secara emosional ketika mengikuti jalannya pertandingan. Orang buta sekalipun bisa menyaksikan serunya pertandingan tinju cukup dengan mendengar komentar dari Syamsul Anwar.

Tulisan itu dibuat oleh penyiar berinisial Jaf, untuk mengatakan bahwa komentator sepakbola yang dia tonton selama acara Piala Dunia yang lalu, harus belajar banyak dari Syamsul Anwar. Dengan kata lain, komentator acara sepakbola, meski mungkin syarat dengan pengetahuan tentang ilmu penyiaran, kandas di tangan penyiar otodidak.

Lalu apa kata Syamsul Anwar atas sanjungan salah seorang penyiar dari Singapura ini? Wah, saya tidak tahu sampai disanjung seperti itu. Mungkin dia benar, mungkin juga salah. Tapi tolong kirimkan juga untuk saya biar saya tahu juga, tuturnya.

Lalu apakah setelah berhasil mempromotori Chrisjon melawan Renan Acosta, Syamsul Anwar akan beralih profesi dari komentator ke promotor. Atau dengan kata lain, setelah melihat ladang promotor lebih subur dibandingkan komentator, Syamsul Anwar akan pindah menggarap sawah yang lain?

Oh tidak mungkin. Saya punya misi menjadi komentator. Bukan sekadar mengomentari begitu saja, tuturnya. Saya ingin menarik pemirsa untuk tetap mencintai tontontan olahraga tinju, agar bisa memahami seluk beluk tinju, dan semua permasalahan yang berkaitan dengan dunia itu. Orang harus lebih mencintai tinju, karena di sana ada nilai seni sekaligus kearifan manusia dalam keseluruhan aktivitas yang bernuansa keras itu, jelasnya.

Syamsul Anwar lahir di Pematangsiantar, Sumut, 1 Agustus 1952. Pendidikan Dasar hingga Menengah dihabiskan di Medan, sebelum menamatkan pendidikan di ASMI Jakarta 1977, menjadi petinju nasional yang menjuarai berbagai turnamen, sebelum menjadi komentator tinju.

Saya juga ingin mengubah image masyarakat bahwa petinju itu bisa menulis dengan baik, bukan cuma bisa menjadi Satpam saja, jelasnya.

Sumber:suarapembaruan.co.id

Berita Sportainment Lainnya