Berita > Artikel

Mereka yang Berprestasi tetapi Terlupakan

Kamis, 18 Agustus 2005 09:05:26
2369 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Sebagian besar mantan olahragawan Indonesia mengalami nasib yang hampir sama. Dipuja ketika berprestasi kemudian terlupakan atau dilupakan begitu saja setelah tidak lagi berprestasi. Tidak sedikit yang mengalami nasib naas, seperti Gurnam Singh. Pelari jarak menengah di Asian Games 1962 lalu terlunta-lunta di emperan toko di Medan. Nasib buruk serupa juga dialami oleh mantan pelari Indonesia asal NTT, Martha Kase. Peraih medali emas SEA Games ini terpaksa menjual teh botol di pinggir Stadion Utama Gelora Bung Karno. Pemain bulutangkis nasional Tati Sumirah juga demikian. Tiga puluh tahun lalu Tati Sumirah menjadi tokoh sukses tim putri Indonesia saat merebut Piala Uber. Tujuh tahun setelah itu, 1982, dia meninggalkan bulutangkis.

Dia kemudian menjadi pegawai di salah satu apotek di Jakarta karena pemiliknya terkagum-kagum pada permainannya. Namun dua tahun lalu dia mengundurkan diri dari apotek itu. Untuk menyambung hidup, Tati membuka rental play station (PS) yang terletak di rumahnya di daerah Waru Doyong, Jatinegara. Untuk bepergian, perempuan kelahiran 9 Februari 1952 ini ditemani vespa tuanya. Mujur bulan Juli lalu ia mendapat bantuan sepeda motor baru dari Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI).

Harus diakui bahwa masa depan atlet tidak jelas. Ada yang berpikir lebih baik jangan jadi atlet. Pemikiran seperti itu ada benarnya, namun tidak seluruhnya bernasib seperti itu. Buktinya banyak mantan atlet yang sukses usai mereka berhenti jadi atlet. Namun, lebih banyak lagi mantan atlet yang disia-siakan. Mereka hidup dalam kegetiran.

Pakar olahraga Indonesia, Rusli Lutan menyebutkan ada gejala generasi muda tidak tertarik lagi menjadi atlet. Alasannya, tiadanya jaminan masa depan. Orang tua ingin anaknya sekolah dengan baik daripada mempertaruhkan masa depannya dengan mandi keringat. Dengan sekolah, maka masa depan lebih cerah.

Menurut Rusli, pemerintah berkewajiban memperhatikan anak-anak bangsa yang telah berjasa, membawa Indonesia berjaya melalui olahraga. Menyinggung tentang jaminan untuk hari tua bagi pelaku olahraga, Rusli Lutan menegaskan, di Indonesia ini masih belum memberikan jaminan, sehingga banyak mantan atlet dan pelatih nasional yang tingkat kehidupannya masih jauh kesejahteraannya.

Kita tidak perlu mengambil contoh jauh-jauh. Di Korea saja sejak tahun 1972 atlet yang meraih medali diberikan jaminan berupa pensiun dan juga menggunakan produk dari perusahaan terkemukanya secara cuma-cuma seumur hidup. Sementara perusahaan di Indonesia belum menopang masalah kesejahteraan itu, ujar kepada Antara beberapa waktu lalu.

Teknokrat olahraga MF Siregar pun angkat bicara masalah ini. Namun, dia cukup yakin pemerintah Indonesia akan lebih memperhatikan masa depan atlet sehingga di masa mendatang akan lebih banyak lagi generasi muda yang menjadi olahragawan. Itu sudah dibahas dalam RUU Olahraga. Bila terwujud, maka masa depan atlet akan lebih cerah, katanya.

Siregar, yang kini menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) itu menilai, saat ini telah ada beberapa komunitas yang memperhatikan mantan atlet.

Dia menunjuk Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI) yang begitu cukup gencar dalam hal peduli terhadap mantan atlet. Terakhir, KBI memberikan bantuan berupa sepeda motor kepada pahlawan Piala Uber 1975 Tati Sumirah. Setelah pensiun dari dunia bulutangkis, pemain kebanggaan Indonesia di era 1960 hingga awal 1980-an ini menjadi pegawai di sebuah apotek. Sehari-hari, dia mengendarai vespa bututnya. Bertahun-tahun dia dilupakan orang.

Ketua Umum PB PBSI Sutiyoso pun getir melihat hal itu. Oleh karena itu, seperti dikatakan Sutiyoso usai pertandingan para legenda bulutangkis dunia di Jakarta beberapa waktu lalu, PB PBSI akan memantau atau mencari informasi mantan atlet-atlet yang telah berjasa kepada bangsa.

Saya akan meminta KBI untuk memantau mantan atlet. Kita tidak ingin hidup mereka tidak pasti setelah tidak lagi menjadi atlet. Jangan sampai mantan atlet itu hidupnya menderita, katanya.

Kasus yang masih hangat dalam benak kita, adalah ditangkapnya juara dunia tinju di era 1980-an Ellyas Pical. Petinju asal Ambon ini dijebloskan ke penjara karena kasus obat-obatan terlarang. Kita semua tidak ingin hal itu terulang di masa mendatang, tambah Sutiyoso.

Rusli Lutan mengakui, untuk meningkatkan prestasi dan reputasi atlet ini memang membutuhkan dana yang cukup besar, sementara dana yang tersedia dari pemerintah selama ini belum sepenuhnya bisa menjalankan program pembinaan olahraga itu dengan baik dan benar.

Kita semua merindukan hadirnya Undang-undang Olahraga. Semoga ia dapat menjadi acuan yang cerah untuk kemajuan olahraga.


pembaruan/bernadus wijayaka/marthen brahmanto

sumber:www.suarapembaruan.com

Berita Artikel Lainnya