Berita > Artikel

Buang Medali Asian Games

Kamis, 18 Agustus 2005 09:05:32
1739 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

BAGI seorang atlet, nilai medali dan piala tentunya sangat tinggi harganya. Karena medali atau pun piala itu merupakan buah penghargaan dari jerih payah yang dicapai seorang atlet melalui perjuangan dan kerja keras. Jadinya, penghargaan semacam itu tentunya mendapat tempat di hati sang atlet sehingga akan selalu di simpan untuk di kenang hingga masa mendatang.

Namun penghargaan itu sudah bukan merupakan kenangan yang manis buat mantan petinju nasional Rudy Siregar. Apa artinya medali, jika tidak mampu untuk membiayai hidup. Untuk Pria kelahiran Johor, Malaysia, tahun 1945 itu, medali sudah tidak ada artinya lagi, sehingga sangking kesalnya, Rudy pernah membuang medali yang dia raih.

Medali yang diraih Rudy bukan sembarangan. Medali itu adalah perunggu di cabang tinju yang direngkuhnya pada ajang Asian Games 1970 di Bangkok, Thailand. Rudy meraihnya melalui perjuangan keras dan memakan waktu yang lama. Selain medali Asian Games, mantan atlet itu juga membuang medali emas yang pernah diraihnya saat membela Sumatera Utara di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Kegetiran hidup membuat Rudy seolah mau melupakan apa yang pernah diraihnya.

Tidak ada penghargaan atau gelar pahlawan nasional yang biasa diterima seorang atlet jika mampu membuat prestasi internasional. Padahal apa yang diraih Rudy merupakan prestasi yang terbilang hebat. Petinju Indonesia yang mampu meraih medali di ajang Asian Games masih dapat di hitung dengan jari. Tetapi itulah nasib seorang mantan atlet yang hidup di Indonesia ini. Tragis! Saat masih berprestasi, tentunya dia akan diingat banyak orang. Namun setelah mundur, dia akan dilupakan.

Rudy meninggalkan dunia tinju di tahun 1980-an. Kini, dia hidup sakit-sakitan, dan sempat beberapa kali di rawat di rumah sakit. Bulan Juli kemarin misalnya, dia sempat meringkuk di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Bogor. Dia mengalami penyakit komplikasi yang cukup parah, sakit paru-paru, asam urat dan demam berdarah. Beberapa waktu lalu, dia juga pernah dirawat karena mengalami penyempitan pembuluh darah. Belum juga sembuh sakit itu, kini penyakit lain datang menghinggapinya.

Sakit yang di alami Rudy memang butuh pengeluaran dana yang besar untuk pengobatannya. Namun, berapa banyak orang yang terketuk hatinya dan mau peduli terhadap nasib mantan atlet nasional ini. Untuk dapat menghidupi kelurganya, isteri Rudy, Tati berjualan nasi di depan rumah kontrakannya di Jalan Kebon Jati, Gang Mekarsari, Rt 04/02, Sirnagalih, Ciapus, Bogor. Per hari Tati hanya mampu mengumpulkan uang hasil penjualan nasi bungkusnya, Rp 10.000 hingga 20.000.

Jumlah tersebut rasanya tidak mungkin dapat membiayai pengeluaran obat dan rumah sakit. Apalagi Rudy juga memiliki seorang putri yang kini duduk di bangku SLTP. Karena sudah putus asa dan tidak lagi punya jalan keluar, beruntung Tati dapat menghubungi mantan rekan seprofesi suaminya, yaitu Syamsul Anwar Harahap.

Mengetahui nasib mantan rekannya itu, Syamsul kemudian menghubungi Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar. Sebagai tokoh utama di dunia olahraga amatir nasional, hati Agum jelas terketuk, dan langsung menyumbangkan dana sebesar Rp 10 juta Rupiah.

Tetapi dana tersebut ternyata belum cukup. Karena Tati masih perlu membayar tagihan obat yang jumlahnya sebesar Rp 5,4 juta. Beruntung Syamsul dapat mengetuk hati rekan-rekan mantan atlet Ikatan Atlet NasionalIndonesia (IANI). Melalui IANI Rudy kembali mendapat bantuan sumbangan yang diserahkan pada tanggal28 Juni lalu sebesar Rp 5 juta. Sebagai mantan atlet yang pernah mengharumkan nama besar Indonesia di Kawasan Asia , Rudy patut mendapat perhatian pemerintah.Pasalnya petinju yang mampu meraih medali di Asian games itu hingga kini masih dihitung dengan jari, ujar Syamsul.

Tetapi meski kepahitan hidup dijalaninya, Rudy tidak pernah menyesali keputusannya untuk menjadi warga negara Indonesia. Padahal, jika dia mau, mungkin dia sudah hidup lebih baik jika tetap menjadi mantan atlet di Malaysia. Namun di dalam darahnya, sudah ada warna Merah Putih. Sudah selayaknya di bawah kepemimpinan Presiden SUsilo Bambang Yudhoyono yang mulai memperhatikan olahraga, nasib mantan atlet berprestasi sebaiknya juga di pedulikan.


PEMBARUAN/SURYA LESMANA

sumber:www.suarapembaruan.com

Berita Artikel Lainnya