Berita > Artikel

Meraih Kembali Gelar Juara Dunia

Rabu, 24 Agustus 2005 14:18:21
1443 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

MESKI awalnya mendapat kritikan tajam, strategi Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) hanya mengirim pemain yang berpeluang mencapai babak semifinal pada kejuaraan dunia bulu tangkis 2005 di Anaheim, California, AS, membuahkan hasil. Indonesia berhasil menyabet dua gelar juara, sama dengan raksasa bulu tangkis dunia, Cina.

Dalam pertandingan final yang berlangsung di Arrowhead Pond, Minggu (21/8) malam waktu setempat atau Senin (22/8) pagi WIB, pasangan ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir mengalahkan Xie Zhongbo/Zhang Yawen dari Cina. Gelar itu sangat melegakan karena sejak Christian Hadinata/Imelda Wiguna berhasil meraih juara pada tahun 1980 di Jakarta, tak satu pun pasangan ganda campuran Indonesia yang mampu mengulanginya.

Keberhasilan Indonesia semakin lengkap ketika Taufik Hidayat menumbangkan pemain nomor satu dunia asal Cina, Lin Dan. Bagi peraih medali emas olimpiade Athena ini, kini tinggal All England saja turnamen bergengsi yang belum berhasil dijuarainya. Sebenarnya, Indonesia bisa menambah gelar di nomor ganda putra. Sayangnya, pasangan Chandra Wijaya/Sigit Budiarto ditundukkan pemain tuan rumah, Tony Gunawan/Howard Bach. Tony Gunawan adalah mantan pemain Indonesia yang kini bermukim di AS. Di Sevilla (Spanyol) tahun 2001 bersama Halim Haryanto, Tony berhasil menjadi juara dunia bulu tangkis ganda putra.

KITA harus bangga dengan prestasi yang diukir Taufik dan kawan-kawannya karena prestasi tersebut jauh lebih bagus dibanding kejuaraan dunia sebelumnya tahun 2003 di Birmingham, Inggris. Saat itu tak satu gelar pun diraih. Chandra/Sigit terhenti di final oleh pasangan Denmark Lars Paaske/Jonas Rasmussen. Padahal, saat itu Indonesia turun dengan kekuatan penuh. Semua pemain yang berhasil lolos ke kejuaraan, berangkat ke Birmingham.

Belajar dari kegagalan itu, kini PB PBSI lebih selektif. Meski meloloskan 20 pemain ke Anaheim, tetapi PBSI hanya memberangkatkan 10 pemain yang berpeluang masuk semi final. Hanya Sony Dwi Kuncoro dan pasangan Flandy Limpele/Eng Hian saja yang gagal memenuhi target. Sony tumbang di babak ketiga, sedangkan Flady/Eng Hian kandas di perempat final. Kita harus memberi acungan jempol terhadap langkah PBSI tersebut. Di saat kondisi ekonomi negara sedang sulit, kebijakan mementingkan kualitas dibanding kuantitas merupakan langkah tepat.

Selain itu, kita juga harus bangga dengan keberhasilan Tony Gunawan. Meski tidak lagi bermain untuk Indonesia, keberhasilannya merupakan sumbangan besar bagi perkembangan bulu tangkis. Keberhasilan Tony/Bach diharapkan bisa lebih mempopulerkan bulu tangkis di AS. Selama ini, bulu tangkis belum mendapat tempat di masyarakat AS. Padahal, bulu tangkis sangat membutuhkan AS untuk mempengaruhi negara-negara lain yang belum mengenal bulu tangkis.

BULU tangkis juga membutuhkan per- usahaan-perusahaan raksasa AS untuk mensponsori berbagai seri grand prix yang ada sehingga bisa menyediakan prize money (hadiah uang) lebih besar. Salah satu penyebab perkembangan bulu tangkis lambat dibanding olahraga lain, menurut pemain legendaris Cina, Han Jian, karena hadiah uang yang disediakan terlalu kecil. Karena itu, kita harus siap dan berbesar hati jika ada pemain bulu tangkis Indonesia yang sukses di negara lain.

Kita juga berharap, ke depan pemerintah memperhatikan persoalan yang dihadapi dalam mengembangkan jenis olahraga yang mampu mengangkat nama Indonesia di luar negeri.

sumber:www.suarapembaruan.com


Berita Artikel Lainnya