Berita > Berita

Joko Berontak
Tolak Latih Tunggal Wanita, Mundur dari Cipayung

Senin, 16 Oktober 2006 09:46:33
1137 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

JAKARTA - Pelatnas Cipayung bergolak. Setelah pemain ganda pria Sigit Budiarto meninggalkan kawah candra-dimuka bulutangkis tanah air tersebut, kemarin giliran pelatih tunggal pria, Joko Suprianto, yang melakukan keputusan serupa.

Saya bukan lagi pelatih Pelatnas Cipayung, saya telah ber-henti, kata Joko kepada Jawa Pos kemarin.

Kenapa Joko berhenti? Pria asal Solo, Jateng, itu merasa keberadaannya di Cipayung sengaja dipinggirkan beberapa rekannya sesama pelatih dan pengurus pelatnas. Tanpa alasan yang jelas dan pembicaraan lebih dulu, dalam perte-muan di kediaman Ketua Umum PBSI, Sutiyoso, Sabtu (15/10) malam lalu, dia tiba-tiba diputuskan melatih tunggal wanita.

Kabid Binpres (Rudy Hartono, red) tidak pernah mengajak ngomong saya dalam masalah ini. Saya tidak bisa menerima keputusan tersebut, karena itu saya memutuskan berhenti, papar Joko.

Untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Joko, Hendrawan, yang sebelumnya melatih tunggal wanita, akan digeser ke tunggal pria. Posisi Hendrawan akan digantikan asistennya Sandiarto.

Sejak menjadi pemain, Joko merasakan ada pergulatan kepentingan antarbeberapa kelompok di Pelatnas Cipayung. Ketika Icuk Sugiarto meninggalkan pelatnas sekitar setahun lalu untuk menjadi staf ahli Menpora, sejak saat itu Joko me-rasa karirnya di Cipayung hanya tinggal menunggu waktu. Saya merasa sejak lama ditarget untuk meninggalkan Cipayung. Inilah puncaknya, aku Joko.

Sementara itu, Rudy menyatakan bahwa keputusan pemin-dahan Joko ke tunggal wanita dengan tujuan meningkatkan prestasi bulutangkis tanah air. Selama ini, Joko dinilai kurang mampu melahirkan juara di tunggal pria.

Dengan memberikan suasana baru di tunggal wanita, kami berharap Joko lebih baik. Eh, Joko malah mengundurkan diri. Kami tidak bisa menahannya karena dia mengaku jenuh, papar Rudy.

Namun, keputusan PBSI memindahkan Joko ke tunggal wanita menyisakan sedikit tanda tanya. Pada sektor yang tengah terpuruk seperti ganda wanita, seharusnya dibesut pelatih yang handal. Kalau selama ini Joko dinilai kurang sukses melahirkan juara, PBSI seharusnya memiliki pertim-bangan kalau hal itu malah akan membuat tunggal wanita makin terpuruk.

Pemindahan Joko memang sedikit berbau penggusuran. Seharusnya, PBSI berani mengambil sikap tegas memecat Joko jika memang dia dianggap tidak berprestasi. Sistem reward and punishment harus dilakukan secara transparan, agar setiap penghuni Pelatnas Cipayung memiliki tanggung jawab tinggi pada tugasnya.

Pengurus PBSI pun tidak seharusnya hanya pintar menuntut. Mereka harus lebih fokus dalam memberikan perhatian pada pelatih dan pemain pelatnas. Rudy yang paling bertanggung jawab pelatnas melahirkan juara, sangat jarang berkunjung ke pelatnas. Dalam satu bulan, belum tentu dia datang sekali ke sana. (ang)

Sumber:indopos.co.id

Berita Berita Lainnya