Berita > Artikel

Tony, Sebuah Perenungan bagi Kita

Jumat, 26 Agustus 2005 10:06:07
1816 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh: Yunas Santhani Azis

Satu detik hingga sehari sejak kekalahan ganda putra legendaris Indonesia, Candra Wijaya/Sigit Budiarto, pujian juga kritik berhamburan menghampiri Kompas, menilai sang penakluk, Tony Gunawan, yang bersama Howard Bach menang 15-11, 10-15, 15-11 untuk menjadi juara dunia bulu tangkis, Minggu (21/8) di California.

Banyak yang memuji pertarungan yang hebat itu dan tentu saja, Tony, aktor utama kemenangan AS. Di sisi lain yang tak kalah banyaknya, kecaman, keprihatinan, dan suara yang menyayangkan kenapa Tony, pemain dunia yang orang dan warga Indonesia, harus membela AS.

Mengapa dirinya tidak bertanding untuk negerinya? Pertanyaan yang menggugat pengunduran Tony empat tahun lalu dari pelatnas Cipayung kembali mencuat.

Pertanyaan terakhir juga memenuhi Kompas, empat tahun lalu, saat di pelataran asrama pelatnas Cipayung, Tony menyampaikan keputusannya mundur. Betapa tidak bertanya-tanya, Tony bersama Halim Haryanto saat itu adalah juara dunia, juara All England, Singapura Terbuka, finalis di beberapa kejuaraan internasional lainnya, bercokol di peringkat kedua dunia. Hanya Candra/Sigit yang menjadi saingan mereka saat itu.

Waktu itu, Tony baru 26 tahun, masih berada dalam rentang usia emas pebulu tangkis. Mengapa harus waktu itu? Kenapa tidak menunggu tiga-empat tahun lagi? Bukankah di usianya tersebut Tony masih berprestasi puncak dan dapat memberikan lebih banyak lagi bagi Indonesia, bulu tangkis Indonesia, dan dirinya sebagai atlet?

Tony bersikukuh dengan keputusannya. Yang sangat ingin dia lakukan adalah bersekolah. Dengan sekolah, dirinya yakin dapat memiliki modal untuk menjalani kehidupannya yang masih 60-an tahun lagi. Modal untuk bekerja, berkeluarga, modal menjadi masyarakat biasa.

Saya yakin ini saat yang tepat Mas. Kalau saya tunda, saya akan terlambat. Ini tak bisa ditunda lagi, kata Tony waktu itu. Tony pun mengambil studi ilmu komputer di Jakarta. Tak lama, dia ke AS, kuliah teknik komputer, menikah dengan Etty Tantri kekasihnya, dan bekerja sebagai pelatih di klub utama AS, klub Orange County. Permintaan Asosiasi Bulu Tangkis AS agar dia kembali bermain dalam rangka membangun bulu tangkis negeri itu harus dipandang kemajuan karier pekerjaan Tony.

Saat itu sungguh sulit menerima argumentasi Tony. Namun, berbulan-bulan kemudian, Kompas memahami kekeraskepalaan pemain kelahiran Surabaya, 9 April 1975, itu. Kini, betapa kita disadarkan bahwa empat tahun lalu dengan keputusannya tersebut, Tony sudah meminta sebuah perenungan bagi KONI, para pengurus olahraga, dan pemerintah negeri ini dalam memandang atlet dan olahraga. Sudah banyak media massa menulis tentang kehidupan atlet setelah tak aktif lagi mengenakan kostum Merah Putih. Kita bersyukur ada yang sukses, tetapi ternyata jauh lebih banyak yang hidupnya memprihatinkan.

Ditilik lebih jauh, ada sejumlah faktor penyebabnya. Pertama, olahraga dan atlet Indonesia bukanlah olahraga dan atlet profesional, yaitu olahraga dan atlet yang memperoleh penghasilan utama dari aktivitasnya (revenue producing sports). Bulu tangkis yang berada di level dunia pun sesungguhnya masih dalam tahap semiprofesional.

Jujur, pendapatan dari prize money dan sponsor belum bisa menghidupi atlet dan olahraga bulu tangkis. Sebagai bukti, PB PBSI tetap masih harus mencari dana donasi untuk menutup semua pengeluarannya meski telah memperoleh sponsor besar (lebih dari 1 juta dollar AS) per tahun dari sponsor.

Pebulu tangkis Eropa bahkan belum menjadikan cabang olahraga itu sebagai pekerjaan utama mereka. Ganda putra nomor satu dunia, Jens Erikssen, sehari-hari adalah pekerja sebuah perusahaan kargo, Kenneth Jonassen dan Peter Rasmussen karyawan sebuah perusahaan konsultan.

Dengan kondisi seperti itu, tidak heran bila seorang atlet Indonesia tidak memiliki cukup modal dana begitu dirinya pensiun. Banyak atlet yang mencoba menghindarinya dengan berupaya meraup penghasilan sebanyak-banyaknya selagi aktif.

Akhirnya inilah yang menjadi satu pemicu begitu tak sedapnya Pekan Olahraga Nasional. Begitu banyak perpindahan atlet dari satu daerah ke daerah yang lain.

Dalam dua perbincangan berbeda dengan dua atlet peraih medali Asian Games, keduanya memberi pengakuan mengejutkan. Dengan jujur mereka mengatakan, apa yang mereka lakukan pertama adalah untuk uang, baru kedua bagi negara. Semua terbentuk oleh pengetahuan dan kesadaran mereka akan nasib mantan atlet.

Dari banyak kasus, tabungan yang banyak pun tak menjadi penyelesaian bagi para pensiunan atlet. Pasalnya, mereka tak punya satu hal penting, kemampuan keterampilan untuk bertahan hidup sebagai anggota masyarakat.

Di bulu tangkis dan banyak cabang lainnya, atlet tinggal belasan tahun di asrama sejak kecil hingga menjelang akhir karier. Begitu pensiun di pengujung usia 20-an, jangankan modal ilmu pengetahuan untuk bekerja, pengetahuan bermasyarakat dengan tetangga pun tak cukup.

Beberapa tahun lalu, seorang pilar bulu tangkis menceritakan pengalaman waktu diperbolehkan tinggal di luar asrama karena telah berkeluarga. Sang bintang mengaku begitu takut bertemu dan disapa tetangganya. Saya tidak tahu harus bicara apa, saya takut tidak nyambung, katanya.

Keterlambatan-keterlambatan seperti itulah yang menjadi pikiran Tony empat tahun lalu. Dirinya tidak ingin terlambat untuk mengumpulkan modal hidup!

Di Istana, Rabu lalu, juara dunia Taufik Hidayat menanyakan kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono soal nasib atlet yang sudah tak lagi berprestasi karena tua dan menjelang pensiun.

Sesungguhnya, perhatian sudah harus diberikan jauh sebelum itu, apalagi bagi atlet yang sudah memberikan begitu banyak kepada Indonesia seperti Tony. Setahun setelah pebulu tangkis putri China, Gong Zichao, meraih emas Olimpiade 2000, dia mundur dengan usia belum genap 24 tahun. China mendukungnya dengan memberinya beasiswa untuk kuliah bahasa asing.

Atlet yang sudah memberi banyak bagi Indonesia sudah sepantasnya dibalas dengan mendukung mereka menempuh apa pun perjalanan yang mereka inginkan.

Ingin terus aktif sebagai atlet, kita semua harus bersyukur, ingin berjuang menjadi masyarakat biasa, harus disokong.

Persoalan bila si atlet dunia itu mundur di usia muda dan belum ada penggantinya haruslah menjadi bahan introspeksi pemerintah, KONI, pengurus, klub, dan pelatih olahraga. Mengapa kita tak juga mempunyai model pembinaan olahraga yang menjamin regenerasi atlet prestasi yang berkesinambungan? Analogi menarik tentang hal ini tampil dalam sebuah film kolosal lansiran 1990, Memphis Belle. Film tentang 10 kru pesawat pengebom B-17 Flying Fortress AS di palagan Eropa dalam Perang Dunia II.

Setelah sukses menjalankan 24 misi pengeboman, misi terakhir mereka di Eropa adalah mengebom Bremen, kota industri Jerman yang dijaga superketat. Begitu selesai menjatuhkan bom, sang kapten berkata, Kita telah terbang untuk Paman Sam, kini mari kita terbang pulang untuk diri sendiri. Pesawat pun terbang memutar kembali melewati tembakan meriam dan cegatan pesawat lawan.

Siapa pun atlet yang sudah terbang demi kehormatan negeri, berhak terbang untuk kehidupannya sendiri setelah itu.

Berita Artikel Lainnya