Berita > Artikel

Beban Target Itu Pun Terpenuhi

Senin, 29 Agustus 2005 13:32:44
1552 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak


Oleh: Bernadus Wijayaka

Luar biasa. Gelar juara, tunggal putra dan ganda campuran, diraih oleh putra bangsa Indonesia di Kejuaraan Dunia bulutangkis yang berlangsung di Anaheim, AS, 15-21 Agustus lalu.

atu gelar lagi, ganda putra melayang ke AS. Gelar perdana bagi AS di Kejuaraan Dunia tersebut, tidak terlepas dari andil dari Indonesia. Tony Gunawan, mantan andalan Indonesia, yang berpasangan dengan pemain lokal (Howard Bach), menjadi pencetak sejarah AS. Tidak hanya itu, dua figur di belakang keberhasilan mereka juga orang Indonesia, Halim Haryanto dan Ignatius Rusli. Mereka setia menunggui di pinggir lapangan untuk memberi instruksi dari babak awal hingga Tony dan Bach juara dunia.

Itu sebuah prestasi yang sangat bagus. Bandingkan dengan dua tahun lalu. Di Birmingham, Inggris, Indonesia pulang tanpa gelar satu pun. Apa yang dicapai Indonesia di Anaheim itu sama dengan yang digapai di Sevilla, 2001. Saat itu, tim Merah Putih merebut gelar dari nomor tunggal putra lewat Hendrawan dan ganda putra melalui Tony Gunawan/Halim Haryanto.

Sayang memang Indonesia tidak bisa merebut satu gelar lagi lewat ganda putra. Candra Wijaya/Sigit Budiarto telah bekerja keras. Namun, semangat menyala yang ditunjukkan Tony/Bach mampu meredam kehebatan juara dunia 1997 itu. Kita harus memberi acungan jempol kepada Tony/Howard. Mereka mampu membuka mata dunia, bahwa AS yang selama ini negara pinggiran dalam hal bulutangkis, ternyata bisa juga menjadi juara dunia.

Biarlah AS juara. Kita harus ikut bangga. Putra Indonesia bisa membesarkan bulutangkis di AS. Bahkan, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PBSI Rudy Hartono dan pelatih hebat ganda putra Christian Hadinata pun sangat bangga dengan gelar juara AS itu.

Kami melihat hal itu dari sudut positif karena mereka ikut mempopulerkan bulutangkis di dunia, termasuk AS. Tentu saja ini membanggakan dan kita sebagai orang Indonesia, ya harus bangga, kata Rudy yang ikut mendampingi tim Indonesia ke AS.

Federasi Bulutangkis Internasional (IBF), seperti dikatakan Rudy, mempunyai target sendiri, khususnya di AS. Mereka ingin olahraga tepok bulu ini semakin populer di AS. Mengingat AS selalu menjadi barometer cabang olahraga besar di Olimpiade, kata Rudy.

Maestro bulutangkis itu berpendapat, keberhasilan memboyong dua gelar dari kejuaraan dunia itu menunjukkan keberhasilan orientasi target yang dilakukannya dalam mengirim pemain bertanding di luar negeri.

Banyak orang bertanya-tanya mengapa target orientasi yang digunakan. Namun, itu terbukti. Itu kebijakan yang terbaik untuk berprestasi, meski masih ada yang tidak mencapai target, katanya.

Sebanyak 20 pebulutangkis Indonesia dinominasikan IBF untuk mengikuti kejuaraan dunia namun PB PBSI hanya mengirim 10 pemain yang dianggap dapat mencapai target minimal semifinal.

Sepuluh pemain sisanya tidak diberangkatkan termasuk seluruh pemain tunggal dan ganda putri. serta ganda putra peringkat sembilan dunia Markis Kidho/Hendra Setiawan. Banyak pihak mencibir dengan keputusan tersebut. Namun, PB PBSI tetap pada keputusannya. Bagi mereka yang tidak mencapai target dan yang kalah meski telah sampai pada targetnya, akan dievaluasi apa yang menjadi penyebab kekalahan mereka. Kita akan minta pertanggungjawaban dari pelatihnya dan akan mengambil tindakan, katanya.

Khusus bagi Sony Dwi Kuncoro dan pasangan Flandy Limpele/Eng Hian yang tidak mencapai target semifinal, Rudy menilai mereka perlu meningkatkan kekuatan fisik.

Untuk Sony, strategi juga perlu diperbaiki tetapi fisik jauh lebih penting, karena dalam kondisi fisik yang tidak turun drastis pemain masih bisa mengeluarkan teknik yang baik. Jadi fisik memegang peranan penting, ujarnya.

Flandy/Eng Hian merupakan pemain senior yang telah malang-melintang di dunia bulutangkis. Bahkan, selama beberapa tahun mereka berbendera Inggris. Mereka sudah mempunyai strategi permainan yang baik, namun kekuatan otot dan ketahanan mereka perlu ditingkatkan.

Jangan Terlena

Namun, dua gelar tersebut hendaknya tidak membuat Indonesia terlena. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam waktu dekat ini. SEA Games XXIII/2005 Filipina dan Piala Thomas dan Piala Uber, yang akan digelar di Jepang tahun depan.

Harapan kita, keberhasilan di Anaheim itu sebagai awal kebangkitan bulutangkis Indonesia yang beberapa tahun terakhir terpuruk. Keterpurukan itu antara lain melayangnya Piala Thomas di hadapan pendukung sendiri dan gagalnya merebut gelar juara Piala Sudirman di Cina lalu.

Rudy, sebagai orang pertama dalam hal pembinaan pun berharap demikian. Untuk mengangkat bulutangkis ke papan atas dunia, bukan saja PB PBSI yang harus melakukannya. Daerah harus aktif menggelar berbagai kejuaraan dengan tujuan mendapatkan bibit.

Yang menjadi pertanyaan, adalah siapa yang akan menjadi andalan dua tahun lagi di Kejuaraan Dunia. Para pemain ganda putra misalnya, akan berusia lebih dari 30 tahun. Rata-rata pemain ganda putra saat ini 30 tahun. Kecuali Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto yang lima tahun lebih muda dari mereka. Indonesia mau tidak mau harus memberi perhatian dan kepercayaan kepada pemain mudanya, seperti Hendra Setiawan/Markis Kidho yang tidak diberangkatkan ke AS dan Joko Riyadi/Hendra A Gunawan.

Rudy pun gusar dengan kenyataan itu. Indonesia tidak bisa mengandalkan mereka terus-menerus. Tidak ada gunanya kalau cuma mereka ini saja yang menjadi juara, ujar Rudy.

Belum lagi kalau Taufik mundur dari dunia bulutangkis, seperti yang dia utarakan beberapa waktu lalu. Menurut Taufik, Kejuaraan Dunia ini kemungkinan besar yang terakhir kali baginya.

Di tunggal putra, hanya ada dua pemain yang cukup menonjol di belakang Taufik, Sony Dwi Kuncoro (peringkat 20) dan Simon Santoso (41). Di luar itu, tidak ada yang bisa diandalkan sampai sejauh ini. Mereka berada di bawah peringkat 150. Prestasi Sony dan Simon sendiri tidak lah menggembirakan. Belum pernah sekali pun mereka merebut gelar di turnamen grand prix. Prestasi Sony terbaiknya, adalah dua kali juara Asia.

Sumber:www.suarapembaruan.com

Juara-juara Dunia dari Indonesia


1977 - Tjun-Tjun/Johan Wahyudi

1980 - Rudy Hartono

- Verawaty Fadjrin

- Christian Hadinata/Ade Chandra

- Christian Hadinata/Imelda Wiguna

1983 - Icuk Sugiarto

1993 - Joko Supriyanto

- Susy Susanti

- Ricky Subagja/Gunawan

1995 - Haryanto Arbi

- Rexy Mainaky/Ricky Subagja

1997 - Candra Wijaya/Sigit Budiarto

2001 - Hendrawan

- Tony Gunawan/Halim Haryanto

2005 - Taufik Hidayat

- Nova Widianto/Lilyana Natsir

Hasil Final Kejuaraan Dunia


Tunggal Putra

Taufik Hidayat (Indonesia x6) vs Lin Dan (Cina x1) 3-15, 7-15

Tunggal Putri

Xie Xingfang (Cina x2) vs Zhang Ning (Cina x1) 11-8, 9-11, 11-3

Ganda putra

Tony Gunawan/Howard Bach (AS x13) vs Candra Wijaya/Sigit Budiarto (Indonesia x2)15-11, 10-15, 15-11

Ganda putri

Yang Wei/Zhang Jiewen (Cina x1) vs Gao Ling/Huang Sui (Cina x2) 17-16, 15-7

Ganda campuran

Nova Widianto/Lilyana Natsir (Indonesia x4) vs Xie Zhongbo/Zhang Yawen (Cina x11) 13-15, 15-8, 15-2


Berita Artikel Lainnya