Berita > Artikel > Wawancara

Anthony Ginting: "Medali Perunggu Olimpiade Ini Sangat Berarti"

Kamis, 12 Agustus 2021 16:57:56
525 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Satu pekan lebih usai digelarnya ajang Olimpiade Tokyo 2020. Indonesia berhasil meraih satu medali emas dan satu medali perunggu dari cabang bulutangkis. Tradisi emas bulutangkis di ajang pesta olahraga paling bergengsi di jagat raya berhasil dipertahankan. Medali emas disumbangkan oleh pasangan ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Sementara medali perunggu disabet Anthony Sinisuka Ginting.

Medali perunggu Ginting menjadi pemuas dahaga sektor tunggal putra di ajang olimpiade setelah puasa prestasi selama 17 tahun. Sektor tunggal putra bulutangkis Indonesia terakhir menorehkan prestasinya pada Olimpiade Athena 2004, kala itu Taufik Hidayat menyumbangkan medali emas dan Sony Dwi Kuncoro menyumbangkan medali perunggu bagi Indonesia.

Torehan Ginting ini tentunya tidak hanya membanggakan bagi publik bulutangkis di Tanah Air, namun menjadi catatan sejarah tersendiri bagi perjalanan karir bulutangkis Ginting.

Ginting, atlet jebolan PB SGS PLN Bandung, bahkan tidak menyangka lompatan kariernya begitu pesat dalam waktu kurang dari 10 tahun. Simak wawancara Ginting dengan Tim Humas dan Media PP PBSI yang kami terima sore ini.

Apa rasanya sukses menggenggam sebuah medali Olimpiade?

Pasti sangat berarti, apalagi debut juga. Jadi pasti senang bisa dapat medali. Semua atlet kan ingin berpartisipasi di Olimpiade, apalagi dapat medali tuh pasti dua tiga kali lipat senangnya. Dan ini sangat berarti untuk saya pribadi, keluarga, dan Indonesia.

Ketika Olimpiade berlangsung, Ginting selalu bilang ingin menikmati semua momen yang terjadi, walaupun tahu beban yang dipikul cukup berat. Bagaimana cara mengatasi situasi itu?

Yang pertama sih pasti manage bagaimana ekspektasi saja, maksudnya saya belajar dari pertandingan yang sudah berlalu. Jangan terlalu menggebu-gebu, jangan terlalu excited tapi tidak terlalu pesimis atau santai juga. Di tengah-tengah lah jadi bisa sangat fokus menyiapkan diri sendiri. Bisa lebih kontrol diri sendiri baik di dalam maupun luar lapangan.

Lalu kemarin juga di sana memang tidak memikirkan hasil, fokusnya satu demi satu pertandingan dari hari pertama. Setelah masuk Athlete"s Village itu saya tidak mau berpikir terlalu jauh. Hari ini ya hari, besok ya besok.

Sebenarnya ada ketegangan yang berlebih tidak saat turun di Olimpiade kemarin?

Di awal-awal masih ok lah tidak terlalu berat tekanannya, tapi tetap ada tegangnya. Tegang lebih karena kan sudah lama tidak bertanding jadi ada kagok dan sebagainya. Setelah lewat pertandingan pertama, kedua, 16 besar bahkan sampai delapan besar itu saya merasa aman saja. Ketegangan malah sangat terasa di babak semifinal dan perebutan medali perunggu, terasa sekali tekanannya. Baru saya percaya yang senior-senior saya bilang bahwa Olimpiade memang sebuah turnamen yang berbeda. Padahal saya mencoba tidak memikirkan itu tapi tidak tahu kenapa perasaan itu membayangi terus. Paling kentara di luar lapangannya sih, seperti malam itu saya tidak bisa tidur, gelisah, khawatir sampai pas bangun paginya juga perasaannya masih tidak enak.

Padahal bila dilihat saat menang melawan Anders Antonsen (Denmark) di babak delapan besar, Ginting melakukan selebrasi yang emosional. Itu bukan menunjukkan kelegaan setelah didera ketegangan?

Sebenarnya sejak melawan Kanta (Tsuneyama) di 16 besar saya sudah was-was karena di pertemuan terakhir saya kalah dari dia. Tetapi Puji Tuhan saya diberikan kelancaran. Saat melawan Antonsen itu lebih karena dia agak berubah pola permainannya daripada di pertemuan-pertemuan sebelumnya. Hari itu dia bermain sabar, tidak banyak menyerang jadi saya harus cepat mencari cara untuk mengimbanginya. Fokusnya jadi berubah dan pertandingannya ketat. Bahkan di gim ketiga saya sempat tertinggal, nyusulnya baru di poin-poin kritis. Pas bisa menang, lega sih. Selebrasi itu lebih ke lega karena bisa menang dan ke semifinal.

Berbicara tentang Antonsen, setelah pertandingan Ginting berfoto dengannya. Lalu menjadi ramai di media sosial. Bisa diceritakan bagaimana foto itu terjadi?

Setelah pertandingan saya melakukan pendinginan di lapangan pemanasan. Saat itu, dia tidak ada di sana. Mungkin di player lounge atau di mana saya tidak tahu. Tiba-tiba dia datang menghampiri saya dan mengajak foto bersama. Dia juga mengucapkan selamat dan semangat untuk besoknya.

Kekalahan dari Chen Long (China) di semifinal memupus mimpi Ginting ke laga final, rasa sedih dan kecewa pasti dirasakan. Tapi di sisi lain, masih punya tugas untuk mengamankan medali perunggu keesokan harinya. Bagaimana cara Ginting untuk segera melupakan kekalahan tersebut dan kembali bangkit?

Memang setelah kalah dari Chen Long saya sangat kecewa dan sedih. Keluar lapangan saya merasa ingin menyendiri untuk menenangkan diri dulu. Tapi pelatih saya (Hendy Saputra Ho) langsung mengajak berdiskusi, dia menguatkan saya. Dia bilang masih ada kesempatan meraih medali perunggu dan mencetak sejarah. Kansnya juga besar melawan Kevin Cordon itu, jadi jangan disia-siakan kesempatannya. Kapan lagi?
Dari situ di perjalanan pulang sampai tiba di Athlete"s Village, kembali ke kamar, seharian saya coba mereset lagi fokus dan mood-nya. Anggap pertandingannya sebagai final. Walau cuma perunggu tapi semua dibawa happy saja. Besoknya saya sudah merasa lebih baik, tidak sesedih dan sekecewa kekalahan kemarin.

Tadi Ginting bilang bahwa di pertandingan perebutan medali perunggu, juga mengalami ketegangan. Ketegangan seperti apa yang dirasakan? Apakah kekalahan di semifinal masih menghantui?

Ketegangan itu lebih karena memikirkan pertandingan melawan Kevin (Cordon) ya, bukan karena saya masih memikirkan kekalahan dari Chen Long. Takut tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik sih, takut tidak bisa main lepas. Dan lawannya juga kan lagi on fire jadi agak tegang. Untungnya saya bisa manage dengan baik.

Ada perbedaan tidak rasanya mengikuti Olimpiade pertama dengan misalnya saat Ginting mengikuti Kejuaraan Dunia pertama atau All England pertama?

Sangat berbeda, kalau Kejuaraan Dunia dan All England malah rasanya seperti turnamen-turnamen biasa saja. Seperti misalnya dari berangkat, sampai di sana satu sampai dua hari latihan dan jajal lapangan, lalu mulai pertandingan. Kalau di Olimpiade kan berbeda, dari lingkungan, atmosfer juga keinginannya. Di sini ada rasa ingin yang lebih tapi bukan berarti di turnamen lain tidak ingin menang. Cuma ada rasa lebih di sini. Penantian juga panjang untuk tampil di Olimpiade.

Semua yang main di sini pasti pengorbanannya luar biasa. Bukan cuma fisik, tapi mental juga. Setelah kompetisi selesai kan ada jeda waktu dua hari sebelum saya kembali ke Jakarta, entah kenapa saya merasakan lelah yang amat sangat padahal sudah tidak bertanding.

Kami ingat di tahun 2015, Ginting berada di daftar tunggu turnamen Indonesia Terbuka, sementara dua rekan, Jonatan (Christie) dan Ihsan (Maulana Mustofa) saat itu sudah terkonfirmasi masuk. Di menit akhir Ginting akhirnya bisa ikut babak kualifikasi dan bahkan menembus babak perempatfinal. Lalu kurang dari 10 tahun setelahnya tiba-tiba bisa mendapatkan medali perunggu Asian Games 2018 dan Olimpiade Tokyo 2020. Bagaimana Ginting melihat lompatan karier tersebut?

Tidak menyangka tapi saya bersyukur karena saat masuk pelatnas, saya sempat bertemu dengan senior-senior macam Sony (Dwi Kuncoro), Simon (Santoso), Tommy (Sugiarto), dan Hayom (Dionysius Hayom Rumbaka) yang menjadi ujung tombak tunggal putra. Dari mereka saya banyak belajar. Setelah itu, seperti sudah dibukakan saja jalannya karena akhirnya saya, Jonatan dan Ihsan dipercaya menjadi ujung tombak padahal di atas kami masih ada beberapa nama yang sebenarnya punya potensi. Dan semua tidak terlepas dari peran Koh Hendry (Saputra Ho) pelatih kami.

Seperti apa pelatih menggembleng Ginting hingga bisa jadi seperti sekarang?

Saat itu dilihat dari hal dan aspek apapun, saya, Jonatan dan Ihsan memang belum siap menjadi ujung tombak. Beruntung kami punya pelatih seperti Koh Hendry yang bisa mendorong untuk naik level. Kalau bisa dibilang ya sangat keras didikan dan latihannya dari fisik, mental, dan semuanya. Karena kan memang harus cepat perkembangannya untuk bersaing di turnamen-turnamen level atas. Jadi waktu itu kami ditempa untuk tidak memikirkan menang atau kalah. Yang kami pikirkan adalah latihan dan pertandingan. Puji Tuhan sekarang sedikit-sedikit bisa sampai di titik ini.

Medali perunggu Olimpiade sudah diraih, selanjutnya apa?

Masih banyak yang mau dicapai! Ini Olimpiade saja baru perunggu, Asian Games juga perunggu. Saya masih mau lebih lagi. Bukan cuma di multievent tapi di seluruh turnamen yang saya akan ikuti. Mudah-mudahan saya bisa berkesempatan tampil di Olimpiade Paris 2024 nanti.

Karena pandemi Covid-19, Olimpade Tokyo 2020 digelar dengan banyak pembatasan dan aturan-aturan yang ketat. Mungkin ini menjadi euforia Olimpiade menjadi kurang semarak. Bila turun di Olimpiade Paris 2024, apa harapan Ginting dari segi penyelenggaraan?

Saya harap kita semua bisa segera terlepas dari pandemi ini. Memang terasa sekali hype Olimpiade di Tokyo kemarin kurang semarak. Paling terasa karena tidak ada penonton sih. Bahkan rasanya sangat berbeda dengan Asian Games dan Youth Olympic yang saya sempat ikuti. Semoga di Paris nanti, semua sudah kembali normal dan kita bisa merasakan lagi aura Olimpiade yang sebenarnya. (*)

Berita Wawancara Lainnya